Almudassir Media Centre

Tarekat Nasabandi 2

Fikriati_puput

TAREKAT QADIRIYAH, SYADZILIYAH, DAN NAQSYABANDIYAH

 Fikriati_puput

4 tahun yang lalu

Iklan

KATA PENGANTAR

الحمد لله الّذى انزل القران عربياً والصّلاة والسّلام على محمّد نبيّاً وعلى اله واصحابه اجمعين امّةً واحداً

      Puji dan syukur adalah milik Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dengan bahasa yang indah dan penuh makna.Shalawat serta salam kita persembahkan bagi pembawa risalah akhir zaman beserta pengikutnya dan kita semua. Amin

         Tidak lupa rasa syukur kita haturkan kepada Allah yang maha besar, karena berkata Dia kami dapat menyelesaikan makalah kami.

      Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Akhlak Tasawuf. Namun, kami sangat menyadari dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik isi maupun penulisan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan kitaa semua pada umumnya.

                                                                               Cirebon, 15 November 2013

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………….

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………….

1.2     Rumusan Masalah………………………………………………………………………..

1.3     Tujuan Masalah……………………………………………………………………………

BAB II PEMBAHASAN

2.1     Pengertian tarekat………………………………………………………………………..

2.2     Macam-macam tarekat………………………………………………………………….

2.2.1  Tarekat Qadiriyah………………………………………………………………..

2.2.2  Tarekat Syadziliyah……………………………………………………………..

2.2.3  Tarekat Naqsyabandiyah………………………………………………………

2.3  Pengaruh tarekat terhadap dunia Islam……………………………………………

BAB III PENUTUP

3.1  Kesimpulan…………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Para ahli berpendapat bahwa islamisasi Indonesia samapi sekarang masih berlanjut. Ini harus diartikan bahwa islam yang datang ke Indonesia harus melewati jalan, rentang waktu, serta corak pemikiran yang panjang, dimulai dari islam datang di pelabuhan-pelabuhan, diperkenalkan, disebarkan, dikembangkan, dimantapkan dan diperbaharui.
Ajaran islam dibawa oleh Nabi Muhammad yang pada masa awal dilaksanakan secara murni. Ketika Rasulullah wafat, cara beramal dan beribadah para sahabat dan tabi’in masih tetap memelihara dan membina ajaran Rasul, disebut amalan salaf al-shalih.
Sesudah abad ke-2 Hijriyah muncul golongan sufi yang mengamalkan amalan-amalan dengan tujuan kesucian jiwa untuk taqarrub kepada Allah. Para sufi kemudian membedakan pengertian-pengertian syari’ah, thariqat, haqiqat, dan makrifat.
Pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi barulah muncul tarekat sebagai kelanjutan kegiatan kaum sufi sebelumnya. Hal ini ditandai dengan setiap silsilah tarekat selalu dihubungkan dengan nama pendiri atau tokoh-tokoh sufi yang lahir pada abad itu. Pelopor adanya tarekat adalah Abd al-Qadir al-Jailani yang juga merupakan pendiri tarekat Qadiriyah. Sehingga muncullah beberapa tarekat yang dihubungkan dengan nama pendiri tarekat tersebut, diantaranya tarekat Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah itu merupakan tarekat muktabarah yang ada di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

 Apa yang dimaksud dengan tarekat ?Apa saja macam-macam tarekat ?Apa saja pengaruh-pengaruh tarekat ?

1.3 Tujuan

Mengetahui dan memahami tarekatMengetahui macam-macam tarekatMengetahui berbagai macam pengaruh tarekat

 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tarekat
Tarekat menurut bahasa ialah Thariqah yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu. Sedangkan menurut istilah tarekat adalah jalan yang mengacu pada suatu sisten latihan meditasi maupun amalan-amalan (muraqabah, dzikir, wirid, dan sebagainya) yang dihubungkan dengan sederet guru sufi. Tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khosh.
2.2 Aliran-aliran tarekat
Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak). Di daerah Khurasan, timbul beberapa tarekat, salah satu diantaranya :
1. Tarekat Qadiriyah 
Tarekat ini didirikan oleh Muhy Ad-Din Abd Al-Qadir al-Jailani (471 H/1078 M). Tarekat Qadiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. Nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi salih Zangi Dost Al-Jailani (470 H/1077M – 561 H/1166 M) . Tarekat Qadiriyah berkembang dan berpusat di Irak dan siria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang terbesar di Yaman, Turki, Mesir, india, Afrika, dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13 M. Sekalipun demikian, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke-15 M. Di Mekah, tarekat Qadiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.
Tarekat Qadiriyah dikenal luwes, yaitu apabila sudah mencapai derajat Syekh, murid tidak mempunyai keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan, dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal tersebut tampak pada ungkapan Abdul Qadir jailani, “Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, dia menjadi mandiri sebagai Syekh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.”
Karena keluwesan tersebut, terdapat puluhan tarekat yang masuk ke dalam kategori Qadiriyah di dunia Islam, seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19,ghawtsiyah (1517), junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), dan lain-lain, semuanya dari India. Di Turki, terdapat tarekat hindiyah, khulusyiyah, dll. Di yaman, ada tarekat ahdaliyah, asadiyah, musyariyah. Adapun di afrika, diantaranya terdapat tarekat ammariyah, bakka’iyah, dan sebaginya.

1) Sejarah singkat pendiri Tarekat Qadiriyah
Pendiri tarekat Qadiriyah adalah ‘Abd al-Qadir Jailani, yang terkenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jailani al-ghawts. Beliau lahir di desa Naif Kota Ghilan (470 H/1077 M) dan meninggal di Baghdad pada tahun 561/1166. Menurut Triminghan sebagaiman yang dikutip oleh Martim Van Bruinessem, mengatakan bahwa pada tahun 1300 M tarekat Qadiriyah sudah ada di Irak dan Suriah.

2)  Ciri tarekat Qadiriyah

Dzikir bersama.Senantiasa membacakan sajak dan qasidah diiringi musik rebana.Melakukan dzikir Nafi wa itsbat, diiringi dengan rebana.Seluruh badan ikut berdzikir.Adanya adegan magic atau debus.Tunduk dibawah garis keturunan takdir dengan kesesuaian hati dan roh.Memisahkan diri dari kecenderungan nafsu.

3)   Ajaran tarekat Qadiriyah
Ajaran syekh Abb al-Qadir selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Karena itu memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi. Adapun ajaran-ajaran tersebut adalah:
1. Taubat
Taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengurai ikatan dosa yang terus menerus dari hati kemudian melaksanakan hak Tuhan.
Ibnu ‘abas ra. Berkata: “taubat al-nasuha adalah penyesalan dalam hatipermohonan ampun dengan lisan, meninggalkan dengan anggota badan dan berniat tidak akan mengulangi lagi”.
Menur syekh Abd Qadir jailani, taubat ada dua macam, yaitu:

Taubat yang berkaitan dengan hak sesama manusia.Taubat ini tidak terealisasi kecuali dengan menghindari kezaliman,   memberikan hak kepada yang berhak, dan mengembalikan kepada pemiliknya.Taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan cara selalu mengucapkan istighfar dengan lisan, menyesal dalam hati, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

2. Zuhud
Zuhud secara bahasa berpaling darinya dan meninggalkannya karena menganggapnya hina atau menjauhinya karena dosa. Sedangkan menurut istilah zuhud adalah merupakan gambaran tentang menghindari dari mencintai sesuatu yang menuju kepada sesuatu yang lebih baik darinya. Atau istilah lain, menghindari dunia karena tahu kehianaannya bila dibandingkan dengan kemahalan akhirat.  Menurut ‘Abd al-Qadi jailani, zuhud ada dua macam, yaitu:

Zuhud hakiki yaitu mengeluarkan dunia dari hatinya.  Hal ini bukan berarti bahwa seseorang menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya, tetapi di mengambilnya lalu digunakan untuk ketaatan kepada Allah.Zuhud lahir yaitu mengeluarkan dunia dari hadapannya.  Berarti bahwa harus menahan hawa nafsu (sesuatu yang kita sayangi) serta menolak semua tuntutannya.

3. Tawakal
Tawakal artinya berserah diri. Hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan, tunduk dan patuh terhadap hukum dan takdir.
Syekh ‘Abd al-Qadir Jailani menekankan pentingnya tawakal dengan mengutip sebuah sabda Nabi,”bila seseorang menyerahkan dirinya secara penuh kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan apa saja yang diminta. Begitu juga sebaliknya, bila dengan bulat ia mnyerahkan dirinya kepada dunia, maka Allah akan membiarkan dirinya dikuasai oleh dunia.” Semakin banyak orang yang mengejar dunia, maka semakin lupa dia akan akhirat, sebagai mana dinyatakan dalam sabda Nabi,”Apabila ingatan manusia telah condong kepada dunia, maka ingatannya kepada akhirat berkurang.”
4. Syukur
Syukur adalah ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, baik lisan, tangan, maupun hati. Menurut syekh ‘Abd al-Qadir Jailani hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah karena Dialah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan patuh pada syari’at-Nya.
Syekh ‘Abd al-Qadir Jailani membagi syukur menjadi tiga macam, yaitu:

Syukur dengan lisan, yaitu dengan mengakui adanya nikmat dan merasa tenang. Dalam hal ini si penerima nikmat mengucapkan nikmat Tuhan dengan segala kerendahan hati dan ketundukkan.Syukur dengan badan atau anggota badan, yaitu dengan cara melaksanakan dan pengabdian serta melaksanakan ibadah sesuai dengan perintah Allah. Dalam hal ini, si penerima nikmat selalu berusaha mnjalankan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya.Syukur dengan hati, yaitu beritikaf/berdian diri atas tikar Allah dengan senantiasa menjaga hak Allah yang wajib dikerjakan. Dalam hal ini, si penerima nikmat mengakui dari dalam hatinya bahwa semua nikmat itu berasal dari Allah SWT.

5. Sabar
Sabar adalah tidak mengeluh karena musibah yang menimpa kita kecuali mengeluh kepada Allah. Menurut syekh ‘Abd al-Qadir Jailani, sabar ada tiga macam, yaitu:

Bersabar kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Bersabar bersama Allah, yaitu bersabar terhadap ketetapan Allah dan perbuatan-Nya terhadapmu dari berbagai macam kesuliatan dan musibah.Bersabar atas Allah, yaitu bersabar terhadap rezeki, jaln keluar, kecukupan, pertolongan, dan pahala yang dijanjikan Allah di kampung akhirat.

6. Ridha
Ridha adalah kebahagian hati dalam menerima ketetapan (takdir). ‘Abd al-Qadir mengutip ayat al-qur’an tentang perlunya sikap ridha, “dengan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat darinya, keridhaan dan syurga. Mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal”.(At-Taubah: 21).
7. Jujur
Jujur menurut bahasa adalah menetapkan hukum sesuai dengan kenyataan.
Menurut syekh ‘Abd al-Qadir Jailani, jujur adalah mengatakan yang benar dalam kondisi apapun, baik menguntukan maupun yang tiadak menguntungkan.
2. Tarekat Naqsabandiyah
Tarekat ini didirikan oleh muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi Al-Bukhari (w. 1389) di Turkistan.
Kata Naqsabandiyah / Naqsyabandi / Naqhbandi نَقْشَبَنْدِى berasal dari Bahasa Persia, diambil dari nam pendirinya, yaitu Baha Uddin Naqshband Bukhari . Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai” atau “Rantai Emas”.
Tarekat Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim serta Turki., Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural.
Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamakan menurut nama Syeh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi Tsani (Pembaru Milenium kedua). Pada akhir abad ke-18 nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia selatan, wilayah Ustmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, seta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).
Dalam perkembangannya, tarekat ini menyebar ke anatolia (turki) kemudian meluas ke India dan Indonesia dengan berbagai nama baru yang disesuaikan dengan pendirinya di daerah tersebut, seperti tarekat Khalidiyah, Muradiyah, Mujadidiyah, dan Ahsaniyah.
Di daerah Mesopotamia, masih banyak tarekat yang muncul dalam periode ini dan cukup terkenal. Tarekat-tarekat ini antra lain sebagai berikut :
1) Sejarah singkat Tarekat Naqsyabandiyah
Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah adalah muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi Al-Bukhari. Beliau dilahirkan di sebuah desa Qashrul Arifah (717 H/1318 M), ± 4 mil dari Bukhara (tempat lahir Imam Bukhari). Beliau wafat pada tahun 791 H/1389 M.
2) Ciri Tarekat Naqsyabandiyah
Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah :

Diikutinya syari’at secara ketat.Keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari.Lebih mengutamakan berdzikir dalam hati.kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).Upaya yang serius dalam mempengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekatkan golongan pada agama.Tidak menganut kebijaksanaan isolasi diri dalam menghadapi pemerintahan yang sedang berkuasa saat itu.Melancarkan konfrontasi dengan berbagai kekuatan politik.Membebankan tanggung jawab yang sama kepada para penguasa dan menganggap bahwa upaya memperbaiki penguasa adalah sebagai prasyarat untuk memperbaiki masyarakat.

3) Ajaran tarekat Naqsyabandiyah

“Husy Dar dam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.“Nazhar Bar qadam”, yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.“Safar Dar wathan”, yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.“Khalwat Dar anjuman”, yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :Berkhalwat lahir, yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.Khalwat batin, yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah    walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.“Yad Krad”, yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.“Baz Gasht”, yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia “Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut”. Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.“Nigah Dasyt”, yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini. Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah SWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Allah SWT.” Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”“Yad Dasyt”, yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Yad Dasyt” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,

Asas Tarekat Naqsyabandiyah
Muhammad Bahauddin Naqsyaband menambahkan tiga asas lagi yakni wuquf qalbi, wuquf ‘adadi, dan wuquf zamani.

wuquf qalbi adalah menjaga setiap gerakan hati untuk selalu mengingat dan menyebut asma Allah.Wuquf zamani berarti menghitung dan memerhatikan waktu untuk tidak melewatkan waktu tanpa mengingat Allah.wuquf ‘adadi berkaitan dengan bilangan, yang mengandung makna pengutamaan hitungan ganjil dalam berdzikir, sebagai penghormatan yang bersifat sunah atas kesukaan Allah pada jumlah ganjil.

3. Tarekat syadziliyah
Dinisbatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili (593-656 H/ 1196-1258 M). Secara pribadi, Asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu uga muridnya, abdul abbas al-mursi, kecuali hanta sebai ajaran lisan tasawuf, doa, hizib. Ibnu ath-thaillah as-sukandari adalah orang pertama yang menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa, dan biografi keduanya sehingga khazanah tarekat syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu ath-thaillah juga orang tang pertama menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tarekat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya .
Melalui sirkulasi karya-karya ibnu ath-athaillah, tarekat syadziliyah mulai tersebar sampai ke barat, sebuah negara yang pernah menolak sang guru.akan tetapi, ia tetap merupakan tradisi individualistik yang hampir mati, meskipun temaini tidak dipakai yang menitikberatkan pengembangan sisi dalam. Syadzili tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk ke shalehan popoler yang digalakan. Akan tetapi, muri-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan tarekat sadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
Sebagai ajaran, tarekat ini dipengaruhi oleh al-ghajali dan al-makki salah satu perkataan asli syadzili kepada murid-muridnya, “seandainya kalian mengajukan suatu permohonan kepada Allas SWT; sampaikanlah kepada abu hamid al-ghajali.” Perkataan lainnya “ kitab ihya ulum ad-din, karya al-ghazali, mewarisi anda ilmu. Sementara, kitab qut al-qulub, karya al-makki mewarisi anda cahaya.” Selain kedua kitab tersebut, yaitu kitab al-muhasibi, khatam al-auliya, karya hakim at-tirmidzi, kitab al-mawakif wa al-mukhatabah, karya an-niffari, kitab asy-syifa, karya qadhi’iyad, kitab ar-risalah, karya al-usyairi, kitab al-muharrah al-waziz, karya ath-thaillah.
1) Sejarah singkat Tarekat Syadziliyah
Secara lengkap nama pendiri tarekat ini adalah Ali bin Abdullah bin ‘Abd Al Jabbar Abu al-Hasan al-Syadzili. Dia di lahirksn di desa Ghumara, dekat Ceuta, di Utara Maroko pada tahun 573 H. Asy-Syadzili meninggal pada tahun 656 H/ 1258 M di humaithra, dekat pantai laut Merah. Tarekat ini berdiri pada abad ke-7 H/ 13 M.

2) Ciri Tarekat Syadziliyah

Tarekat Syadzaliyah terutama menarik dikalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai negeri.tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tarekat-tarekat yang lainnya.Setiap anggota tarekat ini wajib mewujudkan semangat tarekat di dalam kehidupan dan lingkungannya sendiri.mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung kemiskinan.kerapian mereka dalam berpakaian.

3) Ajaran
Adapun ajaran-ajaran tarekat al-syadziliyah, yaitu :

Tidak menganjurkan murid-muridnya untuk meninggalkan profesi mereka.Tidak mengabaikan dalam menjalankan syari’at islam.Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner.Berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umatTasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah.Ma’rifat adalah salah satu tujuan ahli tarekat atau tasawuf yang dapat di peroleh dengan dua jalan.

4) Lima sendi yang ada pada tarekat syadziliyah

Ketaqwaan terhadap Allah subhanahu wata’ala lahir bathin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara’ dan Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala.Konsisten mengikuti Sunnah Rasululkah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah subhanahu wata’ala (Tawakkal).Ridha kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan apa adanya [qana’ah/tidak rakus] dan menyerah.Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersykur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.

2.3 Pengaruh tarekat di dunia islam
Tarekat memengaruhi dunia islam mulai dari abad ke-13. Kedudukan tarekat saat itu sama dengan parpol (partai politik). Bahkan tentara juga menjadi anggota tarekat.

       Tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasinya ke seluruh pelosok negeri; menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik; dan memberikan otonomi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelompok desa memiliki wali lokal yang di dukung dan dimuliakan sepanjang hidupnya, bahkan dipuja dan diagung-agungkan setelah kematiannya.   Akan tetapi pada saat-saat itu telah terjadi “penyelewengan” di dalam tarekat-tarekat. Penyelewengan ini, antara lain terjadi dalam paham wasilah, yaitu paham yang menjelaskan bahwa permohonan seseorang tidak bisa dialamatkan langsung kepada Allah SWT., tetapi harus melalui guru, guru ke gurunya, demikian seterusnya sampai kepada Syekh, baru bisa bertemu dengan Allah atau berhubungan dengan Allah SWT.
Disamping itu, tarekat umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia. Tarekat menganjurkan banyak beribadah dan jangan mengikuti dunia karena, “Dunia ini adalah bangkai, yang mengejar dunia adalah anjing.” Ajaran ini tampaknya menyelewengkan umat islam dari jalan yang ditempuhnya. Demikian juga, sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan datang, qadha dan qadar yang sejalan dengan paham Asy-‘Ariyah. Para pembaharu dalam dunia islam melihat bahwa tarekat bukan hanya mencemarkan paham tauhid, melainkan membawa kemunduran bagi umat islam.
Oleh karena itu pada abad ke-19, mulailah timbul pemikiran yang sinis kepada tarekat dan juga terhadap tasawuf. Banyak orang menentang dan meninggalkan tarekat atau tasawuf. Pada mulanya, Muhammad abduh sebenarnya adalah pengikut tarekat yang patuh, tetapi setelah bertemu Jamaluddin Al-afghani, ia berubah pendirian dengan meninggalkan tarekatnya dan mementingkan dunia, disamping akhirat. Begitu juga Rasyid Ridha, setelah melihat bahwa tarekat membawa kemunduran pada uamt islam, ia meninggalkan tarekat dan memusatkan perhatiannya pada upaya memajukan umat islam.
Akan tetapi, akhir-akhir ini perhatian pada tasawuf timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materalisme. Orang-orang Barat melihat bahwa materalisme memerlukan sesuatu yang bersifat rohani, yang bersifat immateri sehingga banyak orang yang kembali memerhatikan tasawuf.
Pengaruh khusus pada tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah
Sejak Tarekat Qadiriyah berada di Indonesia dan di tempat-tempat lain, orang masih menyelenggarakan Manakib Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jailani. Riwayat hidup dan karamahnya masih dibaca orang untuk mendapatkan barakahnya. Kekhasan tarekat ini masih survive sebagai tarekat pelopor yaitu pengucapan dzikir Jahar bahkan menjadi bagian/dasar dari sebagian tarekat yang lahir kemudian.

       Tanda utama Tarekat Syadziliyah masih dapat dirasakan hingga saat ini yaitu dengan variasi Hizb-nya. Dan terutama Hizb Al-Bahr yang dikenal sangat memberi pengaruh yang kuat bagi pengamalnya. Hizb-hizb tersebut tidak boleh diamalkan oleh semua orang, kecuali telah mendapatkan izin atau ijazah dari Mursyid atau seorang wakil yang ditunjuk oleh Mursyid untuk mengijazahkannya.
Pengaruh Tarekat Naqsyabandiyah ini masih dapat ditemui dengan adanya orang yang melakukan dzikir dalam hati bahkan hingga menolak adanya seni musik dan tari dikarenakan seni musik dan tari dapat mengakibatkan adanya ketidakkhusyuan dalam melakukan dzikir.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kajian tarekat dalam dunia islam adalah sebuah upaya dan proses yang terus-menerus, berkesinambungan, sejak kelahirannya hingga saat penulisannya sekarang. Tarekat Qadiriyah misalnya sejak abad ke-12 Masehi, saat pendirinya hidup hingga sekarang, di Indonesia dan di tempat-tempat lain orang masih menyelenggarakan manakib Syekh Abd al-Qadir al-Jailani. Kekhasan tarekat ini masih survive sebagai tarekat pelopor, yaitu pengucapan dzikir Jahar bahkan menjadi bagian/dasar dari sebagian tarekat yang lahir kemudian.
Tarekat Syadziliyah, pendirinya lahir di abad ke-13, Abu ‘I Hasan al-Syadzili, tanda utama tarekat ini pun masih dapat dirasakan hingga saat ini yaitu denga variasi Hizbnya dan terutama Hizb al-Bahr yang dikenal sangat memberi pengeruh yang kuat bagi pengamalnya. Hizb-hizb tersebut tidak boleh diamalkan oleh semua orang, kecuali telah mendapatkan izin atau ijazah dari mursyid atau wakilnya.
Tarekat Naqsyabandiyah, sejak masa perintisnya hingga kelahiran di abad ke-14 sampai saat ini telah mengglobal penyebaran dan perkembangannnya, bukan hanya di dunia Islam saja tetapi juga di dunia Barat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sholihin, Rosihon anwar. Ilmu Tasawuf. 2008. Bandung : CV Pustaka Setia.

Mulyati, Sri (et.al). Tarekat-Tarekat Muktabarah

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget