Almudassir Media Centre
2018

Kisah Syeikh Burhanuddin dan Penyebaran Islam di Minangkabau
Syeikh Burhanuddin yang bernama asli Sipono (si Panuah /Samporono) bukan penduduk asli yang manaruko di Ulakan tetapi dia datang dari Guguak Sikaladi Pariangan Padang Panjang Tanah Datar ayahnya Pampak Sati Karimun merah bersuku Koto dan Ibunya Cukuik Bilang Pandai bersuku Guci yang sejak 256 tahun sebelumnya sudah merupakan daerah kerajaan Pagaruyung sekitar 30 KM ditimur Pariangan.
Neneknya bernama Puti aka Lundang keturunan Putri bangsawan kakeknya bernama Tantejo Gurhano.
Dari pasangan ini lahirlah ayahnya Pampak Sati Karimun Merah merupakan seorang Datu pandai obat.
Sementara neneknya Puti aka Lundang bersuku koto garis keturunan dari kuweak di Batu Hampar putiah lereng gunung merapi.
Kehidupan sehari hari si pono kecil tidak ubahnya seperti anak seusianya yang selalu bejajar dan bermain. namun, ada kekhususan yang setiap malam diajarkan ayahnya yaitu ilmu kebathinan dan kedigyaan bela diri silat. Dimana bekal pelajaran inilah yang dia sisipi pada pengembangan agama kelak.
Kecelakaan yang Merubah Hidup
Ada kelebihan dari sipono bahwa dia selalu tidak mau menerima apa adanya dia selalu berfikir dan bertanya dan banyak waktunya dia habiskan di bukit untuk merenung sambil menggembala kerbau sehingga suatu ketika sirangkak nan badangkang (Harimau) mengintai untuk memangsanya, namun berbekal pelajaran beladiri dari ayahnya sipono bisa mengusir harimau tersebut namun malang baginya urat kakinya putus terkena kuku sirangkak. Sehingga akibat peritiwa itu dibawanya hingga akhir hayat dan dia mendapat gelar baru oleh teman temannya si pincang.
Mula Mengenal Agama Islam
Secara garis besar agama Islam telah masuk ke Pulau Perca (Asia) dan disebarkan di Aceh 300 tahun sebelum sipono lahir. Namun, agama baru ini tidak bisa menyentuh sendi kehidupan daerah darek yang masih memeluk agama Hindu dan Budha yang kuat, namun ulama dari timur bisa menembus pedalaman Pakan Tuo batang Bangkaweh yang merupakan salah satu jalur perdagangan kala itu.
Untuk membekali keterampilan hidup, setiap hari pekan Sipono selalu dibawa ayahnya pergi ke pasar Tuo Batang Bangkaweh, disini dia dipertemukan pada seorang gujarat yang disebut dengan “Illapai” untuk belajar berniaga.
Kiranya Illapai ini memasukkan fahammnya pada Sipono dan sipono tertarik untuk mendalaminya dan sejak saat itu bermulalah perjalanan hidup si Pono.
Suatu ketika Illapai menceritakan bahwa ada guru yang lebih pandai darinya di negeri rantau pesisir Minangkabau yaitu seorang ulama dari mekah yang terkenal dengan sebutan Tuanku Madinah. Sedang mengajarkan agama Islam.
Cerita ini menarik minat sipono maka diutarakanlah niat tersebut pada Ayahnya untuk belajar agama Islam di Tapakis pada Tuanku Madinah.
Melihat semangat anak kesayangannya dan hiba membayangkan anaknya yang selalu di perolok-olok kan temannya karena pincang, maka niat tersebut dikabulkan oleh ayahnya untuk pindah sekaligus membuka lapangan usaha di daerah baru.
Berangkatlah keluarga ini 6 rombongan menyelusuri hutan mengiliri batang air melewati nagari Malalo (Singkarak) dan turun gunung sampai Nagari Asam Pulau dan terus mengiliri anak sungai Batang Anai sampai kenagari Sintuak Lubuk Aluang.
Di Sintuak, merupakan nagari yang pertama mereka tempati dan menetap di perantauan. Karena ditempat ini kehadirannya diterima, maka mulailah mereka menjalani kehidupan dengan menggembala kerbau.
Karena setiap hari kerjanya mengembala kerbau, diusianya yang kesebelas tahun maka sipono tidak banyak bergaul dengan orang lain Sehingga, dia bagaikan mengasingkan diri disamping setalian untuk menghindari cemoohan orang akan kondisi kakinya yang pincang.
Padang gembalaannya semakin hari semakin jauh dan tidak terbatas di Sintuk saja melainkan melebar sampai ke Tapakis yaitu daerah antara Sintuk dan Ulakan kini.
Dipengembalaannya di Tapakis sipono mendapat teman bermain orang ulakan yang berasal dari Tanjung Medan yang bernama Idris yang kelak diberi gelar Khatib Majolelo dan menjadi teman setianya ketika kembali dari Aceh dan menjadi tulang punggung dalam penyiaran Islam di Ulakan.
Dari si Idris inilah si pono banyak mendapat informasi tentang keberadaan Yah Yudi Syeikh Abdul Arif yang digelari Tuangku Madinah karena berasal dari Madinah Tanah Arab dan pada Syeikh ini, Sipono belajar agama Islam.
Karena kecerdasannya dan kemauannya yang kuat dalam mempelajari agama, maka dengan cepat si pono berhasil menguasai semua pelajaran yang diberikan Tuanku Madinah. Dan pada suatu jumat gurunya menyuruh sipono untuk menjadi Imam dan memimpin guru serta teman teman seperguruannya shalat berjamaah, dia berhasil melaksanakan tugas tersebut tanpa cela sehingga hati syeikh Madinah senang dan mengajaknya berbicara serius dengan mengatakan bahwa ilmu yang dimilikinya belum lengkap untuk itu sipono hendaknya pergi berguru ke Aceh menemui Syeikh Abdurrauf di Singkil.
Sekaitan dengan berkembangnya ajaran Islam di Ulakan masyarakat mulai tidak menyenangi Sipono yang imbasnya juga terhadap keluarga Pampak keseluruhan, untuk itu inisiatif sipono pergi ke Aceh disetujui ayahnya agar bisa menghindari kemarahan masyarakat yang mulai main kasar. Bahkan, ingin membunuh si pono karena ajaran islam tersebut menghalangi adat kebiasaan mereka dalam berjudi dan bersabung ayam.
Bagi orang tua kapergian sipono ke Aceh sama saja dengan kehilangan anak untuk selamanya. karena, Aceh itu jauh dan medannya sangat berat dan berbahaya sehingga kepergian sipono bagaikan pamit untuk mati yang tidak kembali lagi.
Perjalanan ke Aceh
Perjalanan ini dilepas oleh orang tua dan sahabat karibnya Idris dengan perasaan galau dan kehilangan.
Mendapati situasi seperti ini sipono berpesan jangan bersedih bahwa dia akan kembali terutama pada sahabatnya si  Idris yang berjanji akan menanti kedatangan si pono sahabatnya.
Dengan bekal keberanian dan keyakinan yang kuat untuk menambah ilmu Agama kepada Syeikh Abdurrauf di Aceh maka hutan rimba belantara  bukit barisan dia jelajahi tanpa mengenal lelah siang berteman matahari malam berselimut embun dengan bilangan hari minggu dan berganti bulan akhirnya Pakiah Pono bertemu dengan empat orang  yang juga sehaluan jalan.
Keempat orang tersebut berhenti ditepi jalan menunggu Pakiah Pono melewatinya, melihat perawakan dari ke empat orang tersebut hati Pakiah Pono sama sekali tidak ciut meski dalam hatinya bertanya tanya mengapa mereka berhenti, padahal dia sudah bersengaja berjalan lambat-lambat agar tetap berada dibelakang.
Ketika sudah dekat dengan sopan Pakiah Pono menyapa mereka sambil menghatur sambah tangan di depan dada yang dibalas dengan sopan pula oleh keempat orang tersebut dan saling bertanya darimana berasal dan kemana tujuan.
Setelah berkenalan dan mengungkap nama masa kecil serta gelar yang disandang kemudian berbincang-bincang tentang arah tujuan yang kiranya sama-sama hendak menuntut ilmu pada Syeikh Abdurrauf di Singkil Aceh.
Karena kepintaran berdiplomasi si pakiah Pono, maka atas kesepakatan mereka berlima ditunjuklah pakiah Pono menjadi pimpinan Rombongan hingga sampai di Aceh Singkil.
Adapun teman berempat yang bertemu pakiah Pono adalah Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang Batu Sangka, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh Solok, M. Nasir dari Koto Tangah Padang (Koto Panjang), Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah.
Tiba di Singkil Aceh
Pakiah Pono, Datuak Maruhun Panjang dari Padang Gantiang Batu Sangka, Sitarapang dari Kubuang Tigobaleh Solok, M. Nasir dari Koto Tangah Padang (Koto Panjang), Buyuang Mudo dari Bayang Salido Banda Sapuluah akhirnya tiba di Singkil, mereka langsung menemui Syeikh Abdurrauf di kediamanya sekaligus mengutarakan maksud kedatangan mereka berlima.
Awal mula yang menemui Syeikh Abdurrauf adalah sahabat pakiah Pono yang berempat namun mereka mengatakan kedatangan mereka berjumlah lima orang maka menyusul muncul pakiah pono yang kakinya cacat kecil sebelah akibat peristiwa masa kecil.
Melihat kedatangan pakiah Pono dengan sembah sujud berbudi Syeikh Abdurrauf teringat akan pituah gurunya bahwa nanti akan ada calon muridnya datang dari arah selatan yang nantinya akan menjadi penyuluh agama mewarisi ajarannya untuk dikembangkan dari pesisir Aceh ke selatan dimana yang satunya cacat namun pintar dan berbudi pekerti yang tinggi.
Maka tanpa ragu sang Mufti langsung menerima kelima orang ini menjadi murid dan di persilahkan masuk ke surau mengambil tempat untuk tinggal.
Alangkah gembiranya mereka kerena mendapat restu belajar dan sambil berlari mereka berebutan mengambil lokasi dimana keempat orang tersebut berebut mengambil lokasi ditiap sudut sementara si pakiah Pono tenang tidak berebut tempat sehingga dia tidak kebagian lokasi.
Melihat prilaku pakiah Pono yang bersahaja menimbulkan kagum dari sang Syeikh dan akhirnya si pakiah Pono di anjurkan tinggal di rumahnya saja.
Ma’rifat berguru:
“Murid laksana mayat ditangan yang memandikan”
Sebuah pembelajaran yang diterapkan oleh Syeikh Abdurrauf dengan mudah dipahami pakiah Pono, apalagi pakiah Pono dapat menjabarkan hakikat pelajaran tersebut dengan metoda yang bisa dipahami dengan mudah oleh orang awam.
Apalagi latar belakang pakiah Pono yang berasal dari keluarga bangsawan dan keahliannya dalam mengolah alam buah pembelajaran keras yang diberi ayahnya Pampak Sati Karimun Merah, anak Tantejo Gurhano seorang Datu sakti di Pariangan sangat berguna diterapkan di pesantren. Sehingga, Syeik Abdurrauf mempercayakan pakiah Pono untuk  mengurus keperluan pesantren, dari  membuat  dan memelihara ikan di kolam, berkebun dan kesawah juga menggembala sapi kepunyaan sang Syeikh. Hal itu dia lakukan tanpa membantah, karena pakiah Pono menyadari dalam ilmu tareqat apapun alirannya dalam menuntut ilmu “murid dihadapan guru ibarat mayat di tangan orang yang memandikannya” semakin tinggi kepatuhan seorang murid terhadap guru maka semakin tinggi keyakinannya pada dirinya sendiri. Sehingga, tanpa disadari terbuka hijab ilmu Allah dan dasar inilah yang memunculkan kejadian-kejadian yang tidak terduga terjadi.
Makanya, tiap orang yang mendalami ilmu tareqat berlainan kelebihan-kelebihan yang dia dapatkan. Karena, ilmu tersebut dia dapatkan hasil dari hijabah yang dilakukan sendiri sehingga walau dengan gurunya sekalipun penampakan kelebihan itu tidak sama.
Secara harfiah Tareqat maknanya adalah Jalan atau cara dimana dalam hal ini dinisbatkan untuk jalan mendekatkan diri pada Allah.
Ya Tuhanku, Engkaulah yang aku tuju,
Keridha’anMulah yang  aku cari,
Kuharapkan kasih sayangMu,
Serta mengharapkan menjadi hambaMu yang senantiasa cinta dan terdekat dengan Mu.
Untuk mencapai ini dalam ilmu tashauf dibutuhkan seorang mufti atau guru pembimbing yang bisa dipercaya secara lahir maupun bathin. Karena, menyangkut penyerahan kehidupan sang murid secara bulat.
Setelah penyerahan ini sang murid telah menghipnotis dirinya untuk tidak lagi menguasai dirinya secara penuh. maka, disinilah letak terbukanya hijab Allah karena sang murid hidup dalam keadaan sadar dalam ketidak sadaran dalam artian dia sadar sesadar sadarnya disaat raganya berada tidak dalam kekuasaan otak kecilnya yang penuh logika secara penuh melainkan dikuasai oleh otak besar yang memiliki gelombang penglihatan tanpa batas.
Untuk ujian kepatuhan ini Syeikh Abdurrauf menguji siswanya dengan merendahkan martabat sang siswa dengan cara menyuruhnya menyelam di kolam tempat pembuangan tinja ratusan penghuni pesantren.
Dalam ujian ini tidak seorangpun dari siswa pesantren yang mau melakukannya kecuali pakiah Pono.
Dalam hikayat, suatu hari Syeikh Abdurrauf menguji santrinya dengan memanggil dan menyuruh mereka untuk mengambil bejana yang menurut sang Syeikh jatuh di WC pesantren yang penuh kotoran manusia.
Dari sekian banyak santri hanya pakiah Pono-lah yang mau sepenuh hati menyelami WC penuh tinja tersebut tanpa memperhitungkan bau busuk kotoran dan menyerahkannya pada sang Guru setelah dia samak dan bersihkan.
Maka berbinarlah mata Sang guru karena dia mendapatkan murid yang benar-benar akan bisa mewarisi aliran ilmu yang dia pelajari dan pahami selama ini.
Ketika Syeikh Abdurrauf dapat undangan ke sebuah pulau maka dia bergegas pergi dengan beberapa santri dan berpesan pada santri yang tinggal agar menyuruh pakiah Pono menyusulnya kepulau tersebut.
Mendapat tugas dari sang guru yang dia junjung tinggi, pakiah Pono bergegas ke tepi pantai, tetapi setiba di tepi pantai dia tidak mendapat sebuah perahu-pun untuk bertolak ke pulau.
karena pakiah Pono cucu Tantejo Gurhano sang Datu ternama Pariangan, maka menguasai alam bukanlah sesuatu yang sulit apalagi dengan bekal pengetahuannya tentang sari’at Islam dan pemahamannya akan maksud kandungan Alqur’an sudah sangat mendalam dan jabaran dari ma’rifat asmaul husna sudah dia pecahkan, maka atas izin Allah dengan keyakinan penuh tubuhnya menjadi ringan seringan kapas dan dia bisa berjalan diatas air seakan-akan ada kayu penyangga yang menopangnya saat dia melangkah menuju pulau, Peristiwa ini disaksikan oleh santri baik dari daratan maupun di seberang pulau  sehingga ini menjadi salah satu kekeramatan pakiah Pono.
Kejadian serupa juga terjadi disaat pakiah Pono sedang membetulkan atap rumah dimana ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis sang Guru maka dengan seketika pakiah Pono melayang kebawah untuk menyambut kayu tersebut.
Kalau dalam ajaran ayahnya dia menggunakan ilmu Shastra-Shakuna teknik mengatasi gravitasi alam.
Salah satu peristiwa mashur yang menjadi pegangan kaum shufi adalah disaat pakiah Pono diuji ke imanannya akan godaan wanita.
Saat itu pakiah Pono disuruh menjaga anak gadis sang Guru yang lagi mekar-mekarnya dirumah, sementara Syeikh Abdurrauf pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan.
Kiranya hormon pertumbuhan pakiah Pono sedang memuncak pula, maka bangkitlah nafsunya melihat sang anak majikan yang sedang ranum menjadi tanggungannya.
Inilah perang sangat dahsyat yang dialami pakiah Pono, perang melawan hawa nafsu sendiri disaat nafsu sedang memuncak.
Untuk melawan nafsunya sendiri dia mengambil keputusan yang sangat mahal dengan pergi menjauh dan memukul alat kelaminnya dengan batu.
Bagi pakiah Pono dari pada jadi budak nafsu setan dan menjadi orang terbuang didunia dan diakhirat lebih baik menghukum alat kelamin yang menjadi sumber pemicu pelampiasan hawa nafsu.
Meski peristiwa ini disesalkan sang guru, namun itu sudah merupakan keputusan yang tidak bisa dirubah lagi dan sejak saat itu bergarislah tabir bahwa pakiah Pono tidak bisa memiliki keturunan dari darahnya dagingnya sendiri karena alat kelaminnya sudah rusak.
Cukup lama pakiah Pono menderita sakit akibat cidera alat kelaminnya dan ketika sembuh dia tetap melakukan tugas semula seperti melayani kebutuhan santri dengan bijak, mengikuti dan menyimak alur pemerintahan kesultanan Aceh yang kelak sebagai bekalnya ikut masuk menata adat istiadat dikampung halamannya.
Hal inilah yang membuat Syeikh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya.
Adapun Pembelajaran yang diterapkan Syeikh Abdurrauf pada pakiah Pono merupakan metoda baru yaitu dengan pendekatan tali bathin.
Tidak ada jarak antara santri dengan murid sehingga pelajaran yang diberikan melalui lisan dengan mudah dapat dipahami pakiah Pono apalagi cara belajarnya juga beda suasana dengan yang lain.
Dengan demikian pakiah Pono dapat menjabarkan hakikat pelajaran tersebut dengan metoda yang bisa di pahaminya.
Karena minat serta perhatiannya sungguh luar biasa, apalagi diikuti dengan daya ingatnya yang tinggi membuat pakiah Pono termasuk murid yang terpandai di antara santri lainnya.
Tidak heran Syekh Abdur Rauf mencurahkan segala ilmu yang pernah dipelajarinya, dan pakiah Pono pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dimana kesempatan tersebut dia pergunakan sebaik mungkin sehingga Ilmu syariat Islam yang bercabangkan fikih, tauhid, tasauf, nahu, sharaf, hadits, ilmu taqwim (hisab) dan juga ilmu firasat dapat dia kuasai.
Suatu ketika pakiah Pono dibawa Syeikh Abdurrauf ke surau besar dan kemudian menyuruh pakiah Pono membuka lembaran Kitab dan Syeikh Abdurrauf mengajarkannya sekali jalan dan kenyataannya seluruh isi dari kitab tersebut telah dikuasai oleh pakiah Pono.
Itulah metode pembelajaran baru yang yang diterapkan Syeikh Abdurrauf pada pakiah Pono yaitu dengan memberikan wejangan secara lisan terlebih dahulu kemudian baru membuktikannya dengan melihat isi kitab.
Dalam menuntut ilmu berbagai ujian berat di lalui pakiah Pono hingga akhirnya berhasil lulus dengan baik dan sempurna dimana syarat lulus pakiah Pono belajar dengan Syeikh Abdurrauf adalah Tajalli dengan Allah.
Man a’rafa Nafsahu
Fakad a’rafa Rabbahu,
Man a’rafa Rabbahu,
Fasaddal Jasadu
(Bila engkau mengenal dirimu
maka otomatis engkau mengenal Tuhanmu
Bila engkau mengenal Tuhanmu
Maka tiadalah berharga lagi kebendaan bagimu)
dan Ma’rifat ini didapatnya dengan berkhalwat mengkaji diri selama 40 hari di gua hulu sungai Aceh, di kaki Gunung Peusangan, sebelah selatan Beureun.
Sepulang berkhalwat dan hendak menuju pondok pesantren pakiah Pono disuruh melihat ke langit maka berbagai fenomena alam tak sadarnya terpampang disana.
Syeikh Abdurrauf menyuruh pakiah Pono menceritakan apa yang terlihat olehnya untuk didengan santri lainnya.
Pakiah Pono menceritakan bahwa ketika dia melihat ke atas terlihat olehnya 7 lapisan langit dan diatasnya terdapat bentangan tupah berisi ayat-ayat Alqur’an tempat dimana Allah memerintah Malaikat Zibril membawa Alqur’an tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.
Dan ketika dia melihat kebawah terlihat olehnya 7 lapis Pitalo bumi dengan segala isinya.
Kesemua penglihatan pakiah Pono dijabarkan oleh Syeikh Abdurrauf sehingga para santri yang lain bergetar hatinya dan mengakui betapa kerdilnya manusia itu dihadapan Allah.
Syekh Burhanuddin Kembali ke Pariaman.
Setelah dirasa cukup menerima ilmu pengetahuan dari Syeikh Abdurrauf, maka tibalah saatnya pakiah Pono dikembalikan ke Pariaman meninggalkan Aceh guna mengembangkan Agama yang dia pelajari selama ini.
Masa pendidikan itu berakhir dengan perpisahan antara guru dan murid yang berlangsung dengan penuh kasih sayang.
Menurut cerita terjadi percakapan antara Syeikh Abdur Rauf dengan Syekh Burhanuddin yang berbunyi : “Saat ini berakhirlah ketabahan dan kesungguhan hatimu menuntut ilmu tiada taranya. Suka duka belajar telah engkau lalui dengan sepenuh hati.
Berbahagialah engkau, dengan rahmat dan karunia Tuhan, telah selamat menempuh masa khalwat 40 hari lamanya.
Engkau beruntung di dunia dan berbahagia di akhirat kelak.
Sekarang pulanglah engkau ke tanah tumpah darahmu menemui ibu bapamu yang telah lama engkau tinggalkan.
Di samping itu tugas berat dan mulia menantimu untuk mengembangkan Islam di sana,” Ujar Syeikh Abdurrauf yang disambut pakiah Pono dengan kalimat hamdallah “ Alhamdulillahi Rabblil A’lamien”.
Kemudian Syeikh Abdurrauf melanjutkan, “Pulanglah kamu kenegerimu, ajarkan ilmu yang ditakdirkan Allah, kalau kamu tetap kasih, takut dan malu kepadaku, maka kamu akan mendapat hikmah, tanganmu akan dicium raja-raja, Penghulu-penghulu, dan orang besar seluruh negeri, muridmu tidak akan putus hingga akhir Zaman, dan ilmu kamu akan memberkati dunia, karena hatimu telah terbuka dan aku mendoa ke hadhirat Allah subhanahu wata’ala, semoga cahaya hatimu menyinari seluruh alam Minangkabau.
Kini, engkau, aku lepaskan.
Namun dengarkan baik-baik!
Guru di Madinah ada empat orang, yakni Syekh Ahmad al Kusasi, Syekh Qadir al Jailani, Syekh Laumawi.
Ketika aku berangkat ke tanah Jawi ini, beliau memberi amanat yang harus kusampaikan kepadamu karena itu setelah ini engkau memakai nama Burhanuddin dimana nama tersebut pemberian dari guruku Syekh Ahmad al Kusasi itu untukmu, jauh sebelum engkau berguru padaku dan ia menitipkan sepasang jubah dan kopiah.
Terimalah ini dari padaku supaya sempurna amanat yang kubawa dan suatu kemuliaan bagi engkau dengan sepasang pakaian ini tanda Ijasah kebesaran ilmu yang penuh di dadamu!”. Demikian isi perbincangan mereka.
Kejadian itu terjadi sekitar Tahun 1686 M. dimana merupakan hari Keberangkatan pakiah Pono yang kini sudah bergelar Syeikh Burhanuddin untuk meninggalkan mesjid Singkil selama-lamanya.
Pakiah Pono alias Syeikh Burhanuddin dilepas Syeikh Abdurrauf dengan sebuah taufah dan membekalinya perahu disertai 70 orang yang akan mengawalnya selama dalam perjalanan.
Rombongan ini dipimpin oleh seorang panglima yang bernama Katik Sangko berasal dari Mudiak Padang Tandikek yang berlayar dengan tentara Hindu Rupik dan kemudian menuntut ilmu pada Syeikh Abdurrauf kini dia diminta untuk mengantarkan Syeikh Burhanuddin sampai di kampung halamannya.
Alasan Syeikh Abdurrauf membekali Syeikh Burhanuddin pengawal karena dia yakin nanti akan mendapat tantangan berat. sebab, kala itu masyarakat Pariaman masih kental memeluk agama Hindu Budha sehingga banyak tukang –tukang sihir akan merintangi, karena mereka tidak senang kesenangannya di usik dan di ganti.
Setelah bertolak dari Aceh rombongan Syeikh Burhanuddin singgah di Gunung Sitoli untuk menambah bekal air minum, maka disitu rombongan menggali sumur yang airnya tidak payau layaknya air dekat tepi Pantai melainkan bagai air pergunungan.
Setelah selesai shalat dan perbekalan dicukupkan, maka rombongan Syeikh Burhanuddin bertolak kembali menuju Pariaman.
Menurut hikayat sumur yang ditinggalkan itu dijadikan orang sebagai tempat berobat, maka bernamalah dia menjadi sumur niaik dan kemudian oleh perubahan dialek menjadi sumur nieh dan pulaunya dinamakan Pulau Nieh (kini namanya Kepulauan Nias).
Jauh berlayar akhirnya rombongan Syeikh Burhanuddin tiba di pulau Angso dimuka pantai Pariaman dan istirahat selama dua hari, kiranya selama itu pecah berita dimasyarakat bahwa ada rombongan kapal Aceh yang datang merapat di Pulau, nama panglimanya Katik Sangko membawa seorang yang bergelar Syeikh Burhanuddin dengan tujuan untuk mengembangkan agama baru.
Berita dari nelayan ini menyulut kemarahan tukang sihir, sehingga mereka mengeluarkan segala kepandaiannya untuk mengusir rombongan Syeikh Burhanuddin.
Hiruk pikuk kemarahan para tukang sihir tidak membuat gentar Katik Sangko, dia tetap menjalankan perintah gurunya mengantar Syeikh Burhanuddin ke Pariaman dengan selamat maka didayungnya kapal ke pantai.
Dipantai kedatangan mereka tidak disambut dengan baik, mereka ditolak sebelum mereka meyampaikan maksud kedatangannya.maka, terjadilah perkelahian yang memakan banyak korban baik dari Rombongan Katik Sangko maupun pihak penyihir, tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Ulakan yaitu tempat penolakan kedatangan Rombongan Syeikh Burhanuddin.
Berita perkelahian yang memakan korban ini sampai ke basa nan barampek di Tandikek Tujuh Koto, sehingga mereka segera menyusul untuk menangkap Katik Sangko.
Dugaan mereka salah kiranya, rombongan Katik Sangko sangat kuat, sehingga tiga dari keempat basa tersebut yaitu Gagak Tangah Padang, Sihujan Paneh, dan si Wama mati.
Peristiwa ini membuat Kalik-Kalik jantan gelap mata sementara rombonyan Katik Sangko juga banyak yang tewas.
Karena mengetahui Kalik-kalik jantan kebal terhadap senjata tajam, akhirnya Katik Sangko yang melapor pada Syeikh Burhanuddin. Oleh Syeikh Burhanuddin Katik Sangko disuruh kembali ke Aceh melapor pada Syeikh Abdurrauf tentang kejadian ini dan minta petunjuk. Bagaimana mengalahkan Kalik-kalik Jantan.
Oleh Syeikh Abdurrauf Katik Sangko diajarkan cara menghilangkan ilmu kebal Kalik-kalik Jantan dan 150 bala bantuan yang lebih berpengalaman dalam berperang dikirim.
Setelah bantuan tiba di pulau Angso, Syeikh Burhanuddin memerintahkan kembali menyerang dari pantai Pariaman dipagi hari. Maka, pertempuran kembali pecah dan kali ini Kalik Kalik Jantan membuat tameng rakyat sebagai pelindung, namun dia bisa didesak mundur hingga ke hulu batang Mangau di tepi hutan Tandikek Tujuh Koto. disitu rombongan Kalik Kalik jantan terdesak, namun berusaha bertahan dan akhirnya terbunuh oleh Katik Sangko.
Dan tempat pertahanan terakhir kalik-kalik Jantan itu diberi nama Koto Nan Alah.
Tewasnya Kalik-kalik jantan berdampak pada menyerahnya pengikut Kalik-kalik jantan di seluruh Pariaman, selanjutnya Katik Sangko dinobatkan menjadi Mufti di Tandikek.
Setelah merasa aman Syeikh Burhanuddin mulai mencari informasi tentang keberadaan kawan karibnya yang kiranya telah diangkat menjadi pemuka masyarakat dengan gelar Majolelo.
Maka melalui nelayan yang singgah dipulau, Syeikh Burhanuddin mengirim pesan pada Idris bahwa dia adalah si Pono yang dahulu pergi belajar ke Aceh.
Mendapat informasi bahwa yang datang adalah si Pono yang kini bergelar Syeikh Burhanuddin, maka Idris Majolelo mengajak Ninik Mamak, pemuka adat sanak kerabat dan tokoh masyarakat untuk menjemputnnya, karena mereka sudah mendengar makan tangan pasukan yang membawa Syeikh Burhanuddin, maka melalui pantai Pariaman Syeikh Burhanuddin di jemput.
Pertemuan Antara Teman Karib Berlangsung Haru
Sesaat kemudian mereka berangkat ke Padang Langgundi, Ulakan. Di sanalah mereka bermalam.
Sebagai tanda kenang-kenangan kembali dari menuntut ilmu, Syeikh Burhanuddin menanam ranting pinago biru yang dibawa dari Aceh. Beliau berpesan kepada Idris Majo Lelo bila ajal sampai kelak ia minta dikuburkan dekat pinago biru ini.
Kemudian, Idris Majo Lelo membawa Syeikh Burhanuddin ke Tanjung Medan dan dalam perjalanan Idris Majo Lelo menceritakan keadaan orang tua Syeikh Burhanuddin yang telah lama meninggal dan telah diselenggarakan dengan baik, namun demikian jauh sebelum meninggal kakak Syekh Burhanuddin yang telah manaruko membuka pintalak di Koto Panjang bersama dengan temannya kaum suku Panyalai sehingga dimana ada pintalak suku Guci disitu ada pintalak suku Panyalai demikian kedekatan suku ini di Koto Panjang dan oleh karena Idris Majo Lelo menjemput teman seperguruan dan sepermainanya si Pono yang kini telah menjadi Syeikh bergelar Burhanuddin maka dipertemukanlah si Pono dengan kakaknya di rumah tarukonya di Koto Panjang dan saudara beradik kakak ini berbagi sejarah maka disitulah Syekh Burhanuddin menetap seterusnya yaitu pada sebuah bangunan satu satunya dari kayu yang beratap bagonjong mirip rumahnya di Guguk Sikaladi Pariangan.
Setelah berehat dirumah maka berangkatlah ke Tanjung Medan yang jaraknya hanya se pematang saja dari rumah kakaknya, sesampai di Tanjung Medan upacara penyambutan kedatangan Syeikh Burhanuddin berlangsung meriah, Syeikh Burhanuddin diberi tanah wakaf dan di dirikanlah sebuah Surau untuk tempat mengajar.
Kedatangan Syeikh Burhanuddin membuat nagari menjadi bergairah, Santri awalnya hanyalah kaum keluarga Syeikh dan kerabat Idris Majolelo.
Untuk memudahkan pengembangan syi’ar agama, Syeikh Burhanuddin meminta masyarakat agar membawa anaknya ke surau untuk bermain bersamanya. Disinilah cikal bakal pengembangan ilmu agama yang dilakukan oleh Syeikh Burhanuddin.
Sistim pembelajaran yang dilakukan Syeikh Burhanuddin tidak seperti biasa, dia melakukannya sambil bermain, semua permainan yang ada dimasyarakat saat itu dia ikuti, dari sepak Rago, main gundu dan layang-layang semua dilakoninya, namun setiap memulai permain dia selalu membaca basmallah dan doa-doa lain yang membuat dia menang hal ini menimbulkan minat anak –anak untuk mengetahui dan belajar apa isi doa yang dibaca Syeikh Burhanuddin menjadi tinggi, dan setelah murid-muridnya semakin banyak maka atas musyawarah kaum Koto secara gotong royong dibuatkan masyarakatlah sebuah surau tempat Syeikh Burhanuddin mengajar lokasinya juga di Tanjung Medan tanah milik Idris Majolelo yang juga diwakafkan.
Perjanjian Bukit Marapalam
Mashurnya kegiatan Syekh Burhanuddin di Ulakan ini meluas sampai ke daerah lain, dari Gadur Pakandangan, Sicincin, Kapalo Hilalang, Guguk Kayu Tanam, Pariangan Padang Panjang sampai ke Basa Ampek Balai dan raja Pagaruyung sendiri tersintak mendengar berita ini.
Seluruh Alam Minangkabau menjadi goncang, perhatian dan perbincangan masyarakat tertuju ke Ulakan sebagai pusat pendidikan dan penyiaran Islam.
Untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Minangkabau cara yang dilakukan Syeikh Burhanuddin ialah meniru cara Gurunya Syeikh Abdurrauf, dengan memakai kuasa dan restu Raja Pagaruyung.
Apa bila Raja telah bisa diyakinkan tentang kebenaran agama Islam maka Alam Minangkabau akan mudah dipengaruhi.
Mungkin sudah kehendak hiradat Allah, salah seorang temannya ketika belajar di Aceh yaitu Datuk Maruhum Basa, diangkat oleh Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung sebagai Tuan Kadhi di Padang Ganting.
Dengan diiringkan oleh Idris Majo Lelo, Syekh Burhanuddin menemui Raja Ulakan yang bergelar Mangkuto Alam untuk menyampaikan niatnya memperluas ruang lingkup kegiatan dakwah, niat ini diterima baik oleh Mangkuto Alam setelah dimusyawarahkan dengan “Urang Nan Sabaleh” di Ulakan.
Akhirnya Syekh Burhanuddin, Idris Majo Lelo, Mangkuto Alam dan Urang Nan Sabaleh Ulakan dengan diiringi hulubalang seperlunya berangkat menghadap Daulat Yang Dipertuan Raja pagaruyung.
Pertama sekali yang ditemui adalah Datuk Bandaharo di Sungai Tarab untuk minta petunjuk. Dan atas inisiatif Datuk Bandaro diundanglah para basa ampek balai untuk membicarakan maksud dan tujuan “orang Ulakan” yang minta izin untuk menyebarluaskan ajaran Islam di Minangkabau.
Datuak Bandaro memilih sidang, diadakan di sebuah bukit yang dikenal dengan nama “Bukit Marapalam”.
Dari pertemuan tersebut disepakati yang intinya kedua komponen antara Adat dan Sarak merupakan norma hukum dan saling isi mengisi dimana konsepsi Marapalam melahirkan ungkapan “adat basandi syarak, sehingga alim ulama di Minangkabau dapat melibatkan rakyat dalam suatu aksi politik agama.
Konsep Marapalam ini disampaikan ke hadapan daulat Raja Pagaruyung. Dan dari Raja diminta pembesar kerajaan mempertimbangkan yang diterima dengan suara bulat sehubungan dengan politik Yang Dipertuan Pagaruyung dalam menentang monopoli Persatuan Dagang Belanda (VOC) yang mencoba menerapkan penguasa tunggal dalam perdagangan dan memecah belah rantau pesisir dengan menciptakan Perjanjian Painan tahun 1662.
Maka, Syekh Burhanuddin dan pengikutnya diberikan wewenang seluas-luasnya mengembangkan agama Islam di seluruh Alam Minangkabau.
Seperti bunyi pepatah adat yang disebutkan batas-batasnya sebagai berikut “di dalam lareh nan duo, luhak nan tigo, dari ikue darek kapalo rantau sampai ke riak nan badabue” Syekh Burhanuddin dengan gerakannya dilindungi oleh kerajaan Pagaruyung.
Sebagaimana yang dilakukan Syeikh Abdurrauf dalam menguasai ulayat Aceh “adat bak po teumeureuhum, huköm bak syiah kuala”, (adat kembali pada raja Iskandar Muda, hukum agama pada Syiah Kuala) maka sistim ini disalinterapkan oleh Syekh Burhanuddin di Minangkabau.
Wilayah pesisir yang merupakan bagian dari rantau Minangkabau mulai berkembang surau-surau, surau-surau ini mulai mengadakan perlawanan terhadap monopoli dagang bangsa Eropa, seperti Muhammad Nasir dari Koto Tangah, Tuanku Surau Gadang di Nanggalo.
Dengan kedua kepentingan antara keutuhan daerah rantau kesepakatan mudah dicapai antara Syekh Burhanuddin dengan yang Dipertuan Pagaruyung. Kesepakatan inilah yang sering disebut dengan Perjanjian Marapalam.
Pengalaman Syeikh Burhanuddin ketika bersama Syekh Abdur Rauf sebagai mufti kerajaan Aceh, menambah wawasan Syeikh Burhanuddin dalam politik keagamaan di Minangkabau.
Peristiwa bersejarah di Bukit Marapalam dan Titah Sungai Tarab menghadap kepada uang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung telah tersiar di seluruh pelosok Alam Minangkabau. Anak negeri menerima agama Islam dengan kesadaran. Islam diakui sebagai agama resmi. Adat dan agama telah dijadikan pedoman hidup dan saling melengkapi. Saat itu lahirlah ungkapan “adat menurun, syarak mendaki. Artinya adat datang dari pedalaman Minangkabau dan agama berkembang dari daerah pesisir.
Syeikh Burhanuddin dengan syi’ar syariat Islamnya telah menyinari Alam Minangkabau sehingga banyaklah orang yang menuntut ilmu agama berdatangan ke Tanjung Medan.
Nama Tanjung Medan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu Islam modern saat itu sudah masyhur kemana-mana, Surau Tanjung Medan penuh sesak dengan murid-murid beliau sehingga dibangun lagi surau-surau disekeliling surau asal.
Menurut catatan terdapat 101 buah surau baru di Tanjung Medan yang merupakan satu kampus, itulah awal mula sistem pesantren yang kita kenal sekarang.
Perjanjian Marapalam berkembang menjadi suatu proses penyesuaian terus menerus antara adat dan agama Islam, saling menopang sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau.
Tahun 1692 M / 1111 H Syeikh Burhanuddin berpulang ke Rahmatullah dalam usia 85 tahun, kematiannya menimbulkan Misteri hingga kini karena setelah jasad beliau dikapani dan hendak dikubur keliang lahat disamping Surau Tanjung Medan kiranya yang tinggal hanya kain kafannya saja, sementara jasadnya Raib.
Konon menurut cerita tak lama berselang tersebarlah kabar bahwa ada masyarakat yang melihat dan mendengar ada cahaya yang diiringi suara salawaik berdendang bagai gandang tasa terbang melayang dan turun di dekat pohon Pinago Biru maka dinisbatkanlah lokasi tersebut adalah Makam Syeikh Burhanuddin sesuai wasiatnya dulu, Wallahu alam bis sawab.
Keberpulangan Syeikh Burhanuddin telah meninggalkan jasa yang gilang gemilang. Namanya senantiasa akan hidup terus dan tak terlupakan sepanjang masa.
Sebelum meninggal dunia, Syeikh Burhanuddin tidak lupa mendidik kader penerus dalam usaha menyebarluaskan ajaran Islam yang dilakukan melalui latihan dan pendidikan.
Untuk meneruskan perjuangan beliau, Syeikh Burhanuddin melatih dan mendidik dua orang pemuda yang seorang dari Tanjung Medan yang merupakan sahabat karibnya Katik Idris Majolelo, dan anak salah seorang muridnya yang bernazar bila lahir laki-laki akan dihadiahkan pada Syeikh Burhanuddin sebagai nazar bernama Abdul Rahman yang akan menggantikan kedudukan, sebagai “khalipah” kelak.
Menurut penilaiannya kedua anak muda ini memenuhi persyaratan dalam mengemban tugasnya, baik dari akhlak, kecerdaan serta ketrampilan dakwah.
Untuk itu dihadapan pemuka pemuka Adat Kaum Cadiak Pandai dan Ulama Ulakan ditetapkan Idris Majolelo dan Abdul Rahman sebagai khalipah yang ahli Adaik dan sarak, I dan II yang pengangkatannya berbarengan.
Idris Majo Lelo dinobatkan jadi Katib, adalah teman akrab Syeikh Burhanuddin sedari muda bekerja bahu membahu dalam menegakkan agama Islam.
Saat itu mashurlah surau Syekh Burhanuddin kepenjuru dunia sehingga pada sisinya berdiri banyak surau-surau kecil yang dihuni oleh pelajar dari berbagai daerah di Minang Kabau, Riau dan Jambi sehingga tersebut lah Tanjung Medan sebagai negeri seratus surau.
Syeikh Burhanuddin meninggal dunia tahun 1692 M / 1111 H dalam usia 85 tahun tanpa meninggalkan keturunan, namun memiliki kakak perempuan yang telah berkeluarga.
Garisnya di Sintuak melewakan gala Datuak Majo Basa, di Koto Tinggi Dt. Nan Sati, di Pasa Usang Dt. Hitam, di Kasang Dt. Rajo Bintang merupakan sanak keluarga yang hilang dan di Ulakan tahun kemarin oleh Rajo nan Sabaleh dikukuhkanlah Drs. Burhanuddin sebagai Dt. Nan Basa, sementara di Guguak Sikaladi Pariangan Datuak Paduko Dirajo.
Garis keluarga Syeikh Burhanuddin yang di Pasa Usang maupun di Kasang bertemunya di kemudian hari setelah negara Republik Indonesia terbentuk.
Manuskrip kitab Syeikh Burhanuddin beserta Ijazah yg berupa pakaian. manuskrip yang ditulis tangan oleh Syeikh Burhanuddin sendiri adalah Kitab asli beserta Ijazah berupa pakaian kaji diri masih tersimpan di tangan Herri Firmansyah khalifah XV bertempat di Surau Pondok Ketek Syekh Burhanuddin Koto Panjang Tanjung Medan Ulakan.
Kitab yang ditulis dengan mengunakan bahasa Arab ini ditulis dengan tinta kanji dan kertas lama berwarna kuning lebih tebal dari kertas biasa yang ada sekarang. Dilihat dari tulisan, tinta, dan kertas yang dipergunakan dapat diduga bahwa memang kitab ini sudah berusia sekitar 4 abad (zamannya Syeikh Burhanuddin).
Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa kitab tersebut tidak bisa dilihat oleh sembarang orang dan juga tidak boleh dibawa keluar dari Surau, karena hal itu merupakan amanah, demikianlah seperti dikemukakan oleh khalifah yang memegang kitab ini. Pada bagian pendahuluan kitab, penulis dengan jelas menyatakan bahwa kitab ini (Mukhtasar) diringkaskan dari 20 (dua puluh) kitab tasawuf yang populer dan dipakai luas di lingkungan Mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jamâah.seperti (1). Kitâb Tuhfah al-Mursalah ilâ rûhin Nabî, (2) Kitâb al-Ma`lûmât, (3) Kitâb Adab ‘Asyik wa Khalwat, (4) Kitâb Khâtimah, (5) Kitâb Fath al-Rahmân, (6) Kitâb Maj al-Bahraiin, (7) Kitâb Mi`dân al-Asrâr, (8) Kitâb Fusûs al-Ma`rifah, (9) Kitâb Bayân al-Allâh, (10) Kitab Bahr al-Lahût, (11) Kitab Asrâr al-Shalâh, (12) Kitâb al-Wahdah, (13) Kitâb Futûhat, (14) Kitâb Tanbîh al-Masyi’, (15) Kitâb al-Asrâr al-Insân, (16) Kitâb al-Anwâr al-Haqâiq, (17) Kitâb al-Baitîn, (18) Kitâb Syarh al-Hikâm (19), Kitâb al-Mulahzhah (20) Kitâb al-Jawâhir al-Haqâiq,
Kedua, manuskrip tulisan tangan berbahasa Arab dan bahasa Arab melayu terdiri dari lima kitab bertahun 1223 hijriah Nabi Muhamad SAW bersamaan dengan 1788 M. yang ditulis setelah satu abad Syeikh Burhanuddin wafat.
(Dikutip dari berbagai sumber/kongrit.com)

Daftar Alamat MI se-Kota Padang
1. MIN PAMPANGAN
Alamat: PAMPANGAN NO. 3 B, -, Kec. Lubuk Begalung
Kota Padang
NPSN: 60704200
Profil lengkap: klik disini

2. MIN SEBERANG PALINGGAM
Alamat: JL SEB. PALINGGAM, -, Kec. Padang Selatan
Kota Padang
NPSN: 60704201
Profil lengkap: klik disini

3. MIS MATA AIR
Alamat: JL.SUTAN SYAHRIL, -, Kec. Padang Selatan
Kota Padang
NPSN: 60704202
Profil lengkap: klik disini

4. MIN GUNUNG PANGILUN
Alamat: JL. GUNUNG PANGILUN, -, Kec. Padang Utara
Kota Padang
NPSN: 60704203
Profil lengkap: klik disini

5. MIN GUNUNG SARIK
Alamat: JL. GUNUNG SARIK, -, Kec. Kuranji
Kota Padang
NPSN: 60704197
Profil lengkap: klik disini

6. MIN KORONG GADANG
Alamat: KORONG GADANG, -, Kec. Kuranji
Kota Padang
NPSN: 60704198
Profil lengkap: klik disini

7. MIS SUNGAI SAPIH
Alamat: JL. SYEKH UMAR KHALIL NO. 03 KEL. SUNGAI SAPIH KEC. KURANJI PADANG, -, Kec. Kuranji
Kota Padang
NPSN: 60704199
Profil lengkap: klik disini

8. MIN KOTO LUAR
Alamat: JL. KOTO LUAR RT.01 RW.02 KELURAHAN KOTO LUA KECAMATAN PAUH, -, Kec. Pauh
Kota Padang
NPSN: 60704204
Profil lengkap: klik disini

9. MIS BINUANG
Alamat: JLN. RAYA BINUANG NO.3B, -, Kec. Pauh
Kota Padang
NPSN: 60704205
Profil lengkap: klik disini

10. MIN LUBUK BUAYA
Alamat: JL. ANAK AIR, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 60704195
Profil lengkap: klik disini

11. MIS BAKTI TUNGGUL HITAM
Alamat: JL. ANGGREK, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 10303542
Profil lengkap: klik disini

12. MIS BHAKTI
Alamat: JL. ANGGREK, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 60704196
Profil lengkap: klik disini
Sumber: http://referensi.data.kemdikbud.go.id/

Direktori daftar-daftar seluruh Indonesia
MENU
Search for:
Daftar Alamat MTS se-Kota Padang
1. MTSN BUNGUS TELUK KABUNG
Alamat: JL. KAYU ARO, KEL. BUNGUS BARAT, -, Kec. Bungus Teluk Kabung
Kota Padang
NPSN: 10311363
Profil lengkap: klik disini
2. MTSS TERPADU DHUAFA NUSANTARA
Alamat: KAMPUNG TELUK BUO, -, Kec. Bungus Teluk Kabung
Kota Padang
NPSN: 10311364
Profil lengkap: klik disini
3. MTSN PARAK LAWAS
Alamat: JL. PARAK LAWAS PADANG, -, Kec. Lubuk Begalung
Kota Padang
NPSN: 10311372
Profil lengkap: klik disini
4. MTSS LUBUK BEGALUNG
Alamat: JLN. ARAU NO. 26 LUBEK, -, Kec. Lubuk Begalung
Kota Padang
NPSN: 10311373
Profil lengkap: klik disini
5. MTSS DR. H. ABDULLAH AHMAD PGAI
Alamat: JL. DR. H. ABDULLAH AHMAD NO. 8 PADANG, -, Kec. Padang Timur
Kota Padang
NPSN: 10311375
Profil lengkap: klik disini
6. MTSS MADINAH AL MUNAWWARAH BUYA NASKA PADANG
Alamat: KOMP.ANDALAS MAKMUR KD PARAK KARAKAH KEC. PADANG TIMUR KOTA PADANG SUMBAR, -, Kec. Padang Timur
Kota Padang
NPSN: 10311376
Profil lengkap: klik disini
7. MTSS PGAI PADANG
Alamat: JLN. DR. A ABDUL AHMAD NO. 8, SAWAHAN, Kec. Padang Timur
Kota Padang
NPSN: 10303543
Profil lengkap: klik disini
8. MTSS PLUS PP MADINAH AL MUNAWWARAH BUYA NASKA
Alamat: KOMPLEK ANDALAS MAKMUR, -, Kec. Padang Timur
Kota Padang
NPSN: 10311377
Profil lengkap: klik disini
9. MTSS AISYIYAH
Alamat: JL.UJUNG BELAKANG OLO NO17, -, Kec. Padang Barat
Kota Padang
NPSN: 10311374
Profil lengkap: klik disini
10. MTSS MODERN TERPADU BAITURRAHMAH
Alamat: JL. DAMAR I NO 16, -, Kec. Padang Barat
Kota Padang
NPSN: 69734301
Profil lengkap: klik disini
11. MTSN MODEL PADANG
Alamat: JL.GUNUNG PANGILUN, -, Kec. Padang Utara
Kota Padang
NPSN: 10311378
Profil lengkap: klik disini
12. MTSN DURIAN TARUNG
Alamat: JL. RAYA DURIAN TARUNG, -, Kec. Kuranji
Kota Padang
NPSN: 10311369
Profil lengkap: klik disini
13. MTSN KURANJI
Alamat: JL. RAYA KURANJI, -, Kec. Kuranji
Kota Padang
NPSN: 10311370
Profil lengkap: klik disini
14. MTSS THAWALIB PADANG
Alamat: JL. CUBADAK AIR NO 28, -, Kec. Kuranji
Kota Padang
NPSN: 10311371
Profil lengkap: klik disini
15. MTSS BUSTANUL ULUM
Alamat: JL. BATU BUSUK KOMPLEK PLTA SEMEN PADANG RT. 02/03 KEL. LAMBUNG BUKIT KEC. PAUH , -, Kec. Pauh
Kota Padang
NPSN: 10311380
Profil lengkap: klik disini
16. MTSS LIMAU MANIS
Alamat: JL. RAYA KOTO LUAR, -, Kec. Pauh
Kota Padang
NPSN: 10311379
Profil lengkap: klik disini
17. MTSN KOTO TANGAH
Alamat: JL. RAYA TABING LUBUK MINTURUN, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 10311365
Profil lengkap: klik disini
18. MTSN LUBUK BUAYA
Alamat: JL. ADINEGORO NO. 5, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 10311366
Profil lengkap: klik disini
19. MTSS AL FURQAN
Alamat: JL. KENANGA NO 59, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 10311368
Profil lengkap: klik disini
20. MTSS Al-Falah
Alamat: Jl. Mekah RT 003 Rw 006 Kel. Koto Panjang Ikur Koto, -, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 69883311
Profil lengkap: klik disini
21. MTSS BATANG KABUNG
Alamat: BATANG KABUNG, Batang Kabung, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 10311367
Profil lengkap: klik disini
22. MTSS PUTRI KHAIRA UMMAH
Alamat: JLN. ANSHOR NO. 28 RT 002/ RW 05, TUNGGUL HITAM, Kec. Koto Tangah
Kota Padang
NPSN: 10303563
Profil lengkap: klik disini
Sumber: http://referensi.data.kemdikbud.go.id/

KEMENTERIAN AGAMA (KEMENAG)

URAIAN TUGAS JFU BERDASARKAN RUMPUN JABATAN

LAMPIRAN II:

PERATURAN MENTERI AGAMA NOMOR…TAHUN 2014

TENTANG

PENGANGKATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM JABATAN FUNGSIONAL UMUM

DI KEMENTERIANAGAMA

URAIAN TUGAS JFU BERDASARKAN RUMPUN JABATAN

Penyusun …

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, mengumpulkan dan mengklasifikasikan ….… serta mengkaji, menyusun, mendiskusikan ……. sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk tercapainya sasaran sesuai yang diharapkan.

Uraian Tugas:

1.      Menerima dan memeriksa bahan..................sesuai prosedur sebagai bahan kajian dalam rangka penyusunan ........;

2.      Mengumpulkan dan mengklasifikasikan bahan..................sesuai spesifikasi dan prosedur untuk memudahkan apabila diperlukan;

3.      Mempelajari dan mengkaji karakteristik, spesifikasi dan hal-hal yang terkait dengan ..................sesuai prosedur dalam rangka penyusunan ........;

4.      Menyusun konsep penyusunan … sesuai dengan hasil kajian dan prosedur untuk tercapainya sasaran yang diharapkan;

5.      Mendiskusikan konsep penyusunan ..................dengan pejabat yang berwenang dan terkait sesuai prosedur untuk kesempurnaan penyusunan ........;

6.      Menyusun kembali ..................berdasarkan hasil diskusi sesuai prosedur untuk kelancaran dan optimalisasi penyusunan ........;

7.      Mengevaluasi proses penyusunan ..................sesuai prosedur sebagai bahan perbaikan dan kesempurnaan tercapainya sasaran;

8.      Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

9.      Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Analis …

Ikhtisar Jabatan

Menerima, mengumpulkan, dan menelaah serta menganalisa ..................sesuai dengan prosedur yang berlaku agar semua pekerjaan dapat diselesaikan secara berdayaguna dan berhasilguna.

Uraian Tugas :

1.    Menerima dan memeriksa bahan ..................sesuai prosedur sebagai bahan analisa dalam rangka penyusunan ........;

2.    Mengumpulkan bahan-bahan kerja sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk keperluan penyelesaian pekerjaan;

3.    Mempelajari, menganalisa serta menelaah bahan-bahan sesuai dengan ..................dalam bidangnya agar memperlancar pelaksanaan tugas;

4.    Menyusun bahan ..................sesuai prosedur kerja untuk dipedomani;

5.    Menelaah dan menganalisa bahan..................sesuai dengan ketentuan untuk menghasilkan output yang maksimal;

6.    Menyusun laporan hasil kerja untuk disampaikan kepada pimpinan agar hasil analisa dapat bermanfaat;

7.    Memberikan saran berdasarkan pelaksanaan pekerjaan dan pemanfaatannya untuk disampaikan kepada pimpinan unit; dan

8.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh pimpinan baik secara tertulis maupun lisan.

Pengembang …

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, memeriksa, mengumpulkan bahan dan data ..................serta mengkaji dan mengembangkan ..................sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk tercapainya sasaran sesuai yang diharapkan.

Uraian Tugas

1.    Menerima serta memeriksa bahan dan data ..................sesuai dengan prosedur sebagai bahan kajian dalam rangka mengembangkan ........;

2.    Mengumpulkan dan mengklasifikasikan bahan dan data ..................sesuai spesifikasi dan prosedur untuk memudahkan apabila diperlukan;

3.    Mempelajari dan mengkaji karakteristik, spesifikasi dan hal-hal yang terkait dengan ..................sesuai prosedur dalam rangka mengembangkan ........;

4.    Menyusun konsep pengembangan ..................sesuai dengan hasil kajian dan prosedur untuk tercapainya sasaran yang diharapkan;

5.    Mendiskusikan konsep pengembangan ..................dengan pejabat yang berwenang dan yang terkait sesuai prosedur untuk kesempurnaan pengembangan ........;

6.    Menyusun kembali pengembangan ..................berdasarkan hasil diskusi sesuai prosedur untuk kelancaran dan optimalisasi pengembangan ........;

7.    Mengembangkan ..................sesuai rencana dan prosedur untuk optimalisasi hasil sesuai yang diharapkan;

8.    Mengevaluasi pengembangan ..................sasuai prosedur sebagai bahan perbaikan dan kesempurnaan tercapainya sasaran;

9.    Melaporkan hasil pengembangan ..................sesuai prosedur sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas;

10.  Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintah atasan baik secara tertulis maupun lisan.

Pengevaluasi…

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, memeriksa dan mengevaluasi hasil laporan sesuai dengan ..................yang diberikan dari pejabat yang berwenang dengan prosedur yang berlaku agar dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan.

Uraian Tugas :

1.    Menerima dan mencatat ..................yang diberikan dari pejabat yang berwenang sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk memudahkan pengendalian;

2.    Mengelompokkan ..................sesuai dengan permasalahannya untuk memudahkan pemeriksaan;

3.    Mempelajari dan memeriksa..................sesuai dengan prosedur dan ketentuan berlaku agar bahan/data diketemukan permasalahannya;

4.    Mendiskusikan hasil evaluasi kepada para pemangku kepentingan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan;

5.    Membuat laporan hasil temuan/evaluasi kepada pimpinan untuk dipakai sebagai bahan pengambilan keputusan;

6.    Mendokumentasikan hasil evaluasi sesuai dengan prosedur yang berlaku agar mudah ditemukan kembali bila diperlukan;

7.    Melaporkan pelaksanaan tugas dan hasil kegiatan kepada atasan sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

8.    Melaksanaan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan baik tertulis maupun lisan.

Pemandu Kerukunan Antarumat Beragama

Ikhtisar Jabatan

Merencanakan, menggagas dialog, membimbing dan memberikan penjelasan dan solusi, mengevaluasi, melaporkan dan menindaklanjuti kegiatan pemanduan terhadap tingkat ketaatan kerukunan dan/atau kegiatan keagamaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Uraian Tugas:

1.    Merencanakan dan menyiapkan materi panduan kerukunan secara baik sebagai dasar pelaksanaan tugas pemanduan;

2.    Mendorong tumbuhnya dialog antarpemuka agama/antarumat beragama untuk lebih mengembangkan aspek agama yang berdimensi kemanusiaan.

3.    Membangun suasana keakraban di kalangan umat beragama yang mampu mengantisipasi dan menangkal potensi gangguan kerukunan umat beragama.

4.    Menghadiri/visitasi ke lokasi dialog/daerah potensi konflik berdasarkan jadwal yang telah ditentukan untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

5.    Memberikan bimbingan dan penjelasan pemanduan antarumat beragama secara sistematis dan komprehensif sehingga antarumat beragama dapat memahami substansi masalah dan melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut seperti yang diharapkan bersama tanpa menimbulkan prasangka;

6.    Mencari alternatif lain titik temu masyarakat yang dapat mempertemukan antarumat beragama sekalipun belum dimungkinkan terwujudnya konsensus final.

7.    Merumuskan konsep penyelesaian konflik secara permanen sebagai saran/pertimbangan kepada pihak terkait.

8.    Memilih dan memilah aspirasi umat beragama berdasarkan substansi dan aksidensi agar aspirasinya dapat segera ditampung dan disalurkan sesuai dengan kepentingannya.

9.    Melaporkan hasil pelaksanaan tugas pemanduan sesuai dengan prosedur dan yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban;

10.  Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik secara tertulis maupun lisan.

Pentashih

Ikhtisar Jabatan

Merencanakan, menerima, meneliti, dan mentashih naskah Alquran, membimbing dan memberikan penjelasan pentashihan, mengevaluasi, melaporkan dan menindaklanjuti kegiatan pentashihan terhadap peredaran Alquran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Uraian Tugas:

1.    Merencanakan dan menyiapkan materi pentashihan secara baik sebagai dasar pelaksanaan tugas pentashihan;

2.    Mempelajari peraturan perundang-undangan dan literatur akademis, pedoman dan prosedur kerja bidang tugas yang ditangani;

3.    Menerima, meneliti, dan mentashih naskah Alquran dan transliterasinya 30 juz / Juz Amma / ayat-ayat pilihan, baik dalam bentuk cetak, elektronik, maupun dengan huruf braille sebelum dicetak oleh perusahaan;

4.    Menerima, meneliti, dan mentashih naskah Alquran dan transliterasinya 30 juz / Juz Amma / ayat-ayat pilihan yang disertai dengan tanda tajwid warna dan menyesuaikan dengan pedoman standar tajwid sebelum dicetak oleh perusahaan;

5.    Menyesuaikan dan mencocokkan naskah Alquran dan transliterasinya 30 juz / Juz Amma / ayat-ayat pilihan dengan mushaf standar bariyah/ayat pojok;

6.    Membimbing dan memberikan penjelasan pentashihan kepada para pemangku kepentingan agar pelaksanaan tugas dapat maksimal;

7.    Meneliti dan mentashih terhadap Alquran yang telah dicetak, digandakan, dan didistribuskan di toko-toko buku tersebar di daerah;

8.    Menindaklanjuti kegiatan pentashihan terhadap peredaran Alquran yang tidak sesuai dengan prosedur pentashihan untuk diproses sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

9.    Mengevaluasi pelaksanaan pentahihan secara mandiri untuk perbaikan dalam pelaksanaan tugas;

10.  Melaporkan hasil pelaksanaan tugas pemanduan sesuai dengan prosedur dan sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban;

11.  Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik secara tertulis maupun lisan.

Pengonsep…

Ikhtisar Jabatan:

Mempelajari, merumuskan, mengklasifikasikan rencana  ..................sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pidato pimpinan.

Uraian Tugas :

1.    Mempelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan materi ..................sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan penyusunan rencana;

2.    Mengumpulkan bahan dan data yang terkait dengan ..................sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan penyusunan rencana;

3.    Merumuskan konsep … sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan diskusi dan persetujuan pimpinan;

4.    Mempresentasikan dan mendiskusikan konsep … dengan pejabat yang berwenang dan terkait sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku;

5.    Menyempurnakan kembali konsep … setelah mendapat masukan dari pejabat yang berwenang dan terkait untuk kesempurnaan;

6.    Mengklasifikasikan basil rumusan … sesuai dengan materi masing¬masing untuk mempermudah penggunaannya;

7.    Menyampaikan hasil konsep … pada pejabat yang berwenang danterkait sesuai prosedur dan lanjut;

8.    Melaporkan pelaksanaan tugas sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

9.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan baik secara tertulis maupun lisan.

Pengelola…

Ikhtisar Jabatan:

Mengelola ..................dengan cara menyusun program, mengendalikan dan mengkoordinasikan serta memeriksa dan mengevaluasi sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

Uraian Tugas:

1.    Menyusun program kerja, bahan dan alat perlengkapan ..................sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar dalam pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan baik;

2.    Memantau, objek kerja sesuai dengan bidang tugasnya, agar dalam pelaksanaan terdapat kesesuaian dengan rencana awal;

3.    Mengendalikan program kerja, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan;

4.    Mengkoordinasikan dengan unit-unit terkait dan atau instansi lain dalam rangka pelaksanaannya, agar program dapat terlaksana secara terpadu untuk mencapai hasil yang optimal;

5.    Mengevaluasi dan menyusun laporan secara berkala, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan penyusunan program berikutnya; dan

6.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintah atasan baik secara tertulis maupun lisan.

Pengolah…

Ikhtisar Jabatan:

Menerima dan mengolah ..................yang dilengkapi hasil laporan responden sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku sebagai bahan untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya.

Uraian Tugas:

1.    Mempelajari pedoman dan petunjuk sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk mengetahui macam, metode dan teknik dalam mengolah ........;

2.    Mengumpulkan dan memeriksa data sesuai dengan prosedur dan ketentuanyang berlaku sebagai bahan kegiatan berdasarkan jenis dan ........;

3.    Menganalisis ..................sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlakuuntuk menghasilkan kebenaran informasi dan volume kegiatan berdasarkanlaporan yang masuk;

4.    Menyusun rekapitulasi kegiatan berdasarkan jenis ..................yang masuk sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk mengetahui volume dan jenis ..................yang akan diolah;

5.    Mencatat perkembangan dan permasalahan ..................secara periodik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk mengetahui langkah pemecahannya;

6.    Mengolah dan menyajikan ..................dalam bentuk yang telah ditetapkan sebagai bahan proses lebih lanjut;

7.    Melaporkan pelaksanaan dan hasil kegiatan kepada atasan sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

8.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan baik secara tertulis maupun lisan.

Protokol

Ikhtisar Jabatan

Menyusun acara, menata tempat, mengantar dan menjemput serta mengurus surat-surat ijin keluar negeri para pejabat, menyiapkan pengumuman, memeriksa laporan dan memandu kunjungan tamu sesuai ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

Uraian Tugas:

1.  Menyusun pelaksanaan acara memperingati hari-hari besar nasional dan HUT Kantor sesuai ketentuan yang berlaku agar acara berjalan lancar;

2.  Menata tempat acara-acara berdasarkan ketentuan keprotokolan untuk kelancaran pelaksanaan acara;

3.  Mengantar dan menjemput perjalanan dinas para pejabat berdasarkan perintah atasan agar tepat sarnpai tujuan;

4.  Mengurus surat-surat ijin keluar negeri para Pejabat Eselon I dan II sesuai dengan prosedur untuk kelancaran perjalanan;

5.  Menyiapkan pengumuman berdasarkan substansi permasalahan untuk diumumkan;

6.  Memeriksa laporan jumlah tarnu dari penerima tamu sesuai ketentuan yang berlaku sebagai bahan laporan;

7.  Memandu kunjungan tamu (rombongan) dari instansi pemerintah/swasta untuk menghadap/bertemu dengan pimpinan sesuai jadwal yang ditentukan agar kunjungan berjalan lancar;

8.  Membuat laporan kegiatan sesuai dengan prosedur sebagai akuntabillitas pelaksanaan tugas; dan

9.  Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik lisan maupun tertulis.

Sekretaris pimpinan

Ikhtisar Jabatan

Menerima segala jenis surat masuk, undangan, bahan/dokumen untuk dicatat dalam buku agenda/papan serta disampaikan kepada pimpinan untuk mendapatkan disposisi agar dapat didistribusikan ke unit-unit kerja sesuai dengan arahan/disposisi pimpinan untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur dalam rangka melancarkan pelaksanaan tugas pimpinan.

Uraian Tugas

1.    Menerima, mencatat surat masuk dan keluar ke dalam buku agenda, lembar disposisi berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk diteruskan kepada pimpinan

2.    Mencatat agenda kegiatan pimpinan ke papan tulis berdasarkan kepentingannya sebagai informasi bagi pimpinan

3.    Mengirim surat ke pejabat-pejabat sesuai disposisi pimpinan untuk penyelesaian lebih lanjut

4.    Memintakan dan mencatat nomor surat kedinasan ke dalam buku pengiriman sebagai pengendalian surat-surat

5.    Memeriksa hasil ketikan surat berdasarkan etika peraturan untuk diteruskan kepada pimpinan

6.    Mengingatkan pimpinan berdasarkan agenda yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan kegiatan

7.    Menerima tamu dan mencatat keperluannya sesuai prosedur berdasarkan agenda yang telah ditetapkan untuk efisiensi waktu

8.    Menerima, mencatat dan menyampaikan telepon dan faks yang masuk maupun keluar berdasarkan sifat dan jenis permasalahannya untuk dapat diteruskan kepada pimpinan

9.    Membuat laporan kegiatan sesuai dengan prosedur sebagai akuntabillitas pelaksanaan tugas

10.  Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik lisan maupun tertulis.

Bendahara

Ikhtisar Jabatan :

Mengelola serta mengkonsultasikan masalah keuangan dan anggaran dengan pejabat pembuat komitmen sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

Uraian Tugas:

1.    Mengelola uang/surat berharga/barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk bahan pertanggungjawaban;

2.    Mengajukan surat permintaan pembayaran perintah untuk mengurus keuangan;

3.    Mengurus surat perintah membayar uang SPM yang berlaku untuk penerimaan uang;

4.    Melakukan pembayaran atas tagihan-tagihan berdasarkan surat dinas untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

5.    Melayani permintaan uang muka berdasarkan surat perintah untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

6.    Mencatat, menyusun penerimaan dan pengeluaran uang di dalam daftar penerimaan dan pengeluaran yang telah ditetapkan sesuai yang berlaku untuk bahan lampiran laporan;

7.    Membuat laporan mengenai permintaan, pengeluaran dan keadaan kas berdasarkan penerimaan sebagai bahan pertanggungjawaban;

8.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Pemegang Buku

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, mencatat dan membukukan pengeluaran/penerimaan ..................yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar ..................dapat dibukukan atau disimpan dengan baik.

Uraian Tugas:

1.    Menerima, mencatat dan membukukan ..................yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar tidak terjadi kesalahan;

2.    Mengelompokkan ..................yang diberikan oleh pejabat yang berwenang menurut jenis, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar ..................dapat disusun dengan mudah;

3.    Memeriksa dan meneliti ..................yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar ..................dapat diketemukan permasalahannya;

4.    Menyimpan dan memelihara ..................yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar ..................dapat tersimpan dan terpelihara dengan baik;

5.    Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

6.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Pengadministrasi

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, mencatat, menyimpan surat/bahan/dokumen lainnya sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar pelaksanaan tugas berjalan lancar.

Uraian Tugas:

1.    Menerima, mencatat, dan menyortir surat masuk, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar memudahkan pencarian.

2.    Memberi lembar pengantar pada surat, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar memudahkan pengendalian;

3.    Mengonsep surat pengantar/undangan/dinas lainnya, sesuai dengan prosedur dan ketentuan;

4.    Mengelompokkan surat atau dokumen menurut jenis dan sifatnya, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar memudahkan pendistribusian;

5.    Mendokumentasikan surat sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar tertib administrasi;

6.    Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

7.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Pengawas…

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, mempelajari, dan mengawasi ..................sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk diproses lebih lanjut.

Uraian Tugas:

1.    Menerima dan menginventarisasi data ..................sesuai prosedur untuk diproses lebih lanjut;

2.    Mengklasifikasi data ..................sesuai prosedur untuk kelancaran pelaksanaan pengawasan;

3.    Mempelajari data ..................sesuai prosedur yang berlaku dalam rangka pelaksanaan pengawasan;

4.    Mengidentifikasi data ..................sesuai prosedur dalam rangka pelaksanaan pengawasan;

5.    Mengawasi ..................sesuai prosedur dalam rangka tercapainya sasaran yang diharapkan;

6.    Mengevaluasi dan mengkonsultasikan permasalahan yang timbul dengan pejabat yang berwenang dan terkait sesuai prosedur agar tercapai sasaran yang diharapkan;

7.    Melaporkan pelaksanaan tugas sesuai prosedur sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

8.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintah atasan baik secara tertulis maupun lisan.

Teknisi

Ikhtisar Jabatan :

Menerima, menginventarisasi laporan kerusakan serta memelihara mesin dan atau sistem jaringan dengan cara memperbaiki atau mengganti suku cadang yang rusak agar sistem dapat berjalan lancar.

Uraian Tugas :

1.    Menerima dan menginventarisasi laporan kerusakan mesin dan atau sistem jaringan berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk diadakan pemeriksaan;

2.    Memeriksa kerusakan mesin dan atau sistem jaringan berdasarkan laporan untuk perbaikan;

3.    Memperbaiki mesin dan atau sistem jaringan yang rusak atau usang berdasarkan hasil pemeriksaan untuk diadakan penggantian suku cadang atau perbaikan;

4.    Merawat secara khusus suatu mesin dan atau sistem jaringan yang masa penggunaannya telah melampaui batas waktu tertentu agar tidak cepat rusak;

5.    Melaporkan kegiatan perbaikan berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

6.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik secara tertulis maupun lisan.

Verifikator …

Ikhtisar Jabatan:

Menerima dan menyortir serta meneliti dan mencocokkan bukti-bukti pengeluaran dan penerimaan sesuai dengan mata anggaran untuk diperiksa/ diteliti apakah telah sesuai dengan peruntukkannya.

Uraian Tugas:

1.    Menerima dan menyortir bukti-bukti pengeluaran dan penerimaan serta Buku Kas untuk disusun sesuai dengan mata anggaran agar mempermudah dalam pemeriksaan/ penelitian;

2.    Meneliti dan mencocokkan bukti-bukti pengeluaran dan penerimaan dengan laporan realisasi keuangan dan Buku Kas agar diketahui apakah telah sesuai dengan peruntukkannya;

3.    Melakukan pemeriksaan terhadap alat-alat bukti apakah telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

4.    Melaporkan hasil temuan pemeriksaan kepada atasan untuk memperoleh tindak lanjut sebagai bahan laporan pimpinan; dan

5.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan baik tertulis maupun lisan.

Kurator

Ikhtisar Jabatan

Mengadakan riset, mengumpulkan, menyimpan, menjamin keselamatan dan kelestarian isi beberapa arsip dan benda sejarah budaya, artistik, seni, dan benda lain yang mengorganisir pameran musium dan gedung kesenian sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku agar benda-benda tersebut terpelihara dan dapat diambil manfaatnya dalam jangka waktu yang lama.

Uraian Tugas :

1.    Meneliti, menaksir dan mengembangkan, mengorganisir dan melestarikan dokumen penting dan berharga menurut sejarah, seperti dokumen pemerintah, dokumen swasta, photograph, rekaman suara, dan film sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku agar benda-benda tersebut dapat terpelihara dan dapat diambil manfaatnya dalam jangka waktu yang lama;

2.    Mengatur dan melaksanakan persiapan index, biografi, salinan mikrofilm, dan bantuan referensi lain pada bahan yang dikoleksi dan membuatnya sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk dapat dimanfaatkan dengan optimal oleh para pengguna;

3.    Meneliti asal mula distribusi dan pengguna bahan serta benda-benda kepentingan sejarah dan budaya sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku agar benda-benda tersebut terpelihara dan dapat diambil manfaatnya dalam jangka waktu yang lama;

4.    Mengorganisir, mengembangkan dan menjaga koleksi benda-benda artistik ilmiah atau yang berarti menurut sejarah dimuseum atau gedung kesenian sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku agar benda-benda tersebut terpelihara dan dapat diambil manfaatnya dalam jangka waktu yang lama;

5.    Mengatur atau melaksanakan klasifikasi dan membuat daftar nama-nama buku di museum dan koleksi gedung kesenian dan mengkoordinir pameran sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku agar dapat diketahui dimanfaatkan dengan optimal oleh masyarakat;

6.    Menyiapkan makalah dan laporan ilmiah sesuai prosedur dan ketentuan yang

7.    berlaku agar usaha pemeliharaan dapat dilaksanakan dengan optimal;

8.    Melaporkan hasil kegiatan obyek kerja sesuai prosedur yang berlaku sebagai

9.    bahan evaluasi dan pertangungjawaban; dan

10.  Melaksanaan tugas kedinasan yang diperintahkan oleh atasan baik secara lisan maupun tertulis.

Penyaji…

Ikhtisar Jabatan

Menerima, mencatat, memeriksa dan menyajikan bahan dan data ..................sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

Uraian Tugas:

1.    Menerima dan mencatat bahan dan data ..................sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, dalam rangka pelaksanaan tugas;

2.    Memeriksa dan mengklasifikasikan bahan dan data ..................sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku dalam rangka pelaksanaan tugas;

3.    Menyajikan bahan dan data ..................kepada pihak yang berwenang sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, dalam rangka pelaksanaan tugas;

4.    Mengevaluasi hasil sajian agar pelaksanaan tugas menajdi lebih baik;

5.    Menyiapkan alat dan sarana kelengkapan yang diperlukan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

6.    Membuat laporan kegiatan sesuai dengan prosedur sebagai akuntabillitas pelaksanaan tugas; dan

7.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik lisan maupun tertulis.

Pewarta Foto

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, menyiapkan, memeriksa dan memelihara foto serta mendokumentasikan dengan baik dan benar sesuai prosedur yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

Uraian Tugas:

1.    Menerima disposisi dari atasan langsung untuk melaksanakan pendokumentasian sesuai prosedur yang berlaku untuk diolah menjadi hasil kerja;

2.    Menyiapkan kamera/alat perekan lainnya berdasarkan prosedur yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

3.    Memeriksa kamera/alat perekan lainnya sesuai prosedur yang berlaku agar sesuai dengan target yang telah ditentukan;

4.    Memelihara dan memperbaiki kamera/alat perekan lainnya sesuai prosedur yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

5.    Memelihara dan mendokumentasikan foto-foto pejabat/rekaman lainnya dengan baik dan benar agar dapat diperlukan sewaktu-waktu;

6.    Mengevaluasi hasil pengambilan gambar/rekaman dengan benar untuk perbaikan pelaksanaan tugas selanjutnya;

7.    Melaporkan pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

8.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Petugas…

Ikhtisar Jabatan:

Menerima, memeriksa dan mencatat …… sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku untuk ditindaklanjuti agar pelaksanaan tugas berjalan lancar.

Uraian Tugas:

1.    Menerima dan mencatat …… dari pejabat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

2.    Memberikan saran kepada perorangan/organisasi yang melanggar ketentuan yang berlaku agar tertib;

3.    Memeriksa aplikasi lapangan apakah telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk pencegahan;

4.    Mengerjakan tugas yang sejenisnya sesuai dengan perintah atasan agar dapat menyelesaikan pekerjaan yang diprioritaskan;

5.    Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

6.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Caraka

Ikhtisar Jabatan:

Melaksanakan pengiriman surat/dokumen ke alamat yang dituju, baik secara langsung maupun melalui Pos dan Giro atau perusahaan jasa pengiriman lainnya sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku agar surat/dokumen sampai ke tujuan dengan cepat dan tepat.

Uraian Tugas:

1.    Menerima surat/dokumen yang telah dibukukan dalam buku ekspedisi untuk dikirim agar dapat diproses lebih lanjut;

2.    Menyortir surat/dokumen sesuai jenis dan ketentuan yang akan dikirim sesuai dengan wilayah tugasnya untuk mempermudah pengiriman pada pihak terkait;

3.    Menghitung dan menyesuaikan alamat surat/dokumen kerja yang tercantum dalam buku ekspedisi untuk dikirim ke alamat yang dituju;

4.    Membuat rencana perjalanan pengiriman surat/dokumen sesuai surat perintah untuk kelancaran pelaksanaan tugas;

5.    Menyampaikan/mengantar surat/dokumen ke alamat yang dituju sesuai prosedur dan meminta tanda bukti penerimaan sebagai bahan laporan ke pimpinan;

6.    Menyerahkan kembali buku ekspedisi dan tanda penerimaan surat pada ekpeditur sebagai bahan pertanggungjawaban;

7.    Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban; dan

8.    Melaksanakan kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Pengemudi

Ikhtisar Jabatan

Memeriksa, memanaskan, dan merawat kelengkapan kendaraan berdasarkan petunjuk norma yang berlaku serta mengemudikan, memperbaiki, dan melaporkan segala kerusakan agar kondisi kendaraan selalu siap pakai.

Uraian Tugas :

1.    Memeriksa kelengkapan kendaraan dengan cara mengecek rem, oli dan lampu di mesin, air radiator, air aki dan tekanan udara ban agar kendaraan dapat dikendarai dengan baik;

2.    Memanaskan mesin kendaraan guna mengetahui kelainan mesin;

3.    Merawat kendaraan dengan cara membersihkan mesin, ruangan dalam dan luar kendaraan agar kendaraan terawat dan bersih;

4.    Mengemudikan kendaraan berdasarkan tujuan dan ketentuan lalu lintas yang berlaku agar kendaraan dapat tiba di tujuan dengan selamat;

5.    Memperbaiki kerusakan kecil agar kendaraan dapat beroperasional secara layak;

6.    Mengantarkan kendaraan ke bengkel untuk servis rutin;

7.    Melaporkan hasil pelaksanaan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku sebagai bahan evaluasi dan pertanggungjawaban;

8.    Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik tertulis maupun lisan.

Pramu

Ikhtisar Jabatan

Menyiapkan peralatan dan menyajikan kebutuhan sesuai perintah dan ketentuan yang berlaku serta membersihkan dan merawat peralatan yang digunakan agar tetap terawat.

Uraian Tugas :

1.  Menyiapkan peralatan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar pelaksanaan tugas berjalan lancar;

2.  Menyiapkan kebutuhan yang diperlukan sesuai perintah dan ketentuan yang berlaku agar pelaksanaan tugas berjalan lancar;

3.  Membersihkan peralatan yang digunakan dengan menggunakan fasilitas yang ada agar tetap bersih dan siap digunakan kembali;

4.  Menyimpan dan merawat peralatan yang digunakan agar tidak cepat rusak;

5.  Membuat laporan kegiatan sesuai dengan prosedur sebagai akuntabillitas pelaksanaan tugas; dan

6.  Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan pimpinan baik lisan maupun tertulis.


























ALUA PASAMBAHAN MAKAN/MINUM

Si Pangka
Tuan di muliakan tuan jo buah panitahan

Si Alek
Manitahlah sutan

Si Pangka
Yo ma tuan
Sungguahlah tuan surang nan disambah, sambah tajelo ka nan rapek maaf tasimpuah ka nan banyak, wujuik nyo kapado niniak mamak, pangulu nan gadang basa batuah, nan tinggi samo dianjuang nan gadang samo diamba, bila maulana jo tuanku, alim ulama jo cadiak pandai, nan mudo arif budiman sarato nan tuo dalam kampuang tampek ambo manibokan sambah.
Sambah nan ka ambo tibokan titah nan ka ambo antakan, maagak di hari nan daulu, siriah bacabiak pinang bagatok, janji bakarang padan ba ukua, baa di hari sahari nangko,

Padi si payang urang samaikan
dikaka jo ujuang jari,
Janji bakarang bamuliakan,
padan baukua badapak i.

Jalan nan jauah lah baturuik, labuah nan pasa lah batampuah, lah bararak sapanjang jalan lah tibo di tangah laman, lah naiak ka rumah nangko, lah basalam bajawek tangan, duduak nan banamo saamparan, tagak nan banamo saedaran, di rajo sadaulat pangulu saundiko, manimbang sapanjang adat, mangaji sapanjang alua, jikok patuturan baliau alah ciek jo duo, duo jo tigo alah banamo salasai,

Baguluang ombak di lautan
Nahkoda pacik kamudi
Dek arah samo tujuan
Samo manjajak tanah tapi

Ombak taduah galombang sunyi, kapa balaia anyolai, balaia manantang pulau, bajalan manuju bateh, supayo balaia nak bapulau, bajalan nak babateh, gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh, duduak nak di paiyokan tagak nak di paramuahkan, jamba nak mintak di parenai, sakian sambah jo titah di anta sampai ka hadapan tuan.

Si Alek
Lah sampai sutan

Si Pangka
Sampai tuan

Si Alek
Yo ma sutan.
Sungguahlah tuan surang nan di sambah, sambah tajelo ka nan rapek maaf tasimpuah ka nan banyak, wujuik nyo kapado niniak mamak, pangulu nan gadang basa batuah, nan tinggi samo di anjuang nan gadang samo di amba, bila maulana jo tuanku, alim ulama jo cadiak pandai, nan mudo arif budiman sarato nan tuo dalam kampuang tampek ambo manibokan sambah.
Sambah nan ka ambo tibokan, titah nan ka ambo antakan, maagak di hari nan daulu, siriah bacabiak pinang bagatok, janji bakarang padan ba ukua, baa di hari sahari nangko padi si paying urang samaikan dikaka jo ujuang jari, janji bakarang bamuliakan, padan baukua badapak i.
Jalan nan jauah lah baturuik, labuah nan pasa lah batampuah, lah bararak sapanjang jalan lah tibo di tangah laman, lah naiak ka rumah nangko, lah basalam bajawek tangan, duduak nan banamo saamparan, tagak nan banamo saedaran, di rajo sadaulat pangulu saundiko, manimbang sapanjang adat, mangaji sapanjang alua, jikok patuturan baliau alah ciek jo duo, duo jo tigo alah banamo salasai,

Baguluang ombak di lautan
Nahkoda pacik kamudi
Dek arah samo tujuan
Samo manjajak tanah tapi

Ombak taduah galombang sunyi, kapa balaia anyolai, balaia manantang pulau bajalan manuju bateh, supayo balaia nak bapulau, bajalan nak babateh, gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh, duduak nak di paiyokan tagak nak di paramuahkan, jamba nak mintak di parenai, sakian sambah jo titah di anta sampai ka hadapan tuan. Kan baitu bana panitahan sutan

Si Pangka
Yo bana tuan

Si Alek
Sambah sutan sungguahlah bana, lai di cupak nan tatagak di ragi nan takambang, di laia lah nyato tampak, di bulan lah nyato tarang, tapi samantangpun baitu, lamak siriah lega carano, lamak kato lega bunyi, di paiokan kato, dipalegakan bunyi di sabakan sutan jo panitahan, lai ko bana nan baitu sutan.

Si Pangka
Lah sampai tuan..

Si Alek
Sampai sutan

Si Pangka
Timpo batimpo salam tibo
Salo manyalo sambah datang
Nyato tasauah di limbago
Lai taracak dalam undang

Tapi samantangpun baitu, nan rajo kato mufakat nan bana kato saiyo, dibao kato jo mufakat, disabakan ambo jo panitahan, lai koh iko di lingkuang adat lingka pusako nan baitu sutan, kan baitu bana buah panitahan tuan.

Si Alek
Yo bana sutan

Si Pangka
Tibonolah dalam adat nan bapakai, di cupak nan baisi baolah kato jo mufakat saba mananti ambo tuan.

Si Alek
Kato ka di bao jo mufakat kan lah saba sutan mananti

Si Pangka
Ambo nanti sakiro-kiro

Si Alek
Iyo ma sutan
Di ari nan cako sutan manauang manuruk undang, mananti manurut alua, ambo mampaiokan kato mampalegakan bunyi pado baliau salingka duduak, lah dapek lo banam sasuai paham nan saukua, ta anta ka hadapan ambo, ambo manta kahadapan sutan, apolah nan ka jadi buah antanyo, sapanjang parmintaan sutan nan ka tangah, indak gambuang lukah di aia, indak sasak bintang di langik, pintak buliah, kandak balaku, lah ka baparenai kato baliau sutan.

Si Pangka
Lah sampai tuan

Si Alek
Sampai sutan

Si Pangka
Yo ma tuan
Dari nan cako ambo manauang manuruik undang, mananti manuruk alua, tuan mampaiokan kato pado baliau salingka duduak, lah dapek lo aia nan janiah, sayak nan landai, bana ta anta ka hadapan ambo, apo lah nan jadi buah antanyo, sapanjang parmintaan ambo nan ka tangah, pintak buliah kandak balaku, lah ka baparenai kato baliau, kan baitu bana buah panitahan tuan.

Si Alek
Yo bana sutan

Si Pangka
Yo ma tuan
Tibo no sapanjang parmintaan tuan nan katangah, itulah kato sabanano, tapi samantang pun baitu,

Jariau kayu nan lampai
Ditarak usah di sibia
Kok patah ganti jo basi
Maimbau kami lah sampai
Mamintak ambo lah buliah
Lah sanang rasonyo hati tuan

Si Alek
Lah sampai sutan

Si Pangka
Sampai tuan

Si Alek
Tibonyo sapanjang panitahan sutan nan katangah itulah kato sabananyo, tapi samantangpun baitu

Barabah tabang ka tiku
Maraok ka dalam padi
Di padi mangkono makan
Pintak buliah kandak balaku
Iyolah sanang rasonyo hati
Sadang rancak kito baranti sutan

Si Pangka
Baa parundiang an kito tuan

Si Alek
Baparantian kato sutan

SERBANEKA ADAT MINANGKABAU DARI BERBAGAI TINJAUAN
Ada empat tingkatan adat di Minangkabau.
1.  Adat Nan Sabana Adat
Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah oleh keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan hukum. Di dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati; atau adat babuhua mati.
Adat nan sabana adat bersumber dari alam. Pada hakikatnya, adat ini ialah kelaziman yang terjadi dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, adat Minangkabau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu melahirkan konsep dasar pelaksanaan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullahdan syarak mangato, adat mamakai. Dari konsep itu lahir pulalah falsafah dasar orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru.
Adat nan sabana adat menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di Minangkabau. Ia berfungsi sebagai landasan utama dari norma, hukum, dan aturan-aturan masyarakat Minangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan, dan peraturan-peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana adat.
2.  Adat Nan Diadatkan
Adat nan diadatkan adalah adat buatan yang direncanakan, dirancang, dan disusun oleh nenek moyang orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aturan yang berupa adat nan diadatkan disampaikan dalam petatah dan petitih, mamangan, pantun, dan ungkapan bahasa yang berkias.
Orang Minangkabau mempercayai dua orang tokoh sebagai perancang, perencana, dan penyusun adat nan diadatkan, yaitu Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan. Inti dari adat nan diadatkan yang dirancang Datuak Parpatiah Nan Sabatang ialah demokrasi, berdaulat kepada rakyat, dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Sedangkan adat yang disusun Datuak Katumangguangan intinya melaksanakan pemerintahan yang berdaulat ke atas, otokrasi namun tidak sewenang-wenang.
Sepintas, kedua konsep adat itu berlawanan. Namun dalam pelaksanaannya kedua konsep itu bertemu, membaur, dan saling mengisi. Gabungan keduanya melahirkan demokrasi yang khas di Minangkabau. Diungkapkan dalam ajaran Minangkabau sebagai berikut:
Bajanjang naiak, batanggo turun.
Naiak dari janjang nan di bawah, turun dari tanggo nan di ateh.
Titiak dari langik, tabasuik dari bumi.
Penggabungan kedua sistem ini ibarat hubungan legislatif dan eksekutif di sistem pemerintahan saat ini.
3.  Adat Nan Taradat
Adat nan taradat adalah ketentuan adat yang disusun di nagari untuk melaksanakan adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan nagarinya. Adat ini disusun oleh para tokoh dan pemuka masyarakat nagari melalui musyawarah dan mufakat. Dari pengertian itu lahirlah istilah adat salingkuang nagari.
Adat nan taradat disebut juga adat babuhua sentak, artinya dapat diperbaiki, diubah, dan diganti. Fungsi utamanya sebagai peraturan pelaksanaan dari adat Minangkabau. Contoh penerapannya antara lain dalam upacara batagak pangulu, turun mandi, sunat rasul, dan perkawinan.
4.  Adat Istiadat
Adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam suatu nagari. Peraturan ini menampung segala kemauan anak nagari yang sesuai menurut alua jo patuik, patuik jo mungkin. Aspirasi yang disalurkan ke dalam adat istiadat ialah aspirasi yang sesuai dengan adat jo limbago, manuruik barih jo balabeh, manuruik ukuran cupak jo gantang, manuruik alua jo patuik.
Ada dua proses terbentuknya adat istiadat. Pertama, berdasarkan usul dari anak nagari, anak kemenakan, dan masyarakat setempat. Kedua, berdasarkan fenomena atau gejala yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Ini diungkapkan dalam kato pusako:
Tumbuah bak padi digaro, tumbuah bak bijo disiang.
Elok dipakai, buruak dibuang.
Elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan.
Adat istiadat umumnya berbentuk kesenangan atau hobi anak nagari seperti kesenian dan olahraga.

Adat Nan Ampek Serta Contoh-Contohnya
Oleh : Tuanku Mangkudun

Prolog
Assalamualaikum, wr.wb.
Berbulan2 pertanyaan tentang adat nan ampek tidak saya jawab.
Saya belajar adat tidak melalui dunia akademis. Pelajaran yang diberikan oleh mamak2 dan bapak2 saya, berkulindan tanpa struktur. Saya harus membangun sendiri “struktur” pemahaman saya terhadap adat. Saya belum menjawab selama ini, karena belum menemukan “formula” atau cara memaparkan yang efektif efisien.
Efektif = sampai kepada maksud sebenarnya,
Efisien = mudah dipahami.
Kali ini saya berusaha membahasnya, dengan mencoba menjawab pertanyaan.
1. Apa yang dimaksud dengan adat..?
2. Apa makna dan contoh “nan sabana adat”?
3. Apa makna dan contoh “nan diadatkan”?
4. Apa makna dan contoh “istiadat”?
5. Apa makna dan contoh “nan teradat”?
I. APA YANG DIMAKSUD DENGAN ADAT ?
 Adat adalah “way of life”, dalam pengertian sederhana: “pandangan hidup”.
Adat Minangkabau adalah bagaimana pandangan hidup orang Minangkabau, dengan pandangan hidup itu mereka menjalani kehidupan. Manusia hidup di muka bumi memiliki pandangan hidup: terhadap diri dan Tuhan-nya, terhadap alam sekitarnya, terhadap keluarganya, terhadap masyarakatnya, terhadap bangsanya, dan terhadap dunia/semesta.
Jadi: Adat Minangkabau adalah: BAGAIMANA pandangan hidup orang Minangkabau, dengan pandangan hidup itu orang Minangkabau menjalani kehidupan.  Untuk selanjutnya, yang dimaksudkan dengan “adat” adalah: adat Minangkabau yang diwariskan niniak muyang orang Minangkabau melalui “tambo”.
(Harap dibaca juga: dokumen2 tentang tambo).
Semua pandangan hidup (ideal) tersebut tampil/terwujud menjadi: 
HUKUM ADAT, UNDANG ADAT, PITUAH & MAMANGAN ADAT.
II. APA MAKNA DAN CONTOH “NAN SABANA ADAT” ?
nan sabana adat : adalah pandangan hidup yang substantif; substansi/ hakikat suatu tindakan/perilaku. Jadi: nan sabana adat adalah substansi KEBAIKAN yang ada dalam pandangan hidup dan perilaku orang Minang.
Pandangan hidup ini disepakati paling kuat dan paling merata mempengaruhi adat Minangkabau.
Pandangan hidup substantif ini berlaku universal, maka dicontohkan dengan: adat api mambaka, adat aia mambasahi.
Mana “nan sabana adat” dalam pandangan hidup orang Minangkabau ?
Semua pandangan hidup unversal di dunia diakui sebagai pandangan hidup orang Minang.
Pandangan ketuhanan, kejujuran, kedamaian, keindahan, kasih sayang, keadilan, empati, kerjasama, adalah nilai2 universal yang ada dalam “pandangan ideal” orang Minang.
Ada pituah dan mamangan adat tentang semua pandangan universal tersebut.Ini lah “nan sabana adat”.
Di samping “pandangan hidup universal” tersebut, orang Minangkabau memiliki pandangan hidup khas Minangkabau, yang menjadi ciri “nan sabana adat” Minangkabau, antara lain:
– Alam takambang jadi guru
– Nan baiak budi nan indah baso
– Musyawarah mufakat, bulek aia ka pambuluah, bulek kato dipaiyokan
– Perlindungan terhadap perempuan dan anak2, (walaupun ini pandangan universal, tapi hanya Minangkabau yang menjadikannya “hukum adat” melalui harta komunal).
III. APA MAKNA DAN CONTOH “NAN DIADATKAN” ?
nan diadatkan (nan dijadikan adat) : tindakan/perilaku yang telah disepakati niniak muyang sebagai adat Minangkabau. Ini semua menjadi pola kehidupan bermasyarakat KHAS Minangkabau.
Sumber dari pandangan hidup “nan diadatkan” adalah penjabaran niniak muyang terhadap nilai universal dan DIADATKAN (dijadikan patokan cara hidup).
Contoh:
Suku, kaum, Sako, Pusako : adalah sistem hidup komunal sebagai penjabaran: kebersamaan, perlindungan terhadap perempuan dan anak2, kerjasama.
Semua itu diadatkan (dijadikan adat) oleh niniak muyang dengan dasar pandangan universal, dengan tujuan/maksud dan kearifan untuk mempertahankan dan melanjutkan Minangkabau.
Kalau nan diadatkan tersebut berubah, maka perubahan itu juga terjadi pada “pandangan hidup” orang/masyarakat yang merubahnya.
Contoh:
Ketika terjadi ribut/heboh perdebatan HPT,
Sesungguhnya yang terjadi adalah: TERGERUSNYA/HILANGNYA kearifan, pandangan hidup “kebersamaan”, “kekeluargaan”, “kehidupan komunal”, “perlindungan masa depan perempuan dan anak2”.
Berubah menjadi pandangan hidup “individualis”,
Akhirnya menjadi “homo homini lupus”,
Menghapus nan diadatkan (suku, kaum, sako, pusako) adalah menghapus Minangkabau.
IV. APA MAKNA DAN CONTOH “ISTIADAT” ?
 istiadat : tindakan/perilaku yang dipandang baik secara bersama, disepakati untuk dilaksanakan, terjadi pengulangan tanpa penolakan.
Pada dasarnya, istiadat adalah PENJABARAN dari “pandangan hidup universal” dalam bentuk2 khas sesuai kreatifitas dan dukungan kondisi.
istiadat (pengulangan dan penjabaran) pandangan hidup universal.
Contoh 1:
Pandangan hidup universal: (1) musyawarah mufakat, (2) nan baiak budi, nan indah baso
Dijabarkan dalam istiadat: pidato adat, pasambahan, panitahan, kato-bajawek.
Contoh 2:
Pandangan hidup universal: (1) kemanusiaan, (2) empati, (3) solidaritas/kebersamaan
Dalam Islam pandangan universal ini disebut: silaturrahim.
Dijabarkan dalam istiadat: hiduik jalang-manjalang, sakik silau-manyilau, mati janguak-manjanguak.
V. APA MAKNA DAN CONTOH “NAN TERADAT” ?
teradat (ter-adat-kan, menjadi adat karena disukai) : tindakan/perilaku yang disenangi/disukai untuk dilakukan secara berulang2, memperoleh penguatan masyarakat.
nan teradat adalah KESUKAAN anak nagari seperti kesenian, olah raga, pencak silat randai, talempong, berbagai jenis pakaian laki-laki, pakaian wanita, berbagai jenis2 makanan. Termasuk karya seni ruang: ukiran, marawa, umbua2, gaba2, pelaminan dsb.
Sebenarnya,
Semua nan teradat (kan) merupakan penjabaran/pengembangan dari pandangan universal mengenai “keindahan”, “kedamaian”, “kebahagiaan”.
VI. PENAMAAN DAN URUTAN ADAT NAN AMPEK
Penamaan dan urutan ke empat jenis atau tingkatan tersebut sangat bervariasi/beragam.
Hanya satu yang disepakati secara sama: nan sabana adat diakui “paling tinggi”, “paling penting” “paling utama”, dsb.
Apakah tiap perilaku orang Minang terkait dengan (hanya) satu di antaranya?
Menurut saya:
Setiap perilaku/tindakan orang Minang dipengaruhi ke-empat adat tersebut.
Ada pengaruh yang kuat, ada yang lemah.
Jadi kalau didalami:
SETIAP PERILAKU/TINDAKAN orang Minang DIDORONG SALAH SATU jenis adat tersebut.
SETIAP PERILAKU/TINDAKAN orang Minang mengandung KEEMPAT jenis adat tersebut.
Khusus istiadat dan nan teradat, sering terbolak-balik, bertukar pemahaman.
 Catatan:
Peluang terjadinya “penyimpangan” atau “pertentangan” dengan syarak sangat besar pada istiadat dan nan teradat. Karena keduanya merupakan PENJABARAN/PENGEMBANGAN dari nilai/pandangan universal.
Penjabaran.pengembangan yang berlebihan, sering menimbulkan kritik dari pengkaji syarak.
Tapi, sering terjadi, kritik hanya pada “penampilan” istiadat atau nan teradat. Jarang kritik berusaha menggali “nilai” atau “pandangan hidup” yang dikandungnya.
Wallahu’alam. Wassalamu’alaikum.wr.wb. 

Upacara Adat
1. Upacara Sepanjang Kehidupan Manusia
Upacara sepanjang kehidupan manusia ini dapat pula dibedakan sbb:
Lahir yang didahului oleh upacara kehamilan
Upacara Karek Pusek (Kerat pusat)
Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah)
Upacara Sunat Rasul
Mengaji di Surau
Tamat Kaji (khatam Qur’an)
Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-upacara semasa remaja ini adalah sbb:
manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.
Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.
Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama.
Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat.
baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan.
Mangaji halam jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.
Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.
Setelah dewasa maka upacara selanjutnya adalah upacara perkimpoian. Pada umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam masalah nikah kimpoi sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam pelaksanaan nikah kimpoi dikatakan “nikah jo parampuan, kimpoi dengan kaluarga”. Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu perkimpoian harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas kemauan muda-mudi saja. Dalam proses perkimpoian acara yang dilakukan adalah sbb:
Pinang-maminang (pinang-meminang)
Mambuek janji (membuat janji)
Anta ameh (antar emas), timbang tando (timbang tando)
Nikah
Jampuik anta (jemput antar)
Manjalang, manjanguak kandang (mengunjungi, menjenguk kandang). Maksudnya keluarga laki-laki datang ke rumah calon istri anaknya
Baganyie (merajuk)
Bamadu (bermadu)
Dalam acara perkimpoian setiap pertemuan antara keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki tidak ketinggalan pidato pasambahan secara adat.
Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:
Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)
Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)
Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)
Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)
Doa talakin panjang di kuburan
Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari. Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.
2. Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian
Upacara yang berkaitan dengan perekonomian seperti turun kesawah, membuka perladangan baru yang dilakukan dengan upacara-upacara adat. Untuk turun kesawah secara serentak juga diatur oleh adat. Para pemangku adat mengadakan pertemuan terlebih dahulu, bila diadakan gotong royong memperbaiki tali bandar dan turun kesawah. Untuk menyatakan rasa syukur atas rahmat yang diperoleh dari hasil pertanian biasanya diadakan upacara-upacara yang bersifat keluarga maupun melibatkan masyarakat yang ada dalam kampung. Pada masa dahulu diadakan pula upacara maulu tahun (hulu tahun), maksudnya pemotongan padi yang pertama sebelum panen keseluruhan. Diadakan upacara selamatan dengan memakan beras hulu tahun ini. Upacara dihadiri oleh Ulama dan Ninik mamak serta sanak keluarga. Adapun acara yang berkaitan dengan turun kesawah ini adalah sbb:
Gotong royong membersihkan tali bandar
Turun baniah, maksudnya menyemaikan benih
Turun kasawah (turun ke sawah)
Batanam (bertanam)
Anta nasi (megantarkan nasi)
Basiang padi (membersihkan tanaman yang mengganggu padi)
Tolak bala (upacara untuk menolak segala malapetaka yang mungkin menggagalkan pertanian)
manggaro buruang (mengusir burung)
Manuai (menuai), manyabik padi (potong padi)
Makan ulu tahun (makan hulu pertahunan)
Tungkuk bubuang (telungkup bubung)
Zakat.
3. Upacara Selamatan
Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat banyak ditemui upacara selamatan. Bila diperhatikan ada yang sudah diwarisi sebelum Islam masuk ke Minangkabau. Doa selamat ini untuk menyatakan syukur atau doa selamat agar mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa upacara yang termasuk doa selamatan ini seperti :
Upacara selamatan atas kelahiran, turun mandi, bacukua (bercukur), atau memotong rambut pertama kali.
Upacara selamatan dari suatu niat atau melepas nazar. Sebagai contoh setelah sekian lama sakit dan si sakit kemudian atau keluarganya berniat bila seandainya sembuh akan dipanggil orang siak dan sanak famili untuk menghadiri upacara selamatan.
Selamat pekerjaan selesai.
Selamat pulang pergi naik haji
Selamat lepas dari suatu bahaya
Selamat hari raya
Selamat kusuik salasai, karuah manjadi janiah (selamat kusut selesai, keruh menjadi jernih).
Upacara selamat diadakan karena adanya penyelesaian mengenai suatu permasalahan baik yang menyangkut dengan masalah kekeluargaan maupun yang menyangkut dengan adat, Maulud nabi,dll
Dengan banyaknya upacara yang dilakukan dalam masyarakat Minangkabau secara tidak langsung juga sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat dan juga dalam alih generasi yang berkaitan dengan adat dan agama di Minangkabau.
3. P E N G H U L U
1.*Arti Penghulu
Setelah nenek moyang orang Minang mempunyai tempat tinggal yang tetap maka untuk menjamin kerukunan, ketertiban, perdamaian dan kesejahteraan keluarga, dibentuklah semacam pemerintahan suku.
Tiap suku dikepalai oleh seorang Penghulu Suku.
Hulu artinya pangkal, asal-usul, kepala atau pemimpin. Hulu sungai artinya pangkal atau asal sungai yaitu tempat dimana sungai itu berasal atau berpangkal. Kalang hulu artinya penggalang atau pengganjal kepala atau bantal.
Penghulu berarti Kepala Kaum
Semua Penghulu mempunyai gelar Datuk
Datuk artinya ” Orang berilmu – orang pandai yang di Tuakan” atau Datu-datu.
Kedudukan penghulu dalam tiap nagari tidak sama. Ada nagari yang penghulunya mempunyai kedudukan yang setingkat dan sederajat. Dalam pepatah adat disebut “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Penghulu yang setingkat dan sederajat ini adalah di nagari yang menganut “laras” (aliran) Bodi-Caniago dari keturunan Datuk Perpatih nan Sabatang.
Sebaliknya ada pula nagari yang berkedudukan penghulunyu bertingkat-tingkat yang didalam adat disebut “Berjenjang naik bertangga turun”, yaitu para Penghulu yang menganut laras (aliran) Koto – Piliang dari ajaran Datuk Katumanggungan.
Balai Adat dari kedua laras ini juga berbeda. Balai Adat dari laras Bodi Caniago dari ajaran Datuk Perpatih nan Sabatang lantainya rata, melambangkan “duduk sama rendah – tegak sama tinggi”.
Balai Adat dari laras Koto Piliang yang menganut ajaran Datuk Katumanggungan lantainya mempunyai anjuang di kiri kanan, yang melambangkan kedudukan Penghulu yang tidak sama, tetapi “berjenjang naik – batanggo turun”.
Kendatipun kedudukan para penghulu berbeda di kedua ajaran adat itu, namun keduanya menganut paham demokrasi. Demokrasi itu tidak ditunjukkan pada cara duduknya dalam persidangan, dan juga bentuk balai adatnya yang memang berbeda, tetapi demokrasinya ditentukan pada sistem “musyawarah – mufakat”. Kedua sistem itu menempuh cara yang sama dalam mengambil keputusan yaitu dengan cara “musyawarah untuk mufakat”.
2.*Kedudukan dan peranan penghulu
Di dalam pepatah adat disebut;
Luhak Bapanghulu
Rantau barajo
Hal ini berarti bahwa penguasa tertinggi pengaturan masyarakat adat di daerah Luhak nan tigo – pertama Luhak Tanah Datar – kedua Luhak Agam dan ketiga Luhak 50-Koto berada ditangan para penghulu. Jadi penghulu pemegang peranan utama dalam kehidupan masyarakat Adat.
Pepatah merumuskan kedudukan dan peranan penghulu itu sebagai berikut;
Nan tinggi tampak jauh *(Yang tinggi tampak jauh)
Nan gadang jolong basuo *(Yang besar mula ketemu)
Kayu gadang di tangah padang *(Pohon besar di tengah padang)
Tampek balinduang kapanasan *(Tempat berlindung kepanasan)
Tampek bataduah kahujanan *(Tempat berteduh kehujanan)
Ureknyo tampek baselo *(Uratnya tempat bersila)
Batangnyo tampek basanda *(Batangnya tempat bersandar)
pai tampek batanyo *(Pergi tempat bertanya)
Pulang tampek babarito *Pulang tempat berberita
Biang nan akan menambuakkan (*Biang yang akan menembus)
Gantiang nan akan mamutuihkan (*Genting yang akan memutus)
Tampek mangadu sasak sampik *(Tempat mengadu kesulitan)
Dengan ringkas dapat dirumuskan kedudukan dan peranan Penghulu sebagai berikut;
Sebagai pemimpin yang diangkat bersama oleh kaumnya sesuai rumusan adat
Jadi Penghulu sakato kaum
Jadi Rajo sakato alam
Sebagai pelindung bagi sesama anggota kaumnya.
Sebagai Hakim yang memutuskan semua masalah dan silang sengketa dalam kaumnya.
Sebagai tumpuan harapan dalam mengatasi kehidupan kaumnya.
3. Syarat-syarat untuk menjadi Penghulu
Baik buruknya keadaan masyarakat adat akan ditentukan oleh baik buruknya Penghulu dalam menjalankan keempat fungsi utamanya diatas.
Pepatah menyebutkan sebagai berikut;
Elok Nagari dek Penghulu
Elok tapian dek nan mudo
Elok musajik dek Tuanku
Elok rumah dek Bundo Kanduang.
Oleh karena Penghulu mempunyai tugas yang berat dan peranan yang sangat menentukan dalam masyarakat adat, maka dengan sendirinya yang harus diangkat jadi penghulu itu, adalah orang yang mempunyai “bobot” atas sifat-sifat tertentu.
Perlu dicatat disini bahwa Adat Minang secara mutlak menetapkan bahwa penghulu hanya pria dan tidak boleh wanita. Disini jelas dan mutlak pula bahwa sistem kekerabatan matrilinial tidak dapat diartikan dengan “wanita yang berkuasa”. Satu dan lain karena keempat unsur utama seorang penghulu seperti sebagai Pemimpin, Pelindung, Hakim dan Pengayom yang merupakan unsur-unsur yang sangat dominan dalam menentukan “kekuasaan”, berada di tangan pria yaitu di tangan penghulu yang justru mutlak seorang pria itu.
Pepatah adat menetapkan sifat-sifat orang yang disyaratkan menjadi penghulu itu adalah sebagai berikut;
Nan cadiak candokio *(Yang cerdik cendekia)
Nan arif bijaksano *(Yang arif bijaksana)
nan tau diunak kamanyangkuik *(Yang tahu duri yang akan menyangkut)
nan tau dirantiang kamancucuak *(Yang tahu ranting yang akan menusuk)
Tau diangin nan basiru *(Tahu angin yang melingkar)
Tau di ombak nan badabua *(Tahu ombak yang berdebur)
Tau dikarang nan baungguak *(Tahu karang yang beronggok)
Tau dipasang turun naiak *(Tahu pasang turun naik)
Tau jo ereng gendeng *(Tahu sindiran tingkah polah)
Tau dibayang kato sampai *(Tahu bayangan ujud kata)
alun bakilek lah bakalam *(Belum dijelaskan sudah paham)
Sakilek ikan dalam aie *(Selintas ikan dalam air)
Jaleh jantan batinyo *(Jelas sudah jantan betinanya)
Tau di cupak nan duo *(Tahu dengan undang-undang yang dua puluh)
Paham di Limbago nan sapuluah *(Tahu dengan lembaga hukum yang sepuluh.)
Dapat disimpulkan terdapat 4 (empat) syarat utama untuk dapat diangkat menjadi Penghulu diluar persyaratan keturunan sebagai berikut;
Berpengetahuan dan mempunyai kadar intelektual yang tinggi atau cerdik pandai.
Orang yang arif bijaksana.
Paham akan landasan pikir dan Hukum Adat Minang.
Hanya kaum pria yang akil-balig, berakal sehat.
4. *Sifat-Sifat Penghulu
Pakaian penghulu melambangkan sifat-sifat dan watak yang harus dipunyai oleh seorang penghulu. Arti kiasan yang dilambangkan oleh pakaian itu digambarkan oleh Dt. Bandaro dalam bukunya “Tambo Alam Minangkabau” dalam bahasa Minang sebagai berikut;
a. *Destar
Niniek mamak di Minangkabau *(Niniek mamak di Minangkabau)
Nan badeta panjang bakaruik *(Yang berdestar panjang berkerut)
Bayangan isi dalam kuliek *(Bayangan isi dalam kulit)
Panjang tak dapek kito ukue *(Panjang tak dapat kita ukur)
Leba tak dapek kito belai *(Lebar tak dapat kita sambung)
Kok panjangnyo pandindiang korong *(Panjangnya pendinding kampung)
Leba pandukuang anak kamanakan *(Lebarnya pendukung anak kemenakan)
Hamparan di rumah tanggo**(Hamparan di rumah tangga)
Paraok gonjong nan ampek *(Penutup gonjong yang empat)
Tiok liku aka manjala *(Tiap liku akal menjalar)
Tiok katuak ba undang undang *(Tiap lipatan berundang-undang)
Dalam karuik budi marangkak (*Dalam kerutan budi merangkak)
Tambuak dek paham tiok lipek *(Tembus karena paham tiap lipatan)
Manjala masuak nagari. *(Menjalar masuk negeri.)*

b. Baju
Babaju hitam gadang langan
Langan tasenseng tak pambangih *
Pangipeh Angek naknyo dingin *
Pambuang nan bungkuak sarueh *
Siba batanti timba baliek *
Gadang barapik jo nan ketek *
Tando rang gadang bapangiriang *
Tatutuik jahit pangka langan *
Tando membuhue tak mambuku *
Tando mauleh tak mangasan *
Lauik tatampuah tak berombak *
Padang ditampuah tak barangin *
Takilek ikan dalam aie *
Lah jaleh jantan batinonyo *
Lihienyo lapeh tak bakatuak *
Tando pangulu padangnyo lapang *alamnyo leba *
Indak basaku kiri jo kanan *
Tandonyo indak pangguntiang *dalam lipatan *
Indak panuhuak kawan seiriang
c.* sarawa
Basarawa hitam ketek kaki *
kapanuruik alue nan luruih *
panampuah jalan nan pasa *
ka dalam korong jo kampuang *
sarato koto jo nagari *
Langkah salasai baukuran 
martabat nan anam membatasi *
murah jo maha ditampeknyo *
ba ijo mako bakato *
ba tolam mako bajalan
d. *Kain Sarung
Sarung sabidang ateh lutuik
patuik senteng tak bulieh dalam *
patuik dalam tak bulieh senteng 
karajo hati kasamonyo *
mungkin jo patuik baukuran *
murah jo maha ditampeknyo *
e. *Karih
Sanjatonyo karih kabasaran 
samping jo cawek nan tampeknyo 
sisiknyo tanaman tabu *
lataknyo condong ka kida *
dikesong mako dicabuik *
Gembonyo tumpuan puntiang
Tunangannyo ulu kayu kamat *
bamato baliak batimba *
tajamnyo bukan alang kapalang *
tajamnyo pantang melukoi *
mamutuih rambuik diambuihkan *
Ipuahnyo turun dari langit *
bisonyo pantang katawaran *
jajak ditikam mati juo *
ka palawan dayo rang aluih *
ka palunak musuh di badan *
bagai papatah gurindam adat *
Karih sampono Ganjo Erah *
lahie bathin pamaga diri *
Kok patah lidah bakeh Allah *
patah karih bakeh mati *
f. *Tungkek
Pamenannyo tungkek kayu kamat
ujuang tanduk kapalo perak *
panungkek adat jo pusako *
Gantang nak tagak jo lanjuangnyo *
sumpik nan tagak jo isinyo*
5. *Peringatan bagi Penghulu
Falsafah pakaian rang penghulu *Di dalam luhak Ranah Minang
Kalau ambalau meratak ulu *
Puntiang tangga mato tabuang *
Kayu kuliek mengandung aie *
Lapuknyo sampai kapanguba *
Binaso tareh nan di dalam *
Kalau penghulu berpaham caie *
Jadi sampik alam nan leba *
Dunia akhirat badan tabanam *
Elok nagari dek pangulu *
Rancak tapian dek nan mudo *
Kalau kito mamacik ulu *
Pandai menjago puntiang jo mato *
Petitih pamenan andai *Petitih 
Gurindam pamenan kato *
Jadi pangulu kalau tak pandai *
Caia nagari kampung binaso *
Adat ampek nagari ampek *
Undangnyo ampek kito pakai *U
Cupak jo gantang kok indak dapek *
Luhak nan tigo tabangkalai *
Payakumbuah baladang kunik *
Dibao urang ka Kuantan *
Bapantang kuning dek kunik *
Tak namuah lamak dek santan
Sumber : www.cimbuak.net


Pengertian Adat

Dalam membicarakan pengertian adat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, diantaranya adalah asal kata adat, pengertian adat secara umum dan pengertian adat dalam Minangkabau.
1. Asal Kata Adat
Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau banyak mempergunakan kata adat terutama yang berkaitan dengan pandangan hidup maupun norma-norma yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan masyarakatnya. Kesemuan yaitu diungkapkan dalam bentuk pepatah, petitih, mamangan, ungkapan-ungkapan dan lain-lain. Sebagai contohnya dapat dikemukakan “…adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ; adat dipakai baru, kain dipakai usang, adat sepanjang jalan, cupak sepanjang batuang, adat salingka nagari; harato salingka kaum…”, dan lain-lain.
Walaupun banyak penggunaan kata-kata adat oleh orang Minangkabau, namun barangkali tidak banyak orang mempertanyakan asal usul dari kata adat tersebut. Tidak banyak literatur yang memperkatakan kata adat ini. Drs. Sidi Gazalba dalam bukunya pengantar kebudayaan sebagai ilmu mengatakan : “ adat adalah kebiasaan yang normatif “. Kalau adat dikatakan sebagai kebiasaan maka kata adat dalam pengertian ini berasal dari bahasa arab yaitu “adat”.
Sebagai bandingan, seorang pemuka adat Minangkabau, yaitu Muhammad Rasyid Manggis Dt. Rajo Penghulu dalam bukunya sejarah Ringkas Minangkabau Dan Adatnya mengatakan : adat lebih tua dari pada adat. Adat berasal dari bahasa sansekerta dibentuk dari “a”dan “dato”. “a” artinya tidak, “dato” artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. “a” artinya tidak, “dato” artinya sesuatu yang bersifat kebendaan. “adat” pada hakekatnya adalah segala sesuatu yang tidak bersifat kebendaan.
Dalam pembahasannya dapat disimpulkan bahwa adat yang tidak memikirkan kebendaan lagi merupakan sebagai kelanjutan dari kesempurnaan hidup, dengan kekayaan melimpah-limpah, sampailah manusia kepada adat yang tidak lagi memikirkan hal-hal yang tidak bersifat kebendaan. Selagi benda masih dapat menguasai seseorang, ataupun seseorang masih dapat diperhamba benda disebut orang itu belum beradab. Kalau diperhatikan kedua pendapat diatas, maka pendapat yang teakhir lebih bersifat filosofis dan ini mungkin dikaitkan dengan pengaruh agama hindu yang datang kemudian ke Indonesia.
Walaupun kata adat dengan ‘adat berlainan penafsiran dari arti yang terkandung pada kata tersebut namun keduanya ada kesamaan yaitu tujuannya sama-sama mengatur hidup dan kehidupan masyarakat agar menjadi baik.
Bagi orang Minangkabau sebelum masuknya pengaruh hindu dan islam, orang telah lama mengenal kata “buek”. Kata “buek” ini seperti ditemui dalam mamangan adat yang mengatakan kampuang bapaga buek, nagari bapaga undang (kampung berpagar buat, nagari berpagar undang). Buek inilah yang merupakan tuntunan bagi hidup dan kehidupan orang Minangkabau sebelum masuk pengaruh luar.
Oleh sebab itu masuknya perkataan adat dalam perbendaharaan bahasa Minangkabau tidak jadi persoalan karena hakekat dan maknanya sudah ada terlebih dahulu dalam diri masyarakat Minangkabau. Kata-kata “buek” menjadi tenggelam digantikan oleh kata adat seperti yang ditemui dalam ungkapan “minang babenteng adat, balando babenteng basi” (minang berbenteng adat, belanda berbenteng besi).
2. Pengertian Adat Secara Umum
Seperti dikatakan kata adat dalam masyarakat Minangkabau bukanlah kata-kata asing lagi, karena sudah merupakan ucapan sehari-hari. Namun demikian apakah dapat “adat” ini diidentikan dengan kebudayaan, untuk ini perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana pandangan ahli antropologi mengenai hubungan adat kebudayaan ini.
Dalam ilmu kebudayaan dan kemasyarakatan konsep kebudayaan sangat banyak sekali. Inventarisasi yang dilakukan oleh C. Kluckhohn dan A. L Kroeber ahli atropologi pada tahun 1952 telah ditemukan lebih kurang 179 defenisi. Tetapi yang sifatnya dan banyak dipakai para ahli adalah pendapat C. Kluckhohn yang memberikan batasan kebudayaan sebagai berikut:
“kebudayaan adalah keseluruhan dari gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang berupa satu sistem dalam rangka kehidupan masyarakat yang dibiasakan oleh manusia dengan belajar”.
Kata kebudayaan dalam istilah inggris adalah “culture” yang berasal dari bahasa latin “colere”yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah atau pertanian. Dari pengertian ini kemudian berkembang menjadi “culture”. Istilah “culture” sebagai istilah teknis dalam penulisan oleh ahli antropologi inggris yang bernama Edwar B. Tylor mengatakan bahwa “culture” berarti “complex whole of ideas and thinks produced by men in their historical experlence”. Sesudah itu pengertian kultur berkembang terus dikalangan antroplogi dunia. Sebagai istilah umum “culture” mempunyai arti, kesopanan, kebudayaan, pemeliharaan atau perkembangan dan pembiakan.
Bahasa Indonesia sendiri mempunyai istilah budaya yang hampir sama dengan culture, dengan arti kata, kata kebudayaan yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia bukanlah merupakan terjemahan dari kata “culture”. Kebudayaan berasal dari kata sansekerta “buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi. Budhi berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian kata buddhayah (budaya) yang mendapatkan awalan ke- dan akhiran –an, mempunyai arti “hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal”. Berdasarkan dari asal usul kata ini maka kebudayaan berarti hal-hal yang merupakan hasil dari akal manusia dan budinya. Hasil dari akal dan budi manusia itu berupa tiga wujud, yaitu wujud ideal, wujud kelakuan, dan wujud kebendaan.
Wujud ideal membentuk kompleks gagasan konsep dan fikiran manusia. Wujud kelakuan membentuak komplek aktifitas yang berpola. Sedangkan wujud kebendaan menghasilkan benda-benda kebudayaan. Wujud yang pertama disebut sistim kebudayaan. Wujud kedua dinamakan sistim sosial sedangkan ketiga disebut kebudayaan fisik.
Bertitik tolak dari konsep kebudayaan Koen Cakraningrat membicarakan kedudukan adat dalam konsepsi kebudayaan. Menurut tafsirannya adat merupakan perwujudan ideal dari kebudayaan. Ia menyebut adat selengkapnya sebagai adat tata kelakuan. Adat dibaginya atas empat tingkat, yaitu tingkat nilai budaya, tingkat norma-norma, tingkat hukum dan tingkat aturan khusus. Adat yang berada pada tingkat nilai budaya bersifat sangat abstrak, ia merupakan ider-ide yang mengkonsesikan hal-hal yang paling berniali dalam kehidupan suatu masyarakat. Seperti nilai gotong royong dalam masyarakat Indonesia. Adat pada tingkat norma-norma merupakan nilai-nilai budaya yang telah terkait kepada peran-peran tertentu (roles), peran sebagai pemimpin, peran sebagai mamak, peran sebagai guru membawakan sejumlah norma yang menjadi pedoman bagi kelakuannya dalam hal memainkan peranannya dalam berbagai kedudukan tersebut.
Selanjutnya adat pada tingkat aturan-aturan yang mengatur kegiatan khusus yang jelas terbatas ruang lingkupnya pada sopan santun. Akhirnya adat pada tingkat hukum terdiri dari hukum tertulis dan hukum adat yang tidak tertulis.
Dari uraian-uraian di atas ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, bahwa kebudayaan merupakaan hasil dari budi daya atau akal manusia, baik yang berwujud moril maupun materil. Disamping itu adat sendiri dimaksudkan dalam konsep kebudayaan dengan kata lain adat berada dalam kebudayaan atau bahagian dari kebudayaan.
3. Pengertian Adat Dalam Adat Minangkabau
Bagi orang Minangkabau, adat itu justru merupakan “kebudayaan” secara keseluruhannya. Karena didalam fakta adat Minangkabau terdapat ketiga bagian kebudayaan yang telah dikemukakan oleh Koencaraningrat, yaitu adat dalam pengertian dalam bentuk kato, cupak, adat nan ampek dan lain-lain. Adat dalam pengertian tata kelakuan berupa cara pelaksanaannya sedangkan adat dalam pengertian fisik merupakan hasil pelaksanaannya. Malahan bila dibandingkan dengan pengertian culture yang berasal dari kata “colere”maka dapat dikatakan bahwa orang Minangkabau bukan bertitik tolak dari mengolah tanah melainkan lebih luas lagi yang diolah yaitu alam, seperti yang dikatakan : “alam takambang jadi guru” (alat terkembang jadikan guru).
Bertitik tolak dari nilai-nilai dasar orang Minangkabau yang dinyatakan dalam ungkapan “alam takambang jadikan guru” maka orang Minangkabau membuat katagori adat sebagai berikut:
a. Adat Nan Sabana Adat
b. Adat Istiadat
c. Adat Yang Diadatkan
d. Adat Yang Teradat
Sedangkan M. Rasyid Manggis Dt Rajo Penghulu memberi urutan yang berbeda seperti berikut:
1. Adat Nan Babuhua Mati, yakni
a. Adat Nan Sabana Adat
b. Adat Nan Diadatkan
2. Adat Nan Babuhua Sentak, yakni
c. Adat Nan Teradat
d. Adat Istiadat
Bila dikumpulkan literatur mengenai katagori adat ini sangat banyak sekali. Dari pendapat yang banyak sekali itu ada kesamaan dan ada perbedaannya. Kesamaannya hanya terlihat dalam “adat nan ampek” sedangkan penafsirannya terdapat perbedaan dan malahan urutannya juga. Menurut isinya serta urutannya paling umum adalah pendapat yang dikemukakan oleh M. Rasyid Manggis Dt Rajo Penghulu di atas.
Pengertian dari adat nan ampek di atas dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Adat Nan Sabana Adat
Adat nan sabana adat (adat yang sebenar adat) merupakan yang palingkuat (tinggi) dan bersifat umum sekali, yaitu nilai dasar yang berbentuk hukum alam. Kebenarannya bersifat mutlak seperti dikatakan : adat api mambaka, adat aia membasahi, tajam adatnyo melukoi, adat sakik diubeti. Ketentuan-ketentuan ini berlaku sepanjang masa tanpa terikat oleh waktu dan tempat.
b. Adat Nan Diadatkan
Adat nan diadatkan merupakan warisan budaya dari perumus adat Minangkabau yaitu Datuak. Katumanggungan dan Datauk Perpatih Nan Sabatang.
Adat nan diadatkan mengenai:
Peraturan hidup bermasyarakat orang Minangkabau secara umum dan sama berlaku dalam Luhak Nan Tigo sebagai contoh
1. Garis keturunan menurut ibu
2. Sistim perkawinan eksogami
3. Pewarisan sako dan pusako
4. Limbago nan sapuluah
5. Garis keturunan pewarisan sako dan pusako dan lain-lain.
c. Adat Nan Teradat
Adat Nan Teradat merupakan hasil kesepakatan penghulu-penghulu dalam satu-satu nagari. Di sini berlaku lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.
d. Adat Istiadat
Adat istiadat adalah kebiasaan umum yang berasal dari tiru-meniru dan tidak diberi kekuatan pengikat oleh penghulu-penghulu seperti permainan anak-anak muda seni dan lain-lain serta tidak bertentangan dengan adat nan teradat.

B.2. Lareh Koto Piliang dan Bodi Chaniago
1. Asal Kata dan Pengertian Kata Kelarasan
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali terjadi kerancuan mengenai kata “lareh” dengan kata “laras”. Dalam bahas daerah Minangkabau, kata “lareh” berarti hukum, yaitu hukum adat. Jadi lareh Koto Piliang berarti Hukum Adat Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago berarti Hukum Adat Bodi Caniago. Disamping itu kata lareh berarti “daerah” seperti Lareh Nan Panjang.
Menurut kepercayaan orang Minangkabau yang berpedoman kepada tambo Alam Minangkabau, pertama sekali didirikan Lareh Nan Panjang yang berpusat di Pariangan Padang Panjang yang dianggap sebagai nagari tertua di Minangkabau. Pucuk pimpinan pada waktu itu Dt. Suri Dirajo. Nagari yang termasuk daerah Lareh Nan Panjang adalah : Guguak Sikaladi, Pariangan, Padang Panjang, Sialahan, Simabua, Galogandang Turawan, Balimbiang. Daerah ini dikatakan juga Nan Sahiliran Batang Bangkaweh, hinggo Guguak Hilia, Hinggo Bukik Tumansu Mudiak.
Semasa penjajahan Belanda daerah Minangkabau dijadikan Kelarasan yang dikepalai oleh seorang Laras atau Regent. Kelarasan bikinan penjajahan Belanda ini merupakan gabungan beberapa Nagari dan tujuannya lebih mempermudah pengontrolan oleh penjajah. Yang menjadi laras atau regent ditunjuk oleh Belanda. Setelah penjajahan Belanda berakhir, maka kelarasan bikinan Belanda ini juga lenyap tidak sesuai dengan susunan pemerintahan secara adat yang berlaku di Minangkabau.
2. Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago dengan Daerahnya.
Yang termasuk lareh Koto Piliang dengan pengertian yang memakai sistem adat Koto Piliang disebut Langgam Nan Tujuah. Langgam Nan Tujuh itu adalah sebagai berikut:
1. Sungai Tarab Salapan Batu, disebut Pamuncak Koto Piliang
2. Simawang Bukik Kanduang, disebut Perdamaian Koto Piliang
3. Sungai Jambu Lubuak Atan, disebut Pasak Kungkuang Koto Piliang
4. Batipuah Sepuluh Koto disebut Harimau Campo Koto Piliang
5. Singkarak Saniang Baka, disebut Camin Taruih Koto Piliang
6. Tanjung Balik, Sulik Aia, disebut Cumati Koto Piliang
7. Silungkang, Padang Sibusuak, disebut Gajah Tongga Koto Piliang
Disamping Langgam Nan Tujuh, nagari-nagari lain yang termasuk Lareh Koto Piliang adalah Pagaruyuang, Saruaso, Atar, Padang Gantiang, Taluak Tigo Jangko, Pangian, Buo, Bukik Kanduang, Batua, Talang Tangah, Gurun, Ampalu, Guguak, Padang Laweh, Koto Hilalang, Sumaniak, Sungai Patai, Minangkabau, Simpuruik, Sijangek.
Pusat pemerintahan Lareh Koto Piliang di Bungo Satangkai Sungai Tarab. Dengan demikian pusat pemerintahan sudah tidak di pariangan padang panjang lagi. Daerah-daerah yang termasuk Lareh Bodi Canago disebut juga dalam tambo “Tanjuang Nan Tigo, Lubuak Nan Tigo” :
Tanjuang Nan Tigo
1. Tanjuang Alam
2. Tanjuang Sungayang
3. Tanjuang Barulak
Lubuak Nan Tigo
1. Lubuak Sikarah di Solok
2. Lubuak Simauang di Sawahlunto Sijunjung
3. Lubuak Sipunai di Tanjuang Ampalu
Disamping Lubuak Nan Tigo dan Tanjuang Nan Tigo, yang termasuk Lareh Bodi Caniago juga adalah Limo Kaum XII Koto dan sembilan anak kotonya. Daerah yang termasuk XII Koto adalah: Tabek, Sawah Tengah, Labuah, Parambahan, Sumpanjang, Cubadak, Rambatan, Padang Magek, Ngungun, Panti, Pabalutan, Sawah Jauah. Sembilan Anak Koto Terdiri Dari : Tabek Boto, Salaganda, Baringin, Koto Baranjak, Lantai Batu, Bukik Gombak, Sungai Ameh, Ambacang Baririk, Rajo Dani. Pusat pemerintahan di Dusun Tuo Limo Kaum.
Suatu peninggalan Lareh Bodi Caniago yang sampai saat sekarang merupakan monumen sejarah adalah Balairung Adat yang terdapat di desa Tabek. Di Balairung Adat inilah segala sesuatu dimusyawarahkan oleh ninik mamak bodi caniago pada masa dahulu.
3. Beberapa Pendapat Tentang Lahirnya Koto Piliang dan Bodi Caniago
Mengenai lahirnya Koto Piliang dan Bodi Caniago ada beberapa versi. Datuk Batuah Sango dalam bukunya Tambo Alam Minangkabau mengemukakan sebagai berikut :
“…sesudah itu mufakatlah nenek Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang dengan Datuk Suri Dirajo hendak membagi kelarasan, maka dibagilah oleh orang yang bertiga itu menjadi dua kelarasan…”.
Adapun sebabnya dibagi dua laras negeri itu yaitu karena yang menjadi kepala atau yang punya pemerintahan ialah Datuk Ketumanggungan, dialah yang menjadi raja pada waktu itu. Sebab Datuk Ketumanggungan ini adalah anak dari raja, dan datuk perpatih ini yaitu di bawah Datuk Ketumanggungan sebagai berpangkat mangkubumi (perdana menteri) karena ia adalah orang yang pandai mengatur kerajaan sehingga negeri pariangan padang panjang menjadi besar dan sempurna peraturannya.
Dan dapat pula ia meluaskan pemerintahan samapai ke durian ditakuak rajo hingga sialang balantak basi sampai ke sipisau-pisau hanyuik hingga semuanya adalah oleh peraturan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Oleh karena itu berfikirlah Datuk Ketumanggungan akan membalas jasa usaha dari Datuk Perpatih Nan Sabatang dan mufakatlah Datuk Ketumanggungan, Datuk Perpatih Nan Sabatang serta Datuk Suri Dirajo dengan segala penghulu-penghulu, manti dan hulubalang, sambil Datuk Ketumanggungan bersuara lebih dahulu dalam kerapatan, karena nagari sudah ramai dan peraturan sudah sempurna diatur oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, tidaklah saya dapat membalas budinya itu melainkan negeri ini saya berikan sebagian supaya boleh ia berkuasa pula memerintah dalam negeri ini.
Sesudah bicara Datuk Ketumanggungan itu, maka dijawab oleh anggota kerapatan, itulah kata tuanku yang pilihan atau kata yang tak boleh dipalingkan lagi. Sebab itulah pemerintahan Datuk Ketumanggungan bernama Koto Piliang berasal dari kota pilihan, atau dari kata yang tidak boleh dipalingkan. Pemerintahan Datuk Perpatih Nan Sabatang bernama Bodi Caniago yang berasal dari budi yang berharga.
Untuk memperoleh pengertian dari kutipan diatas adalah, bahwa pada mulanya kepala pemerintahan adalah Datuk Ketumanggungan sesudah ayahnya meninggal dunia. Sedangkan yang membantunya sehari-hari adalah adiknya yang berlainan ayah yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang.
Berkenaan adiknya telah berrbuat baik dalam meluaskan daerah dan pemerintahan, timbulah niat saudaranya untuk membalas budi baik adiknya Datuk Perpatih Nan Sabatang. Niatnya ini disampaikan pada suatu sidang kerapatan adat. Setelah niatnya disampaikan kepada sidang kerapatan, untuk memberi daerah kekuasaannya sebagian kepada adiknya semua anggota sidang kerapatan setuju dengan rencana yang dikemukakan oleh Datuk Ketumanggungan. Bahkan dikatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Datuk Ketumanggungan tersebut, sudah merupakan kata pilihan, dengan arti kata tidak perlu lagi dipersoalkan.
Dari sinilah asal kata Koto Piliang yaitu dari kata yang pilihan. Sedangkan pemerintahan atau sistim adat Bodi Caniago berasal dari bodi baharago (budi yang berharga), yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang telah bertanam budi terlebih dahulu dan kemudian mendapat penghargaan dari saudaranya Datuk Ketumanggungan.
Pendapat lain mengatakan bahwa Bodi Caniago berasal dari kata “bodhi caniago” yang artinya berasal dari kata bhodi can yaga yang artinya bahwa budi nurani manusialah yang menjadi sumber kebajikan dan kebijakan. Sedangkan Koto Piliang berasal dari bahasa sansekerta yaitu ”koto pili” yang dari kata pili hyang artinya segala sesuatu bersumber sabda dari hyang dan pili sama artinya dengan karma atau dharma. Datuk Ketumanggungan seorang penganut hiduisme yang regilius, percaya manusia disusun dalam kerangka hirarki piramidal dengan pucuk, seorang pribadi yang merenungkan langit (hyang). Datuk Perpatih Nan Sabatang seorang egaliter, demokrat murni yang menilai tinggi kedudukan pribadi yang menganut persamaan dan kesamaan.
Pada dasarnya orang minangkabau sampai sekarang masih memegang teguh asal kata Koto Piliang dan Bodi Caniago yang bersumberkan kepada tambo Alam Minangkabau.
4. Berberapa Perbedaan Adat Koto Piliang Dengan Bodi Caniago
Ada beberapa perbedaan dalam kedua sistim adat ini seperti berikut:
a. Memutuskan Perkara
Menghadapi sesuatu permasalahan dalam memutuskan perkara, Bodi Caniago berpedoman kepada “…tuah dek sakato, mulonyo rundiang dimufakati, dilahia lah samo nyato di batin buliah diliekti…” (tuah karena sekata, mulanya rundingandimufakati, dilahir sudah sama nyata, dibatin boleh dilihat). Artinya sesuatu pekerjaan atau menghadapi sesuatu persolan terlebih dahulu hendaklah dimufakati, dimusyawarahkan. Hasil dari mufakat ini benar-benar atas suara bersama, sedangkan Koto Piliang berdasarkan kepada “…nan babarih nan bapahek, nan baukua, nan bakabuang : coreng barih buliah diliek, cupak panuah bantangnyo bumbuang…” ( yang digaris yang dipahat, yang diukur yang dicoreng : baris boleh dilihat, cupak penuh gantangnya bumbung). Pengertian segala undang-undang atau peraturan yang dibuat sebelumnya dan sudah menjadi keputusan bersama harus dilaksanakan dengan arti kata “terbujur lalu terbulintang patah”.
b. Mengambil Keputusan
Dalam mengambil suatu keputusan adat Bodi Caniago berpedoman kepada “…kato surang dibuleti katobasamo kato mufakat, lah dapek rundiang nan saiyo, lah dapek kato nan sabuah, pipiah dan indak basuduik bulek nan indak basandiang, takuruang makanan kunci, tapauik makanan lantak, saukua mako manjadi, sasuai mangko takana, putuih gayuang dek balabeh, putih kato dek mufakat, tabasuik dari bumi…”. (kata seorang dibulati, kata bersama kata mufakat, sudah dapat kata yang sebuah, pipih tidak bersudut, bulat tidak bersanding, terkurung makanan kunci, terpaut makanan lantak, seukur maka terjadi, sesuai maka dipasangkan, putus gayung karena belebas, putus kata karena mufakat, tumbuh dari bumi). Maksud dari sistem adat Bodi Caniago ini yang diutamakan sekali adalah sistem musyawarah mencari mufakat.
Sedangkan Koto Piliang yang menjadi ketentuannya, “…titiak dari ateh, turun dari tanggo, tabujua lalu tabalintang patah, kato surang gadang sagalo iyo, ikan gadang dalam lauik, ikan makannyo, nan mailia di palik, nan manitiak ditampung…” (titik dari atas, turun dari tanggga, terbujur lalu terbelintang patah, kata sorang besar segala iya, ikan besar dalam laut ikan makannya, yang mengalir di palit yang menitik ditampung).
c. Pengganti Gelar Pusaka
Pada lareh Bodi Caniago seseorang penghulu boleh hidup berkerilahan, yaitu mengganti gelar pusaka kaum selagi orangnya masih hidup. Hal ini bila yang digantikan itu sudah terlalu tua dan tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai pemimpin anak kemenakan. Dalam adat dikatakan juga “lurahlah dalam, bukiklah tinggi” (lurah sudah dalam, bukik sudah tinggi). Sedangkan pada lareh Koto Piliang “baka mati batungkek budi” (mati bertongkat budi) maksudnya gelarnya itu baru bisa digantikan setelah orangnya meninggal dunia.
d. Kedudukan Penghulu
Pada lareh Koto Piliang ada tingkatan-tingkatan penguasa sebagai pembantu penghulu pucuk, berjenjang naik bertangga turun. Tingkatan penghulu dalam nagari ada penghulu andiko, penghulu suku, dan penghulu pucuk. Penghulu pucuk inilah sebagai pucuk nagari. “bapucuak bulek, baurek tunggang” (berpucuk bulat berurat tunggang). Sedangkan pada Bodi Caniago semua penghulu sederajat duduknya “sahamparan, tagak sapamatang” (duduk sehamparan tegak sepematang).
e. Balai Adat dan Rumah Gadang
Balai adat lareh Koto Piliang mempunyai anjuang kiri kanan berlabuh gajah di tengah-tengah. Anjung kiri kanan ada tempat yang ditinggikan. Ini dari lantai yang lain untuk menempatkan penghulu-penghulu sesuai dengan fungsinya atau tingkatannya. Lantai rumah gadang Koto Piliang ada tingkatannya. Maksudnya juga bila ada persidangan penghulu-penghulu tidak sama tinggi kedudukannya, dia duduk sesuai dengan fungsinya dalam adat.
Pada lareh Bodi Caniago lantai balai adat dan rumah gadang, lantainya datar saja. Semua penghulu duduk sehamparan duduk sama rendah, tegak sama berdiri.
Secara substansial, kedua sistem adat ini sesungguhnya sama-sama bertitik tolak pada azas demokrasi. Perbedaannya hanya terletak pada aksentuasi dalam penyelenggaraan dan perioritas pada hak azasi pribadi disatu pihak dan kepentingan umum dipihak lain. Suatu fenomena yang sudah sama tuanya dengan sejarah kebudayaan umat manusia sendiri.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget