Almudassir Media Centre
April 2018

masbidin.net

Daftar Nama-nama Sunan Walisongo Beserta Biografi, Tempat Dakwah dan Peninggalannya

 masbidin

3 bulan ago

Nama-nama Sunan Walisongo –  Nama-nama sunan dari walisongo yang biasa kita dengar merupakan nama julukan untuk beliau yang telah banyak berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia.  Sebutan sunan ini memilki makna yang artinya manusia atau orang yang dimuliakan.

Pada umumnya yang di juluki sebagai sunan masih memiliki silsilah dengan kerajaan baik secara langsung atau setelah keturunan di bawahnya. Dari sekian banyak sunan yang turut berperan aktif dalam penyebaran Islam di Indonesia ada sembilan sunan yang paling populer.

Sembilan sunan yang terkenal di nusantara memiliki gelar yang biasa kita sebut dengan Walisongo.Kata walisongo ini berasal dari kata wali dan songo. Wali yang berarti wakil atau dalam Islam terdapat istilah waliyullah atau wali Allah yang memilki arti sahabat Allah atau kekasih Allah.

arrahmah[dot]co[dot]idDengan memaksutkan wali Allah ini adalah orang beriman dan bertwakwa senantiasa istiqomah mengabdikan diri mereka di jalan Allah untuk berdakwah menyebarkan agama Allah, mengajak manusia beriman kepada Allah tanpa adanya paksaan. Sedangkan kata songo berarti sembilan yang menunjukkan jumlah mereka ada sembilan.

Dalam berdakwah para wali memilki riwayat dan tempat atau daerah yang berbeda-beda. Selain berdakwah beliau-beliau juga memberikan wasiat dan peninggalan terhadap umat Islam di Indonesia. Sehingga nama Walisongo di cantumkan dalam sejarah penyebaran Islam di Inonesia.

Daftar Nama-nama Sunan Walisongo Beserta Riwayat, Tempat Dakwah dan Peninggalannya

Berikut ini akan kita ulas mengenai Walisongo mulai dari nama para wali, riwayat beliau-beliau, tempat dakwah serta warisan atu peninggalan beliau (Walisongo).

1. Nama Sunan Walisongo: Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

swaralakbok[dot]wordpress[dot]comNama asli dari Sunan Gresik adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga seorang Habib, silsilah ke 22 keturunan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam. Maulana Malik Ibrahim merupakan orang pertama yang memulai penyebaran Islam di tanah Jawa. Sunan Gresik memulai dakwahnya pada akhir masa Kerajaan Majapahit.

Lagi Tren  Macam-macam Alat yang Digunakan Untuk Membatik Tulis Tradisional

Beliau memulai dakwahnya dengan merangkul rakyat biasa korban dari perang saudara pada Kerajaan Majapahit. Pendekatan beliau kepada rakyat melalui cocok tanam dan jalur perdagangan. Sehingga masyarakat yang kesulitan dalam hal ekonomi merasa terbantu dan perlahan mempelajari Islam atas bimbingan beliau.

Seiring berjalannya waktu, orang yang belajar Islam pun semakin banyak, kemudian Sunan Gresik mendirikan pondok pesantren di daerah Leran, Gresik. Di sebuah pondok itulah beliau mengajarkan ilmu hingga akhir hayatnya. Beliau meninggal pada tahun 1941M dan jenazahnya di makamkan di Desa Gapura Wetan, Gresik.

Selama berdakwah beliau selalu berusaha menghilangkan sistem kasta yang menjadikan perpecahan di masyarakat. Karena di sisi Allah yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah amal ibadah yang mereka lakukan. Peninggalan bersejarah dari Sunan Gresik berupa Masjid Malik Ibrahim di Leran, Gresik.

2. Nama Sunan Walisongo: Sunan Ampel (Raden Rahmat)

abiummi[dot]comRaden Rahmat atau yang disebut Sunan Ampel merupakan putra dari Syekh Maulana Malik Ibrahim dengan Dewi Condro Wulan. Dewi Condro Wulan merupakan putri Raja Champa yang masih ada silsilah keturunan Dinasti Ming yang terakhir. Sunan Ampel berdakwah menyebarkan Islam di daerah Ampel Denta, Surabaya.

Di Ampel Denta, Raden Rahmat memfasilitasi masyarakat yang belajar agama Islam dan berkonsultasi  dengan mendirikan sebuah pondok. Ajaran dari beliau yang sangat terkenal adalah falsafah “Moh Limo”. Kata moh limo ini berasal dari Jawa dimana moh berarti menolak atau tidak dan limo berarti lima. Maksut dari falsafal moh limo adalah menolak lima hal yang dilarang dalam Islam.

Isi dari falsafah Moh Limo yaitu Moh Main maksutnya adalah tidak berjudi, Moh Ngombe atau tidak minum khamr, Moh Maling (tidak mencuri), Moh Madat atau tidak menghisap narkoba dan yang terakhir Moh Madon yaitu tidak berzina.

Peninggalan bersejarah dari Sunan Ampel adalah Masjid Ampel di Ampel Denta, Surabaya. Beliau wafat di Surabaya dan di makamkan di dekat Masjid Ampel.

3. Nama Sunan Walisongo: Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)

pinterest[dot]comSunan Bonang atau yang memilki nama asli Maulana Makdum Ibrahim merupakan putra dari Sunan Ampel dengan istrinya yang bernama Dewi Condrowati. Nama lain dari Dewi Condrowati adalah Nyai Ageng Manila. Maulana Makdum Ibrahim menimba ilmu agama Islam di daerah Pasai, Malaka. Di Malaka Sunan Bonang menimba ilmu dari Sunan Giri terutama dalam metode penyebaran Islam agar mudah diterima masyarakat.

Selesai menimba ilmu dari Sunan Giri kemudian beliau pulang ke kota Tuban (kota kelahiran ibunya) dan mendirikan sebuah pondok pesantren. Di Kota Tuban Sunan Bonang menggencarkan dakwah melalui musik gamelan. Karakteristik masyarakat Tuban yang menyukai hiburan terutama musik, membuat beliau melakukan pendekatan terhadap masyarakat melalui alat musik buatannya tersebut.

Sunan Bonang melakukan dakwahnya di sela-sela pertunjukan musik. Peninggalan bersejarah dari Beliau  yaitu alat musik tradisional gamelan berupa bonang, kenong dan bende.

4. Nama Sunan Walisongo: Sunan Drajat (Raden Qosim atau Raden Syaifudin)

breaktime[dot]co[dot]idRaden Qosim atau yang dikenal sebagai Sunan Drajat merupakan saudara seibu dari Sunan Bonang. Berdasarkan beberapa kisah yang ada beliau juga terkenal dengan sebutan Raden Syaifudin. Beliau belajar ilmu agama dan berguru pada Sunan Muria setelah wafatnya sang ayah. Kemudian kembali ke daerah pesisir Banjarwati, Lamongan untuk berdakwah.

Untuk menunjang dakwah Raden Qosim yang muridnya semakin banyak, beliau mendirikan sebuahh pondok pesantren di daerah Daleman Dhuwur di Desa Drajat, Paciran Lamongan. Di sana Sunan Drajat melangsungkan dakwahnya melalui suluk   yang pernah di pelajarinya ketika berguru pada Sunan Muria.

Suluk yang sering beliau sampaikan kepada murid-muridnya ialah “Suluk Petuah”. Dalam Suluk yang diajarkan Sunan Drajat terdapat beberapa pesan yang di tanamkan dalam diri manusia untu menolong sesama manusia. Salah satu kutipan dalam suluk tersebut ialah:

1. “Wenehono teken marang wong kang wuto” maksutnya berilah tongkat kepada orang yang buta.

2. “Wenehono mangan marang wong kang luwe” maksutnya berilah makanan kepada orang yang lapar.

3. “Wenehono busono marang wong kang wudo” maksutnya berilah pakaian kepada orang yang telanjang.

4. “Wenohono ngiyup marang wong kang kudanan maksutnya berilah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan.

Serta masih banyak lagi suluk lain yang menjadi peninggalan Raden Syaifudin, namun suluk yang terkenal adalah Suluk Petuah diatas. Suluk tersebut sampai sekarang masih dipelajari di pondok-pondok Jawa kuno.

5. Nama Sunan Walisongo: Sunan Kalijaga (Raden Said)

fajaroke[dot]comSunan Kali Jaga merupakan orang Jawa asli yang lahir di darah Tuban. Beliau memiliki nama asli Raden Said. Beliau Raden Said merupakan anak dari seorang bupati Kabupaten Tuban yang waktu itu bernama Arya Wilatika.

Ayah dari Sunan Kali Jaga sendiri adalah seorang pemimpin kelompok dari pemberontakan Ronggolawe ketika zaman Kerajaan Majapahit. Sunan Kali Jaga ketika muda telah mewarisi dari semangat ayahnya, Beliau memprotes keras terhadap penarikan pajak yang tidak memiliki perikemanusiaan pada pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Lalu dibuat susunan rencana perampokan ke seluruh anggota pejabat pajak untuk kemudian dibagikan semua hartanya kepada rakyat miskin. Akibat dari perampokan tersebut, Sunan Kali Jaga dijuluki oleh seantero Kerajaan Majapahit Bandar Lokajaya.

Akan tetapi aksi perampokan tersebut berhenti saat beliau Sunan Kali Jaga bertemu dengan seseorang yang akan menjadi gurunya yaitu Sunan Bonang. Kemudain Raden Said dinasehati supaya berhenti dari tindakannya tersebut, karena jalan untuk menuju kebaikan tidak dapat ditempuh melalui jalan keburukan.

Akhirnya Sunan Kali Jaga pun berhenti dari tindakan perampokannya dan berguru ilmu agama kepada Sunan Bonang. Dari sang gurulah Sunan Kali Jaga mendapat ide dalam berdakwah, yaitu dengan memanfaatkan wayang dan gamelan.

Dimana ketika ada pertunjukkan wayang maupun yag menggunakan gamelan, didalamnya disisipkan tentang ajaran Islam. Ajaran agama islam yang beliau dakwahkan ini bisa diterima dan sangat membumi karena Sunan Kali Jaga merupakan orang Jawa asli.

Beliau mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat secara bertahap. Melalui ideologi dan kebudayaan Jawa Sunan Kali Jaga menanamkan nilai-nilai agama Islam. Karena beliau memiliki keyakinan bahwa ketika agama islam telah dipahami dan masuk kedalam hati maka secara otomatis perilaku buruk maupun kebiasaannya akan hilang dengan sendirinya.

Untuk peninggalan dari Sunan Kalijaga berupa kesenian yang sekarang menjadi seni khas Jawa yaitu seni, wayang, gamelan, ukir dan suluk.

6. Nama Sunan Walisongo: Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

akucintanusantaraku[dot]blogspot[dot]comNama asli dari Sunan Kudus yang juga merupakan cucu dari Sunan Ampel ialah Ja’far Shadiq. Nasab beliau menjadi cucu Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati ini berasal dari Ibunda beliau yang bernama Syarifah. Selain itu Sunan Kudus ini juga merupakan keponakan dari Sunan Drajat dan Sunan Bonang.

Sumber ilmu tentang Agama Islam yang Sunan Kudus miliki ini berkat kegigihan beliau menuntut ilmu di timur tengah yakni Yerusalem, Palestina atau tepatnya di kota Al-Quds. Namun sebelumnya, beliua juga menuntut ilmu pada kedua pamannya yang juga merupakan wali Allah.

Di Yerusalem Sunan Kudus ini banyak mendapatkan ilmu-ilmu agama yang langsung bersumber dari ulama-ulama dari Arab.

Sehingga dengan ketawadahun dan luasnya ilmu yang beliau miliki, kemudian beliau pulang ke Nusantara dan berinidiatif untuk medirikan sebuah pondok pesantren untuk orang-orang umum belajar ilmu agama Islam. Penulis sendiri belum mengetahui alasan beliau ini memilih desa Loram Kabupaten Kudus  Jawa Tengah ini sebagai tempat dakwah beliau.

Setelah pondok pesantren yang beliau dirikan ini berjalan beberapa waktu, berkat keluasan ilmu dan toleransi yang tinggi akan antar umat beragama di Kudus tuan Ja’far Shadiq diminta untuk menjadi pemimpin disana. Untuk mempermudah jalan dakwah beliau menyebar luaskan agama Islam di kalangan para pejabat, bangsawan kerajaan dan para priyayi di tanah Jawa, beliau pun menyanggupi menjadi seorang pemimpin.

Selain sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, berkat keluasan ilmu yang dimiliki oleh Sunan Kudus ini, sampai-sampai para wali beliau memberikan gelar sebagai Wali Al ‘ilmi yang artinya ialah orang yang memiliki ilmu luas.

Dalam menyebarkan agama Islam, tuan Ja’far Shadiq menggunakan metode yang hampir sama dengan metode Sunan Kalijaga yakni melalui pendekatan terhadap kebudayaan daerah setempat. Beliau menyisipkan nilai-nilai agama Islam ditengah kebudayaan Hindu Bunda yang telah mengakar di masyarakat.

Untuk peninggalan Sunan Kudus yang masih ada hingga sekarang ini ialah Masjid Menara Kudus yang  memiliki menara dengan corak khas bergaya Hindu. Selain menara, tuan Ja’far Shadiq juga mewariskan budaya toleransi yang sangat mulia.

Budaya toleransi antar umat beragama yang masih berlaku sampai sekarang ini yaitu dengan tidak menyembelih sapi ketika lebaran Idhul Adha. Untuk menghormati umat Hindu di daerah Kudus, Beliau mengajarkan masyarakat untuk mengganti binatang hewan qurban sapi menjadi kerbau. Merupakan ajaran mulia dari seorang wali Allah dan seorang pemimpin yang patut untuk kita contoh yaa sahabat masbidin.net

Oh iya, sebagai catatan aja bahwa nama beliau – Sunan Kudus– ini sebenarnya diambil dari sebuah nama kota tempat beliau menuntut ilmu Agama Islam yaitu kota Al-Quds di Yerusalem, Palestina.

7. Nama Sunan Walisongo: Sunan Muria (Raden Umar Said)

andykomkom[dot]wordpress[dot]comSunan Muria memiliki nama asli yakni Raden Umar Said. Beliua merupakan putera dari Sunan Kalijaga dengan istrnya yang bernama Saroh. Selain itu Raden Umar Said ini juga merupakan keponakan dari Sunan Giri. Karena Ibunda beliau Saroh adalah adik kandung dari Sunan Giri.

Dalam dakwahnya menyebarkan ajaran Islam, Sunan Muria mengadaptasi metode yang digunakan oleh Ayahnya Sunan Kalijaga. Beliau menyampaikan ajaran melalui pendekatan kebudayaan dan kesenian Jawa.

Akan tetapi beliau lebih memilih daerah pesisir pantai dan sekaligus tempat terpencil. Sehingga dipilihlah oleh beliau daerah Gunung Muria yang berada di Provinsi Jawa Tengah sebagai lokasi dan pusat dakwahnya.

Untuk wilayah tempat beliau dakwah ini menyebar hingga ke Pati, Kudus, Juana, Tayu dan Jepara. Dimana kebanykan tempat-tempat yang beliau datangi ini merupakan daerah pedesaan, pesisi pantai dan pegunungan.

Sunan Muria lebih banyak berdakwah kepada para masyarakat atau rakyat biasa. Karena menurut beliau rakyat jelata ini merupakan kelompok yang paling banyak dan mereka juga mudah dalam menerima ajaran Islam yang beliau ajarkan. Sehingga beliau juga bisa lebih akrab bersama masyarakat umum.

Tidak hanya memberikan pengajaran tentang syariat Islam, Sunan Murian juga mengajarkan banyak ilmu lain kepada masyarakat. Diantara ilmu-ilmu yang beliau ajarkan ialah ilmu tentang bercocok tanam, cara berdagang yang sesuai dengan syariat Islam dan cara melaut.

Untuk memikat hati masyarakat umum belajar supaya mau belajar agama Islam, Raden Umar Said menggunakan media tembang. Untuk temabng yang sering beliau gunakan dan terkenal hingga sekarang ini adalah tembang Sinom dan tembang Kinanti.

Sedangkan peninggalan bersejarah Sunan Muria yang masih bisa kita saksikan pada hari ini ialah sebuah Masjid Muria yang letaknya masih di daerah pusat beliau berdakwah.

8. Nama Sunan Walisongo: Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

kliping[dot]co

9. Nama Sunan Walisongo: Sunan Giri (Raden Paku/Muhammad Ainul Yakin)

Sejarah Wali Songo, Nama-nama Asli Sunan, dan Ceritanya Lengkap

WALI SONGO – Kata-kata Wali Songo sudah biasa kita dengar dalam kehidupan masyarakat muslim di Indonesia. Julukan Wali Songo diberikan kepada 9 orang Wali yang berjasa besar dalam penyebaran ajaran agam Islam di Indonesia pada zaman dahulu.

Wali Songo terdiri dari dua kata Wali dan Songo. Kata Wali artinya adalah wakil atau menurut agama Islam ada istilah waliyullah yang berarti wali Allah dan juga mempunyai makna sahabat Allah atau kekasih Allah. Sedangkan Songo artinya adalah sembilan. Sehingga secara bahasa Wali Songo berarti Sembilan Wali Allah.

Sembilan orang yang termasuk ke dalam Wali Songo ini dijuluki sebagai Sunan. Sebenarnya terdapat banyak sekali Sunan yang telah berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia, namun hanya terdapat 9 Sunan Wali Songo yang terkenal di masyarakat Indonesia pada zaman sekarang.

Para Wali Allah ini berdakwah di Nusantara dengan cara mengajak masyarakat untuk masuk ke dalam agama Islam dengan tanpa adanya paksaan. Selama berdakwah setiap Sunan memiliki wilayah dakwahnya masing-masing  dan terdapat juga beberapa peninggalan yang menjadi bukti terhadap perannya dalam tersebarnya Islam di Negeri ini.

Daftar Isi

1 1. Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim1.1 Asal Usul Sunan Gresik1.2 Sejarah Sunan Gresik2 2. Sunan Ampel3 3. Sunan Bonang4 4. Sunan Drajat5 5. Sunan Kalijaga6 6. Sunan Kudus6.1 Sejarah Singkat Sunan Kudus7 7. Sunan Muria8 8. Sunan Gunung Jati9 9. Sunan Giri

1. Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim

informazone.com

Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik termasuk salah seorang Sunan dari 9 nama-nama Wali Songo. Menurut sejarah Wali Songo inti pokok perjuangan Sunan Gresik adalah untuk menghapuskan sistem kasta yang ada pada masyarakat. Karena hal itu tidak sesuai dengan ajaran agam islam yang menyatakan bahwa semua manusia itu sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanyalah amal ibadahnya saja.

Nama Asli Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim.Wilayah Dakwah Sunan Gresik: Gresik, Jawa Timur.Peninggalan Sunan Gresik: Masjid Malik Ibrahim di Leran, Gresik, Jawa Timur.Tahun Wafatnya: 1419 masehiMakam Sunan Gresik: Desa Gapura Wetan, Gresik.

Berdasarkan catatan sejarah Wali Songo, Sunan Gresik merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW ke 22. Beliau pertama kali memulai menyebarkan luaskan agama Islam di pulau Jawa di akhir era kekuasaan kerajaan Majapahit.

Beliau menarik hati masyarakat pada saat itu dengan cara bertani dan menjadi pedagang. Sehingga bisa merangkul dan menolong rakyat jelata yang menjadi korban dari perang saudara sebagai dampak runtuhnya kerajaan Majapahit. Sehingga banyak rakyat jelata yang terbantu dan secara perlahan tertarik belajar Islam.

Karena terus bertambahnya masyarakat yang berkeinginan mempelajari Islam dengan baik. Akhirnya Sunan Gresik mendirikan sebuah pondok pesantren di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur. Di tempat itulah Sunan Gresik selama bertahun-tahun mengajarkan tentang ilmu agama Islam hingga akhir hayatnya.

Asal Usul Sunan Gresik

Ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki dan pernah mengembara di Gujarat sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di pulau Jawa. Gujarat adalah wilayah negara Hindia yang kebanyakan penduduknya beragama Hindu.

Dahulu sebelum Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa. Sebenarnya sudah terdapat sebagian masyarakat yang memeluk agama islam di daerah sekitar pantai utara, termasuk di desa Leran. Hal itu dapat diketahui dengan adanya bukti berupa makam seorang wanita bernama Fatimah Binti Maimun yang meninggal pada tahun 1082 M atau tahun 475 Hijriah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Islam sudah ada di pulau jawa sebelum jaman Wali Songo. Tepatnya di daerah sekitar Jepara dan Leren. Tetapi ajaran agam Islam yang ada pada saat itu masih belum berkembang secara luas.

Sejarah Sunan Gresik

Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan nama Kakek Bantal itu diprediksi pertama kali datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419 M.

Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyat Majapahit sebagian besar masih beragama Hindu atau Budha. Namun terdapat juga beberapa rakyat Gresik yang beragam Islam, tetapi masih banyak yang beragama Hindu atau bahkan tidak memiliki agama.

Pada makamnya terdapat sebuah tulisan yang berbunyi:

Inilah makam Almarhum Almaghfur, yang mengharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, para Sultan dan para Menteri, penolong para Fakir dan Miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan RahmatNya dan KeridhaanNya, dan dimasukkan ke dalam Surga. Telah Wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 H.


Selama berdakwah menyebarkan agama islam kakek bantal memakai cara yang bijaksana dan strategi yang tepat sesuai dengan tuntunan Al Quran yaitu :

“Hendaklah engkau ajak ke jalan Tuhan-Mu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk-petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya (QS. An Nahl ; 125)”

Sifatnya yang lemah lembut, ramah tamah, dan welas asih kepada semua, baik orang muslim maupun non muslim menjadikan beliau terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani. Berkat akhlaknya yang sehingga menarik hati masyarakat untuk berbondong-bondong masuk Islam secara suka rela dan menjadi pengikutnya yang setia.

2. Sunan Ampel

informazone.com

Sunan Ampel termasuk salah seorang Sunan dalam 9 nama-nama Sunan Walisongo. Menurut sejarah Walisongo inti sari dari ajaran Sunan Ampel yang terkenal pada saat itu yaitu “Moh Limo“. Moh Limo merupakan bahasa jawa yang mempunyai makna Moh artinya tidak atau menolak, dan Limo memiliki arti lima.

Baca Juga : 6 Teori Asal Usul Tata Surya Menurut Para Ahli

Maksudnya adalah pada inti ajaran beliau terdapat makna “Untuk menolak dan tidak mengerjakan lima perkara. Kelima perkara itu  adalah Moh Main (Tidak Berjudi), Moh Ngombe (Tidak Minum Alkohol), Moh Maling (Tidak Mencuri), Moh Madat (Tidak Menghisap Narkoba), Moh Madon (Tidak Berzina).

Nama Asli Sunan Ampel: Raden Rahmat.Wilayah Dakwah Sunan Ampel: Surabaya.Peninggalan Sunan Ampel: Masjid Ampel di Ampel Denta, Surabaya.Tahun Wafatnya: 1481 M.Makam Sunan Ampel: Sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Menurut sejarah Sunan Ampel merupakan anak dari pasangan Sunan Gresik dan Dewi Condro Wulan. Beliau menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat di daerah pedesaan Ampel Denta di Surabaya. Di tempat itu Beliau mendirikan pondok pesantren untuk masyarakat yang hendak belajar dan mendalami ajaran agama Islam.

3. Sunan Bonang

informazone.com

Sunan Bonang merupakan salah seorang Sunan yang termasuk dalam 9 nama-nama Sunan Wali Songo. Dalam sejarah Wali Songo, Sunan Bonang merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang dalam ajarannya beliau menyampaikan “Jangan bertanya, Jangan memuja nabi dan wali-wali, jangan mengaku Tuhan. Jangan mengira tidak ada padahal ada, sebaiknya diam, jangan sampai di goncang kebingungan.

Nama Asli Sunan Bonang: Maulana Makdum Ibrahim.Wilayah Dakwah Sunan Bonang: Tuban, Jawa Timur.Peninggalan Sunan Bonang: Alat musik tradisional gamelan yang berisi bonang, bende dan kenong. Juga perkenalkan gapura yang berarsitektur tema islam.Tahun Wafatnya: 1525 M.Makam Sunan Bonang: Tuban, Jawa Timur.

Menurut sejarah Wali Songo Sunan Bonang yang memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim adalah putra dari pasangan Sunan Ampel dan Dewi Condrowati. Sesudahtelah ayahnya Sunan Ampel wafat Sunan Bonang mengambil keputusan untuk belajar agama di Malaka yang berada di wilayah Samudra Pasai.

Di tempat itu Sunan Bonang berguru dan belajar dari Sunan Giri yang memiliki ilmu khusus dalam tata cara dakwah mengajarkan agama Islam yang dapat membuat banyak masyarakat tertarik hatinya. Kemudian sesudah selesai menimba ilmu di sana Beliau kembali lagi ke Tuban.

Sesampainya di Tuban Sunan Bonang mendirikan sebuah pondok pesantren di tanah kelahiran ibunya tersebut. Karena karakteristik masyarakat Tuban yang sangat menyukai hiburan. Maka dari itu Sunan Bonang pun mempunyai ide untuk membuat alat musik gamelan untuk menarik minat masyarakat Tuban.

Agar banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar agama Islam. Sehingga di saat Sunan Bonang mengadakan pertunjukan gamelan, di sela-selanya ia melakukan dakwah.

4. Sunan Drajat

informazone.com

Sunan Drajat merupakan salah seorang Sunan yang termasuk dalam 9 nama-nama Sunan Wali Songo. Menurut sejarah Walisongo ajaran yang sering disampaikan oleh Sunan Drajat adalah kepada murid-muridnya adalah “Suluk Petuah”. Di dalamnya terdapat beberapa buah pesan yang bisa ditanamkan di dalam diri setiap manusia.

Nama Asli Sunan Drajat: Raden QosimWilayah Dakwah Sunan Drajat: Desa Jelog, Pesisir Banjarwati, Lamongan.Peninggalan Sunan Drajat: Gamelan singa mangkok.Tahun Wafatnya: 1522 M.Makam Sunan Drajat: Paciran, Lamongan.

Berdasarkan sejarah Wali Songo, Sunan Drajat merupakan saudara seibu dengan Sunan Bonang. Setelah ayahnya meninggal, Beliau belajar dan berguru tentang ilmu agama Islam dari Sunan Muria. Kemudian Beliau kembali lagi ke Desa Jelog, Pesisir Banjarwati, Lamongan.

Adapun beberapa kutipan perkataan yang terdapat pada suluk petuah adalah sebagai berikut:

Wenehono teken wong kang wuto artinya berilah tongkat kepada orang yang buta.Wenehono mangan marang wong kan luwe artinya berilah makan kepada orang yang kelaparan.Wenehono busono marang wong kang wudo artinya berilah pakaian kepada orang yang telanjang.Wenehono ngiyup marang wong kang kudanan artinya berilah tempat untuk berteduh pada orang yang kehujanan.

Setelah Beliau tiba di Lamongan, Beliau menyampaikan pelajaran apa yang sudah didapatkan dari dari Sunan Muria kepada masyarakat Lamongan. Semakin hari muridnya semakin banyak, hingga pada akhirnya Sunan Drajat memutuskan mendirikan pondok pesantren yang berada di Daleman Duwur, Desa Drajat, Paciran Lamongan.

5. Sunan Kalijaga

informazone.com

Sunan Kalijaga termasuk salah seorang Sunan dalam 9 nama-nama Sunan Wali Songo. Menurut sejarah Wali Songo Sunan Kalijaga merupakan salah seorang Wali yang mengajarkan agama Islam secara dengan bertahap. Caranya adalah dengan  menanamkan nilai-nilai agama dalam budaya dan ideologi rakyat sekitar.

Hal ini dilakukan karena Beliau memiliki keyakinan bahwa jika agama Islam sudah dikenali dan dimengerti oleh masyarakat, maka perilaku buruk manusia akan hilang dengan sendirinya.

Nama Asli Sunan Kalijaga: Raden Said.Wilayah Dakwah Sunan Kalijaga: Demak dan daerah sekitarnya.Peninggalan Sunan Kalijaga: Seni ukir, wayang, gamelan dan suluk.Tahun Wafatnya Sunan: 1513 M.Makam Sunan Kalijaga: Desa Kadilangu, Demak Bintara, Jawa Tengah.

Berdasarkan sejarah Wali Songo,  Sunan Kalijaga adalah orang pribumi asli yang lahir di Tuban, Jawa Timur. Sunan Kalijaga adalah anak  laki-laki dari Arya Wilatikta yang merupakan seorang tokoh pemberontak pimpinan Ronggolawe pada masa kerajaan Majapahit.

Julukan Kalijaga sendiri yang disematkan kepada beliau berdasarkan sejumlah pendapat diambil dari nama sebuah dusun di Cirebon. Dusun tersebut memiliki nama Kalijaga, sebab zaman dulu berdasarkan cerita sejarah Sunan Kalijaga memiliki hubungan dekat dengan Sunan Gunung Jati.

6. Sunan Kudus

informazone.com

Sunan Kudus termasuk salah seorang Sunan dalam 9 nama-nama Wali Songo. Berdasarkan sejarah Sunan Kudus merupakan seorang Wali yang mewariskan budaya toleransi antar umat beragama. Sebagai contoh adalah umat Islam diajarkan untuk menyembelih kerbau pada saat hari raya Idul Adha untuk menghormati masyarakat Hindu di Kudus.

Nama Asli Sunan Kudus: Ja’far ShadiqWilayah Dakwah Sunan Kudus: Kudus, Jawa TengahPeninggalan Sunan Kudus: Masjid Menara KudusTahun Wafatnya: 1550 MMakam Sunan Kudus: Kudus, Jawa Tengah

Baca Juga : Biografi Sunan Gunung Jati, Silsilah, Dakwah, dan Ajaran-ajaran Beliau

Menurut catatan sejarah Sunan Kudus adalah cucu dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati dari anaknya yang bernama Syarifah. Hal ini berarti Beliau merupakan keponakan dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Julukan Sunan Kudus yang diberikan kepadanya berasal dari nama tempat Beliau belajar yaitu Al-Quds.

Sejarah Singkat Sunan Kudus

Selain menimba ilmu agam Islam di Al-Quds, Yerusalem, Palestina, Beliau juga belajar agam islam dari kedua  pamannya (Sunan Bonang dan Sunan Drajat). Selam belajar di Yerusalem, Sunan Kudus banyak mendapat pelajaran mengenai ilmu agama dan ilmu pengetahuan dari para ulama Arab.

Seusai menuntaskan belajar di Yerusalem, Beliau kembali ke Nusantara dan memulai merintis sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantren itu Sunan Kudus mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam dan berdakwah untuk mengajak masyarakat setempat agar beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Ilmu yang didapatkan ketika menuntut ilmu di Jawa dan Timur Tengah dangatlah banyak. Berkat keluasan ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang dimiliki oleh Sunan Kudus, akhirnya masyarakat setempat meminta agar beliau menjadi pimpinan daerah Kudus.

Sunan Kudus pun mengambil tawaran tersebut, karena menilai bahwa ini dapat menjadi salah satu kesempatan untuk menyebarkan ajaran agama Islam lebih luas lagi. Ditambah Beliau jadi memiliki kesempatan untuk mengajarkan agama Islam di kalangan pejabat, priyai, dan bangsawan-bangsawan pada kerajaan Jawa.

Beliau juga mendapat gelar Wali Al-ilmi yang berarti orang yang berilmu karena keluasan ilmu yang dimiliki oleh Sunan Kudus. Ketika berdakwah di masyarakat, Beliau juga menggunakan cara dakwah dengan menyelipkaan ajaran agama Islam pada kebiasaan atau budaya rakyat setempat.

7. Sunan Muria

informazone.com

Sunan Muria termasuk salah seorang Sunan dalam 9 nama-nama Sunan Wali Songo. Berdasarkan sejarah Wali Songo, Sunan Muria adalah salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki metode pembelajaran agam Islam yang terkenal. Metode pengajaran Beliau adalah menggunakan tembang sinom dan kinanti dalam menyampaikan ajaran Islam

Selain itu Sunan Muria juga mewariskan sebuah budaya bernama kenduri. Budaya Kenduri ini merupakan sebuah budaya untuk mendoakan orang yang sudah meninggal sesudah dimakamkan. Di dalam kenduri ini terdapat istilah nelung dinani artinya 3 hari, mitung dinaniartinya 7 hari, matang puluhi artinya 40 hari, nyatus artinya 100 hari, mendak pisanmendak pindonyewu artinya 1000 hari.

Nama Asli Sunan Muria: Raden Umar Said.Wilayah Dakwah Sunan Muria: Kudus dan Pati.Peninggalan Sunan Muria: Masjid Muria.Tahun Wafatnya: 1551 M.Makam Sunan Muria: Kudus, Jawa Tengah.

Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Istrinya yang bernama Saroh, adik kandung dari Sunan Giri. Dalam berdakwah di masyarakat Beliau menggunakan cara syiar dengan menyisipkan nilai-nilai Islam kedalam budaya dan dan kesenian masyarakat setempat.

Sunan Muria lebih akrab dan suka berdakwah kepada rakyat jelata karena memiliki jumlahnya paling banyak dan mereka juga mudah menerima ilmu-ilmu baru. Selain menyampaikan ajaran agama islam, semasa hidupnya Beliau juga bertani, berdagang, dan melaut.

8. Sunan Gunung Jati

informazone.com

Sunan Gunung Jati termasuk salah seorang Sunan dalam 9 nama-nama Sunan Wali Songo. Berdasarkan sejarah Wali Songo, Sunan Gunung Jati merupakan salah seorang tokoh Walisongo yang populer akan pesan wasiatnya.

Pesan wasiat itu berbunyi “Sugih bli rerawat, mlarat bli gegulat” maknanya menjadi kaya bukan untuk diri sendiri, menjadi miskin bukan untuk menjadi beban orang lain.

Nama Asli Sunan Gunung jati: Syarif Hidayatullah.Wilayah Dakwah Sunan Gunung Jati: Cirebon, Banten dan Demak.Peninggalan Sunan Gunung Jati: Masjid merah Panjunan, Kumangang Pintu, dan Kereta untuk berdakwah.Tahun Wafatnya: 1568 M.Makam Sunan Gunung Jati: Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat.

Sunan Gunung Jati merupakan seorang Wali keturunan bangsawan dari Timur Tengah yang bernama Sultan Syarif Abdullah Maulana. Ayah Sunan Gunung Jati adalah keturunan dari Bani Hasyim yang berasal dari Palestina dan jadi pembesar di Negara Mesir.

Sunan Gunung Jati semasa hidupnya menyampaikan ajaran Islam di wilayah sekitar daerah Cirebon, Jawa Barat. Di sana Beliau juga membangun sebuah pondok pesantren untuk mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat yang tinggal di Cirebon.

9. Sunan Giri

informazone.com

Sunan Giri merupakan salah seorang Sunan yang termasuk dalam 9 nama-nama Sunan Wali Songo. Berdasarkan sejarah Wali Songo, Sunan Giri adalah seorang Wali yang populer akan cara penyampaian dakwah yang ceria kepada masyarakat.

Dalam penyampaian dakwah, Sunan Giri juga menyelipkannya ke dalam hiburan lagu permainan contohnya cublak-cublak suweng, jamuran, dan lir ilir.

Nama Asli Sunan Giri: Muhammad Ainul Yakin.Daerah Penyebaran Islam Sunan Giri: Gresik, Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.Peninggalan Sunan Giri: Tembang Pucung, Tembang Asmarandana, Masjid Giri, Giri Kedaton dan Telogo Pegat.Tahun Wafat Sunan Giri: 1506 MMakam Sunan Giri: Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Sunan Giri merupakan putra keturunan dari ulama Islam yang sedang melakukan syiar Islam di daerah Pasai, Malaka. Namun karena pada saat itu timbul sebuah konflik, sehingga ayah Sunan Giri menitipkan Sunan Giri pada seorang nelayan supaya dibawa pergi ke Jawa.

Demikian artikel mengenai Wali Songo beserta nama-nama asli Wali Songo. Semoga tulisan ini dapa bermanfaat dan membantu Anda dalam mempelajari sejarah Wali Songo dalam menyebarkan luaskan ajaran agama Islam di Indonesia. Salam.

Mengenal Nama Syekh Siti Jenar
Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yang diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan.
Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.

Kumpulan Pantun Minang Humor

Pantun-pantun ini merupakan pantun yang pernah saya kirim dalam acara radio “Pantun Bagurau” di Radio Luhak Nan Tuo 102.5 FM Batusangkar.

*Bujang Pasariawan adalah nama saya di radio. Karena saya memang hobi mengoleksi sariawan. Hehehe… 😀

Tinggi tabangnyo si Buruang Bondoh
Tabang mambubuang ka angkasa
Den sangko SMS adiak nan tibo
Kironyo dari mama mintak pulsa

***

Buruang Alang di Sungai Sariak
Tabang mambubuang ka langik sabak
Satiok tabayang senyum manih adiak
Karupuak jariang dikulek raso martabak

***

Ambiak kawek di ateh banto
Kawek nan kuniang duo-duo
Payah bacewek jo panyiar radio
Awak aniang inyo mangecek juo

***

Bali lado pancukuik samba
Samba baluik untuak minantu
Iyo bedo basunguik taba
Tiok sabanta tasapik pintu

***

Merdu bakicau si Buruang Pipik
Pipik bakicau di tangah hari
Asa lai namuah adiak dijapuik
Onda di dealer den baok lari

***

Buruang punai di Sungai Sariak
Baputa-puta mancari alamaik
Tiok tabayang lasuang pipik adiak
Kopi diminum raso jus tomaik

***

Kok dunsanak pai ka Padang
Baokkan bingkuang jadi si buah tangan
Oi adiak janlah galak gadang-gadang
Tengganglah denai ko nan jantuangan

***

Lamak bamain layang-layang
Bamain kalereang kito kamudian
Lamak bapacar jo gadih Sungayang
Tiok maanta dapek durian

***

Datang indak bajapuik
Pulang indak baanta
Asa rokok lai cukuik
Bialah lalok indak babanta

***

Apolah guno saroban
Saroban paelok laku
Apolah guno koran
Koran panaba saku

***

Ingin hati pai ka pulau
Tapi pandayuang lah patah pulo
Ingin hati pai ka lapau
Tapi tarompa suok kaduonyo

***

Bialah bakandang lapang
Asa takabek si anak macan
Bialah batarompa japang
Asa di jari mangkilek si batu bacan

***

Pai ka pasa mambali kuini
Untuak dimakan di sanjo hari
Banyak nan tempang jalan urang kini
Dek batu sagadang tinju lakek di jari

***

Dinanti tabang si Buruang Bondo
Sakali tabang jauah malintang
Dinanti adiak ndak kunjuang tio
Sakali tibo managiah utang

***

Tinggi tabangnyo si Buruang Gagak
Hinggok di dahan patah rantiang
Mancaliak pak gaek makan martabak
Talantiang giginyo ka tapi piriang

***

Ombilin jalan ka mudiak
Rami oto basilalu
Salamek maambuih lilin oi adiak
Samoga sehat salalu

***

Sapandai-pandai tupai malompek
Nan pasti ka jatuah juo
Sapandai-pandai adiak mangamek
Nan gigi ompong ka nampak juo

***

Alang tabang di ateh ngarai
Tabang tinggi ka langik sabak
Iyolah malang nasib denai
Baapi-api lai barokok indak

***

Rami urang di Tigo Jango
Rami dek anak gadih-gadih
Iyolah malang nasib denai ko
Bulan mudo pitih lah abih

***

Tasabuik danau singkarak
Iyolah hulu batang ombilin
Dicaliak pariuak nan tingga karak
Pitih lah habih dek batu cincin

***

Rimbun daunnyo batang kuini
Dibawahnyo anak-anak bamai kalereang
Ado-ado sajo mode buya jaman kini
Pasang kopiah dipateleang

***

iyolah siang tibo di kapalo
bapayuang kito maambiak cubadak
iyolah malang tibo di denai ko
bagayuang lai baraia indak

***

alah lamo indak ka rimbo
sakali ka rimbo iyo rimbo cino
alah lamo indak basuo
sakali basuo upiak sadang badomino

***

Taratak lalu Simpuruik
Banyak urang mamakai batiak
Paruik litak lapau lah tutuik
Tapaso bakinyam tapi-tapi batu akiak

***

ujan hari di tangah malam
patuih jo guruah sahuik-manyahuik
ka mangopi lampu padam
galeh urang nan tasarupuik

***

iyolah mabuak di padehnyo lado
dek tamakan sakali duo
iyolah badabuak jantuang di dado
dek tacigok dompet di tanggal tuo

***

kok ragu jalan ka muaro tebo
ancak ditanyo ka nan cadiak
kok rindu bana nan lah tibo
cicak dipandang tabayang adiak

***
baa bana di duri bungo
jikok dipacik arek malakek
indak dikakok mato takilek
takilek jauh dari pandangan

baa bana di diri nan ko
denai manjauah adiak mangamek
denai mandakek adiak malompek
iyo bedo parasaian badan

***
bialah jalak di ateh dahan
asa talarai si buruang angso
bialah litak denai tahan
asa tabali baterai untuak radio

***
jikok sanak ka kampuang kuriak
ambiak durian di ateh batu
jikok mandanga galak badarai adiak
akhir bulan saraso tanggal satu

***
bukan parpatih jadi nahkodo
tapi tuanku rajo dubalang
bukan pitih nan indak ado
tapi saku banyak balubang

***

bialah tarang di rambang patang
nan bararak rinai salapeh pagi
bialah urang nan alah kanyang
nan wak sato pulo mancukia gigi

***

rami lapangan dek panampilan ben
urang banyanyi dari lua nagari
gigi ompong bakacamotao reben
kironyo pak gaek mancaliak garhano matoari

***

tasabuik kain rancak diurai
kain sutra tanamo dari toraja
tadanga adiak galak badarai
dalam kopatra saraso di ateh apanja

***

lapek talatak di tapi cawan
dibali dari lapau si mon
gaek manakua di tangah jalan
kironyo sadang mancari pokemon

***

urang mudiak manabang pinang
pinang dihirik ka dalam ladang
mandanga adiak maimbau sayang
gata digigik rangik sakatiko ilang

***

tasabuik rimbo di tangah koto
lah sabaliak gagak basarang
sarang dirajuik manjadi kandang

sabana bedo nasib kawan ko
lah mulai galak-galak surang
satiok mancaliak asoy tabang

***

urang kuriak pai ka darek
jalan baduo di ate batu
tiok mancaliak adiak mangamek
bulan tuo saraso tanggal satu

***

manurun jalan ka Sungayang
mambaok pisang jo buah salak
ka bakeh urang bakatokan sayang
bini di rumah kanai bulalak

***

luruihlah jalan ka sungayang
babelok jalan ka saruaso
katiko rancak maimbau sayang
kini lah gapuak baimbau: puso!

***

tasabuik rimbo di tangah koto
lah sabaliak gagak basarang
sarang dirajuik manjadi kandang

sabana bedo nasib kawan ko
lah mulai galak-galak surang
dek mancaliak kantong asoi tabang

***

tinggi tabangnyo si buruang bondo
jatuah badarai maimpok buah rambutan
iyolah bansaik bana iduik denai ko
oto baru limo, rumah hanyo balenggek lapan

***

tasabuik urang bunian
bacurito kawan di ateh batu
cando ko bana parasaian
baa dek lamo bana tanggal satu

jalan babatu padati diarah
diarah padati si urang jao
kironyo tanggal satu almanaek sirah
karak di pariuak bakikih juo

***

bungo kananga basalo duri
nampak ruso bakaki balang
sabanta bana rasonyo hari
bulan puaso lah ka datang

sumbahyang zuhur di surau tuo
ayam mangaram di tapian talago
nan manjagoan sahur dek alun ado
tapaso alaram basalek ka talingo

 

Pantun Minang
PANTUN MINANG.

Rami pasa nyo muaro paneh,

Rami dek anak rang malalo,

Manangih tali ka mintak uleh,

Buhua nan indak ka manarimo.

Bukik Tinggi taruih ka baso
Payokumbuah hari lah sanjo
Hutang ameh itu lah biaso
Tasangkuik budi susah balehnyo

unduang2 anak rambayan ,

 tabang maingök ka halaman ,

 pangikek bana indak manenggang

 apo ka dayo katitiran . . . .

batu sangka balantai batu ,

parak jua labuah basilang,

sadang jo kapa lai ndak lalu,

kunun jo rakik batang pisang,

Kain palapak ragi nyo rancak
Dibao urang pai kapadang
Sadangkan lawik dak bariak
Manga koh uda ka gilo surang

ndak den sangko si nandi-nadi,

kuciang balang,baranak balang,
den sangko  lai jadi,

kiro nyo di larian urang

di tarah indak tatarah,

di lateh malah juo nan jadi,

di tagah indak ta tagah

di lapeh juo malah jadi nyo

pai kapakan naiak bendi....
brankeknyo lah siang hari....
jan lah nan gaek22 baibo hati....
mancaliak kalauan nak22 kni.......

DARIPADO LALU KA JAM GADANG
ELOK BAPUTA KA JANJANG AMPEK PULUAH
DARIPADO BANSAIK DIBAOK PULANG
ELOK LAH RANTAU KO DIPAJAUAH

BALINGKA KOTO PAMBATAN
TIGO KOTO JO KOTO TUO
AMPEK KOTONYO JO KOTO GADANG

NAN DULU IYO ASA NAN URANG TANYOKAN
KALAU KINI NAN KAYO DIKAMUKAN
NAN BANSAIK DI TINGGAKAN KA BULAKANG,.

marapalam sarangkai limo

 jatuah badammak ka subaliak,
kalau ka dihadang laut cino,

kana badan nan ka babaliak.

lai bana den tamnam padi

naneh juo ditanyo urang ... 
lai bana den tanam budi ..

 ameh juo ditanyo urang.

Banyak bana bungo nan kambang
Indak sarancak bungo padi
Duo tigo gadiah nan den pandang
Surang juo ...pautan hati

singkarak salingka danau..
salabuah yo satapian..
badunsanak imbau maimbau..
pitaruah bundo iyo di pituahkan..

Panakiak pisau sirawik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiakkan niru,
nan satitiak jadikan lawik,
nan sakapa jadikan gunuang,... Lihat Selengkapnya
Alam Takambang Jadi Guru

Nak duo pantun sairiang....

Talangkang carano kaco
Badarai carano kandi
Pariuak samo rang jarangkan
Bacarai karano baso
Baranggang karano budi
Itu nan samo rang pantangkan

singkarak salingka danau..
salabuah yo satapian..
badunsanak imbau maimbau..
pitaruah bundo tolong pituahkan..

Maninjau padilah masak
batang kapeh batimba jalan
hati risau dibao galak
bak paneh manganduang ujan

Batang tabu jo batang tibarau
Di baok anak rang tanjuang pati.
Manolah sagalo sanak nan d rantau
Kirimlah kami pantun paubek hati. 
Nak duo pantun sairiang.
...Gunuang marapi gunuang singgalang
Batuhampu talatak d tangahnyo 
Sagunuang pantun manbaok tabang 
Kok lai ka inggok d hati ambo

mamak ambo sutan maruhun.
dari bonjo ka bukik campak.
singgah ka pasa urang talu.
nasib bak cando tuduang daun.
ujan taduah badan ta campak.
...caia di pijak urang lalu.

liku baliku jalan ka baruah,

di sinan marantak si kudo bendi,,,,

janjang patah pintu lah rubuah ,

den imbau mande indak babunyi

guno cumanak di panjangkan.......
ka pandindiang sawah taruko........
nak tarang jalan ka samak..........

gunonyo anak di gadangkan.........
...ka pambimbiang badan ko tuo.....
badan nan indak badunsanak.......

Sairiang balam jo barabah. .
Tabang malayok ka dalam padi. .
Sairiang salam sarato sambah. .
Salam pa arek silaturahmmi. .

Sararak sabondong tibo. .
Sasajian samba makan. .
Dari alif kaji bamulo. .
Kato babilang dari parasaan. .
Sakapuah siriah paulam
Pinang duduak tasaji untuak hidangan. .
Dek tibo hari baiak, kilaf jo salah mohon diampunkan. . .

rami pasa nyo muaro paneh...

rami dek anak rang malalo..

manangih tali ka mintak uleh..

buhua nan indak ka manarimo

condong mato ka nan rancak.. condong hati ka nan elok..condong paruik ka nan lamak..condong rumah dek ka rubuah..condong pikiran ka gaduik...

maninjau padilah masak,

 batang kapeh batimba jalan

hati risau dibaok galak,

nan bak paneh manganduang hujan...

nak duo pantun sairiang..

...anak urang sikubang putiah, pai kabalai hari salasa
io sarik ba ayam putiah kok indak sikok alang manyemba

TAMBILANG DI RUMPUN LANSEK,

TASISIK DIRUANG LANTAI

DEN BILANG SADO NAN DAPEK,

NAN TINGGA  UNTUAK  RANG  NAN  PANDAI

Dek ribuik runduaklah padi

dicupak dt tumangguang.

jikok hiduik indak babudi

duduak tagak kamari tangguang

Santuka dikoto kaciak,

dalam babuah babungo pulo.

bialah suka asa lai cadiak,

tala wan juo dunia rang nan kayo.

Iyo lah badabua diak oi, ombak di subarang
Jauh lah tadanga diak oi, ka Koto Marapak -2x
Denai lah tasintak diak oi, hati indak sanang
Mimpi sadang lamak diak oi, denai lah tasintak -2x
Den pai ka tukang tanuang
Nyo caliak si ratak tangan
Apoko mukasuik mimpi
Nan taraso tadi malam

Sialang biduak rang tiku pandai badayuang manilungkuik.

baselang kayu dlm tungku disinan api mangko iduik.

badarai carano kaco,,,,,,

badangkang carano basi,,,

,banang sadapo rang rantang kan,,,,

bacarai karano baso,,,,

bapisah karano budi,,,,

tu karajo nan rang pantang kan.

digemai juo den uda
Jan digemai juo den uda
Bata uduak den oi uda awak badoso
Jan digemai juo den uda
Jan digemai juo den uda
Denai yo takuik oi uda masuak narako
Sadang ka lauak acok digemai
Lai pacah paruiknyo
Sayang ka kuciang talampau gemai
Iyo kambang bulunyo
Kok anak ketek suko maresek
Itu alah biaso
Kok urang gaek yo nan galetek
Itu gaek kalapo
Sadang maota muluik bicaro
Tangan jan malah sato
Ingeklah uda diri den nangko
Bukan nyo gigi oto
Jan digemai juo
Jan digemai juo

Elok ranahnyo rang singkarak,

pudiang ameh batimbo jalan.

jikok batanyo lapeh arak jikok

barundiang sasudah makan.

urang selayo pai kasolok, tibo di solok mambali lado … dimaa mato knamuah lalok ranah minang takana jou

Sicerek tolong ladangkan diladang dicabuik urang dari ketek mandeh gadangkan lah gadang di japuik urang

putiak naneh bungo cimpago....
katigo jo bungo nango....
Adiak ameh denai timbago....
Dima lah mungkin kito basamo.....

kok ndak mngkin tali dirantang
punta lah dulu ka kumparan
kok anggan mambaok tabang
manga di buai denai jo angan

Pepatah Petitih Minangkabau

201. Jatuah mumbang jatuah kalapo, jatuah bairiang kaduonyo. Rusak adaik hancua pusako habih kabudayaan nan usali.

Kalau tidak hati-hati dan tidak dibina dan dikembangkan kebudayaan asli (Adat Minangkabau) hancurlah kebudayaan asli kita.

202. Jikok panghulu bakamanakan, maanjuang maninggikan. Pandai nan usah dilagakkan manjadi takabua kasudahannyo.

Pengetahuan dan kepintaran jangan dibanggakan karena mengakibat hati menjadi takbur jadinya.

203. Jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang.

Rasa kekeluargaan yang tak kunjung habis, walau jauh dimata tapi dekat dihati.

204. Jangek suriah kuliklah luko, namun lenggok baitu juo.

Seseorang yang tidak tahu diri walaupun dia telah jatuh hina karena perbuatannya, tetapi dia tetap membanggakan diri.

205. Jan disangko murah batimbakau, maracik maampai pulo, jan disangko murah pai marantau, basakik marasai pulo.

Hidup dirantau orang tidaklah semudah hidup dikampung halaman tempat kita dilahirkan, karena jauh handai tolan.

206. Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso.

Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak pengalaman.

207. Kuaik rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso, kuaik bangso karano budi, rusak budi hancualah bangso.

Ketinggi suatu bangsa akan ditentukan oleh kepribadian bangsa itu sendiri. Kalau budi bangsanya telah hancur, akibat kehancuran bangsa itu sendiri.

208. Kilek baliuang lah ka kaki, kilek camin lah ka muko.

Suatu perbuatan dan perkataan yang telah difahami maksud dan tujuannya.

209. Kalau hari lah paneh lah lupo kacang jo kuliknyo.

Melupakan jasa baik orang lain yang pernah menolong kita, tetapi kapan kita telah mendapat kesenangan atau yang dicitakan melupakannya.

210. Kalau karuah aia di hulu sampai ka muaro karuah juo.

Pada umumnya keturunan menentukan corak dan kelakuan yang pernah dimiliki oleh ibu bapaknya.

211. Kalau kuriak induaknyo rintiak anaknyo.

Ibu bapak yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula dan sebaliknya.

212. Kasingka talalu ampang, kapitungguah talampau unjua.

Seseorang yang memiliki pengetahuan serba tanggung sehingga tidak dapat dimanfaatkannya.

213. Kato iduik banyawa iduik, kato mati bapambunuahan.

Suatu keterangan yang diberikan ternyata ada kebenarannya, dan suatu keterangan yang tidak terbukti kebenarannya.

214. Kuaik katam karano tumpu, kuaik sapik karano takan.

Suatu pekerjaan atau kewajiban yang dikerjakan karena terpaksa, bukan karena kesadaran.

215. Ka bukik samo mandaki kalurah samo manurun.

Suatu pekerjaan yang dikerjakan secara bersama dan didorong oleh kesadaran.

216. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang.

Suatu pekerjaan begitupun tingkah laku dan peranggai yang dapat dicontoh oleh orang lain.

217. Kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih.

Seseorang yang baru saja mendapatkan suatu nikmat tetapi senantiasa dipergunakan dengan hati bangga dan sombong.

218. Kalau tasungkuik pado nan tinggi, jikok basanda pado nan gadang.

Sesuatu perbuatan hendaklah dilandaskan kepada Agama, Adat dan Undang-Undang Pemerintah.

219. Kato panghulu manyalasai, mandareh kato dubalang. Adaik kok kurang takurasai, dunia manjadi takupalang.

Ajaran Adat Minangkabau yang sejati kalau tidak diamalkan oleh masyarakatnya, hilanglah budi didalam diri.

220. Kalau dek pandang sapinteh lalu, banyak pahamnyo tagaliciak, pandai tak rago dek ba guru, salam tak sampai pado kasiah.

Ajaran Adat tidak dapat dipahami, apalagi untuk diamalkan kalau sekiranya hanya dengan mendengar pepatah petitih, tampa mendalaminya.

221. Katiko taimpik nak diateh, katiko takuruang nak dilua, bajalan baduo nak ditangah bajalan surang nak dahulu.

Pepatah ini mengandung arti: bagaimana sulitnya memimpin masyarakat yang jiwanya sangat kritis dan koreksi.

222. Kahilia jalan ka Padang, ka mudiak jalan ka Ulakan, kok musuah indak dihadang, tasuo nan indak ba ilakkan.

Tidak mau bermusuhan dalam hidup bermasyarakat tetapi kalua datang dengan tiba-tiba tidak pula dielakkan.

223. Kahilia jalan ka Sumani, sasimpang jalan ka Singkarak, saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak.

Sesuatu hendaklah dengan musyawarah untuk mufakat. Satu pendapat dan satu tujuan.

224. Kaduo kato mufakat, sakato urang kasadonyo, elok sapahan sahakikat, santoso kito salamonyo.

Satu pendapat dan satu gerak, satu tujuan akan melahirkan kesentosaan dan kebahagiaan dalam masyarakat.

225. Kaampek kato kamudian, patuik bana kato dicari, taruah naraco jo katian, paniliak langgam nan tadiri.

Didalam diri manusia yang berpengetahuan dan diamalkannya, ada neraca yang menentukan baik dan buruk.

226. Kato rajo kato basahajo, kato titah kato balimpahan, dari duo capailah tigo, jangan sakali disudahi.

Setiap manusia perlu mempunyai cita-cita yang tinggi dan mulia, tetapi harus dicapai dengan cara ber angsur-angsur.

227. Kato panghulu manyalasai, kato alim kato hakikat, talamun patuik kito kakeh, lahia jo bathin nak saikek.

Perlu penggalian adat dan agama Islam secara mendalam , sehingga lahir dan bathin dapat sesuai.

228. Kato bapak kato panggaja, kato kalipah dari mamak, mujua indak dapek kito kaja, malang tak dapek kito tulak.

Keuntungan tak dapat dikejar-kejar, begitupun mara bahaya dan musibah tidak kuasa manusia menolaknya.

229. Kato guru kato batuah, kato saudaro paringatan, kuncilah bathin jan taruah, budi nan jan sampai nampak.

Keteguhan bathin menyimpan rahasia seseorang, menjadikan orang yang teguh ini mulia budinya.

230. Kato parampuan kato manuruik, mangambiak hati suami, labiahkan rusuah jo takuik, jarek sarupo jo jarami.

Rusuh hati jangan kelihatan, takut paham tergadai, hati-hati dalam berbicara karena banyak musuh dalam selimut.

231. Kato adaik pahamnyo aman, malangkapi rukun dengan syarat, kalau elok pegang padoman, santoso dunia jo akhirat.

Ajaran adat dan agama Islam kalau benar-benar diamalkan, menjamin keselamatan dunia akhirat.

232. Koroang kampuang didalam jurai, baitu limbago sajak dahulu, dunialah lamo inyo pakai, raso pareso nyolah tahu.

Orang yang tua harus dihormati, karena ketuaannya dia telah banyak merasakan pahit manis dalam kehidupan.

233. Kalau adaik dalam nagari, bulek sagiliang picak satapiak, sabarek saringan kasadonyo Urang mulia dalam nagari, muluik manih basonyo baiak, sakati limo nilai haragonyo.

Kemuliaan dalam pandangan adat terletak pada budi baik dan indah bahasanya seseorang.

234. Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo.

Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara.

235. Kato manti kato bahubuang, kato dubalang kato mandareh. Jauhari pandai manyambuang, nan singkek buliah diuleh.

Orang jauhari bijaksana pandai mencari jalan keluar dalam suatu kesulitan yang datang secara tiba-tiba.

236. Kiniko coraklah barubah, alam mardeka lah tabantang, sadang manggali kasajarah usahokan galian dek basamo.

Kemerdekaan telah tercapai, kita harus menggali sejarah kebudayaan bangsa secara bersama.

237. Kok alah sampai di hulu, balunlah pulo sacukuiknyo. Dek kokoh niniak nan dahulu kunci nan limo pambukaknyo.

Nenek moyang di Minangkabau pemikirannya jauh memandang kedepan untuk masa anak cucu, dengan mempergunakan panca indra yang lima.

238. Kito di alam Minangkabau lah patuik tasintak pulo, katiko balun talampau elok dirunuik sitambo lamo.

Sudah masanya sekarang kita mengali dan mengembangkan adat Minangkabau sebagai rangkaian dari kebudayaan nasional.

239. Kauak indak sahabih gauang, awai indak sahabih raso, paham pahamnyo nan tak lansuang, batuka tujuan mukasuiknyo.

Adat Minangkabau selama ini tidak pernah mendapat pengalian dan pembinaan, akibatnya banyak orang salah pengertian tentang tujuan adat itu.

240. Kalau pai tampak pungguang, jikok babaliak tampak muko.

Kalau pergi hendaklah memberi tahu, jika kembali hendaklah memberi khabar.

241. Kalau indak pandai bakato-kato, bak alu pancukia duri, kalau pandai bakato-kato bak santan jo tangguli.

Seseorang yang tak pandai berbicara secara baik, sama dengan alu pencongkel duri tetapi kalau pandai umpama santai dengan tengguli.

242. Kato papatah caro Minang, patitiah luhak nan tigo. Nan turun dari Parpatiah nan sabatang, manjadi kato pusako.

Ajaran adat Minangkabau yang disusun oleh Dt. Parpatih nan Sabatang, merupakan ajaran yang dapat mengikuti perkembangan zaman.

243. Kito nan bukan cadiak pandai, ulemu di Tuhan tasimpannyo. Kok senteang batolong bilai tandonyo kito samo sabanso.

Kalau dijumpai kekilafan dan kesalahan tolong maaf dan betulkan, karena khilaf itu sifat manusia, tandanya kita orang satu bangsa.

244. Kito nan bukan cadiak pandai, hanyo manjawek pituah dari guru. Pituah guru nan dipakai, nak jadi paham jo ukuran.

Nasehat guru dan pelajaran yang diajarkannya kepada murid, adalah menjadi pedoman dalam kehidupan.

245. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana.

Kalau dapat mendalami ajaran adat kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat.

246. Kaluah kasah papek nan ampek, sarato anggota katujuahnyo, panca indra manangguangkan, batang tubuah marasokan.

Sesuatu perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan akan menimbulkan penyiksaan terhadap bathin kita sendiri.

247. Kalau balaia banakodoh, jikok bajalan jo nan tuo.

Mengerjakan suatu pekerjaan hendaklah dengan yang ahlinya, memasuki suatu negeri hendaklah dengan orang yang mengetahuinya.

248. Kuaik dari paga basi, kokoh nan dari paga tembok.

Pagar yang paling kokoh ialah pagar sesuatu dengan budi yang baik.

249. Kato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik.

Pikirkanlah semasak-masaknya apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain sehingga tidak menyinggung perasaannya.

250. Karantau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dirumah baguno balun.

Pergilah merantau kenegeri orang, cari ilmu pengetahuan, serta cari mata penghidupan, untuk kemudian dibawa dan dikembangkan dikampung halaman.

251. Kasiah sayang dapek dicari, tampek hati jarang basuo.

Untuk mencari istri paling mudah, yang sulit mencari istri untuk menjadi teman sehidup semati.

252. Kalauik riak maampeh, kapulau riak mamutuih, kalau mangauik iyo bana kameh, kalau mancancang iyo bana putuih.

Setiap pekerjaan yang kita kerjakan, begitupun pengetahuan yang kita pelajari jangan patah ditengah.

253. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo.

Kalau pengetahuan baru seujung kuku jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit.

254. Kulik maia ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia ado ba bathin, dalam bathin bahakikat pulo.

Ajaran adat Minangkabau bukan sekedar lahiriyah, tetapi banyak mengandung arti dan makna yang tersirat, yang menuju kepada mental manusia.

255. Kacimpuang pamenan mandi, rasian pamenan lalok.

Mimpi itu kebanyakan sesuatu yang terangan-angan diwaktu bangun.

256. Lain geleang panokok asiang kacundang sapik.

Gelagat seseorang atau suasana yang menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang tak diingini.

257. Lah samak jalan kapintu, lah tarang jalan kadapua.

Seorang suami yang tidak kenal lagi pada tugasnya sebagai mamak dari kemenakan, tetapi semata tahu kepada si istri saja.

258. Limpato batang sitawa, digulai cubadak mudo, lah biaso kito tasalah, karano pangana indak sakali tibo.

Kekilafan dan kesalahan adalah sifat seorang manusia, karena pemikirannya tidak secara serentak.

259. Lauik gadang kalau dihadang, sadiokan sampan jo pandayuang.

Hiduik didunia mangupalang, sagalo karajo kamari cangguang.

260. Limpapeh rumah nan gadang, umbun puruik pegangan kunci.

Kaum wanita di Minangkabau adalah merupakan tiang kokoh diatas rumah tangga dan nageri, dan kunci tentang kebaikan dan keburukan suatu negeri.

261. Lauik banyak nan sati, rantau banyak nan batuah.

Kalau pergi berjalan kerantau orang hendaklah pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan.

262. Lah bacampua lamak jo galeme, indak babedo sadah jo tapuang.

Dalam suatu masyarakat tidak ada lagi batas-batas dalam pergaulan menurut norma adat dan agama.

263. Lahia jo bathin saukuran, isi kulik umpamo lahia.

Seseorang yang baik dan jujur sesuai kata dan perbuatannya.

264. Labuah luruih jalannyo pasa jan manyipang suok jo kida.

Sudah aturan dan undang-undang dan sudah cukup norma adat dan agama, jangan menyimpang dari itu.

265. Mumbang jatuah kalapo jatuah, indak babedo kaduonyo.

Setiap yang bernyawa akan menemui ajalnya baik tua ataupun muda, kecil dan besar.

266. Malabihi ancak-ancak, mangurangi sio-sio.

Setiap pekerjaan hendaklah pertengahan, jangan berlebih-lebihan, begitupun dalam tingkah dan laku.

267. Mukasuik hati mamaluak gunuang, apo dayo tangan indak sampai.

Seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi, tetapi tidak ada kemampuan untuk mencapainya.

268. Mancabiak baju didado, manapuak aia didulang.

Seseorang yang berbicara tetapi tidak disadarinya bahwa dia telah memberi malu diri dan keluarganya sendiri.

269. Malakak kuciang didapua, manahan jarek dipintu.

Perbuatan seseorang yang tidak baik yang dilakukan kepada keluarga sendiri.

270. Mancari dama ka bawah rumah, mamapeh dalam balanggo.

Mencari keuntungan kedalam lingkungan anak kemenakan sendiri.

271. Mairikkan galah jo kaki, manjulaikan aka bakeh bagayuik, malabiahkan lantai bakeh bapinjak.

Seseorang yang ingin menjadikan orang lain tersalah, dengan jalan anjuran dan petunjuknya.

272. Mandapek samo balabo, kahilangan samo barugi.

Rasa social dan kerja sama yang baik yang harus diamalkan dalam pergaulan.

273. Manyauak di ilia-ilia, bakato dibawah-bawah.

Bergaul dalam masyarakat, begitupun dirantau orang hendaklah merendahkan diri.

274. Mancaliak jo suduik mato, bajalan di rusuak labuah.

Seseorang yang telah merasa malu, karena perbuatan yang tidak benar telah diketahui orang.

275. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik.

Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan, yakni yang telah positif baik.

276. Mamakai hereang jo gendeang, mamakai raso jo pareso.

Seseorang yang memakai perasaan malu dan mempunyai kesopanan yang baik.

277. Muluik manih talempong kato, baso baiak gulo dibibia.

Seseorang yang berbicara dengan lemah lembut dan baik susunan bahasanya.

278. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda.

Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan.

279. Malu batanyo sasek dijalan, sagan bagalah hanyuik sarantau.

Seseorang yang tidak mau bertanya tentang suatu pekerjaan yang tidak/belum dikerjakan. Karena ajaran adat itu pada umumnya berkiasan, tidak mudah dipahami tanpa mengetahuinya akan mengalami kesulitan.

280. Minangkabau dahulunyo, adaiknyo tuah disakato, kalau dipandang kato-kato, dipahamkan makonyo nyato, didalami sungguh-sungguh.

281. Maniah nan jan lakeh di raguak, pahik nan jan lakeh di luahkan.

Sesuatu pelajaran dan pengetahuan dari orang lain pikirkan dahulu semasak-masaknya, benar atau tidaknya.

282. Mati harimau tingga balang, mati gajah tingga gadiang.

Manusia mati hendaknya meninggalkan jasa yang baik untuk anak dan keluraga seta masyarakat.

283. Mati samuik karano manisan, jatuah kabau dek lalang mudo.

Biasanya manusia itu banyak terpedaya oleh mulut manis dan budi bahasa yang baik.

284. Marangkuah tungua ka dado, maraiah suatu ka diri.

Setiap suatu yang dirasakan oleh orang lain hendak dapat dirasakan oleh kita sendiri

285. Mampahujankan tabuang garam, mampaliakkan rumah indak basasak.

Seseorang yang membukakan aibnya sendiri kepada oaring lain.

286. Manjujuang balacan dikapalo, mangali-gali najih dilubang.

Seseorang yang senang membukankan aib orang lain.

287. Managakkan banang basah, manaiakkan banda sundai.

Seseorang yang menolong orang lain, sedang orang lain itu dipihak yang tidak benar.

288. Musang babulu ayam, musuah dalam salimuik.

Seseorang yang berpurak menolong dan berpihak kepada kita, tetapi dia sebenarnya ingin mengetahui pendirian kita dan musuh kita.

289. Manusia manahan kieh, binatang Manahan palu.

Manusia yang sempurna selalu mengetahui kata-kata kiasan di Minangkabau.

290. Murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan.

Berbicara sangat mudah, tetapi sulit memelihara perkataan yang akan menyinggung perasaan orang lain.

291. Marabah sadundun jo balam, sikok barulang pai mandi, sambah sadundun jo salam, kato harok dibinisi.

Biasanya dalam pergaulan hidup, Tanya diberi kata berjawab, gayung bersambut.

292. Nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiak iyo budi, nan indah iyo lah baso.

Yang paling berharga dalam kehidupan bergaul adalah budi pekerti yang baik, serta sopan santun.

293. Nak urang koto hilalang, nak lalu kapakan baso, malu jo sopan kok nyo hilang, habih lah raso jo pareso.

Kalau sifat malu telah hilang dalam diri seseorang, hilang segala perasaan sopan santun.

294. Nan bungkuak dimakan saruang, nan bengkok dimakan tali.

Setiap sifat dan tindak tanduk yang tidak jujur dan benar, akan senantiasa ada ganjarannya (hukum karma)

295. Nan luruih katangkai sapu, nan bungkuak katangkai bajak, satampok kapapan tuai, nan ketek kapasak suntiang, panarahan kakayu api, abunyo kapupuak padi.

Didalam ajaran adat tidak ada bahan yang tidak berguna, tidak ada orang yang tidak dapat dimamfaatkan.

296. Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak pamasang badia, nan lumpuah pahunyi rumah, nan patah pangajuik ayam, nan bingguang kadisuruah-suruah, nan cadiak bao baiyo, nan kayo bakeh batenggang.

Semua orang dapat dimamfaatkan, mulia hina, kaya dan miskin, sempurna, cacat, pandai dan bodoh. Sistim yang terdapat dalam adat Minangkabau.

297. Nan condoang makanan tungkek, nan lamah makanan tueh.

Dalam adat manusia lemah harus dibimbing dan dibantu, lebih-lebih kaum wanita, yang qudrat hayatinya lemah dari kaum lelaki.

298. Nan landai batitih, nan condong baraiah, nan lamah baindiak.

Dilarang didalam adat orang yang memperlakukan si lemah semau-maunya.

299. Nak mulia tapek-i janji, nak taguah paham dikunci.

Kalau ingin jadi orang yang dimuliakan selalu tepati janji, dan tidak suka membuka rahasia.

300. Nak tinggi naiak kan budi, nak haluih baso jo basi.

Kalau ditinggikan orang dalam masyarakat peliharalah budi, dan pakailah basa basi.

1. Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek.

Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat.

2. Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.

Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik.

3. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.

Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi.

4. Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.

Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana

5. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik.

Suatu persoalan yang tidak didudukan dan pelaksanaannya dilalaikan.

6. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo.

Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang lebih penting tertinggal karenanya.

7. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan.

Sifat seseorang yang tidak suka berterus terang dan tidak suka ketegasan dalam sesuatu.

8. Alua samo dituruik, limbago samo dituang.

Seorang yang mentaati perbuatan bersama dan dipatuhi bersama.

9. Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.

Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.

10 Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang arih binaso tubuah.Alatbaaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.

Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.

11. Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek alah bajajak, habih tahun baganti musim sandi Adat jangan dianjak.

Walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, tetapi pegangan hidup jangan dilepas.

12. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.

Yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan.

13. Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari.

Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan.

14. Anggang nan datang dari lauik, tabang sarato jo mangkuto, dek baik budi nan manyam buik, pumpun kuku patah pauahnyo.

Seseorang yang disambut dengan budi yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas.

15. Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.

Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak didengar dan menarik orang yang dihadapi.

16. Atah taserak dinan kalam, intan tasisiah dalam lunau, inyo tabang uleklah tingga, nak umpamo langgau hijau.

Seseorang yang menceraikan istrinya yang sedang hamil, adalah perbuatan tidak baik.

17. Aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam.

Seseorang yang sedang menanggung penderitaan bathin.

18. Adaik rang mudo manangguang rindu, adaik tuo manahan ragam.

Sudah lumrah seorang pemuda mempunyai suatu idaman, dan lumrah seorang yang telah tua menahan banyak karena umurnya.

19. Alah limau dek mindalu, hilang pusako dek pancarian.

Kebudayaan asli suatu bangsa dikalahkan oleh kebudayaan lain.

20. Adat dipakai baru, jikok kain dipakai usang.

Adat Minang Kabau kalau selalu diamalkan dia merupakan ajaran yang bisa berguna sepanjang zaman.

21. Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak.

Suatu persoalan yang sudah diketahui oleh umum didalam suatu masyarakat.

22. Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang.

Satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun.

23. Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah.

Seseorang yang mengaku dirinya pandai, tetapi yang kejadiannya sebaliknya.

24. Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.

Hati-hatilah dalam berjalan begitu juga dalam melihat, sehingga tidak menyakiti orang lain.

25. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.

Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama.

26. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan.

27. Bakato bak balalai gajah, babicaro bak katiak ula.

Suatu pembicaraan yang tidak jelas ujung pangkalnya.

28. Bapikia kapalang aka, ba ulemu kapalang paham.

Seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya.

29. Bak kayu lungga panggabek, bak batang dikabek ciek.

Suatu masyarakat yang berpecah belah, dan sulit untuk disusun dan diperbaiki.

30. Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato.

Dalam masyarakat jangan mengasingkan diri, dan bertindak tanpa mufakat.

31. Bak kancah laweh arang, bapaham tabuang saruweh.

Seseorang yang besar bicaranya, dan tidak bisa merahasiakan yang patut dirahasiakan.

32. Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.

Seseorang yang sifatnya terlalu cepat mempercayai orang lain, tanpa mengetahui sifat orang lain tersebut.

33. Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah.

Karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.

34. Batang aua paantak tungku, pangkanyo sarang sisan, ligundi disawah ladang sariak indak babungolai. Mauleh jokok mambuku, mambuhua kalau manggasan, kalau budi kelihatan dek urang, hiduik nan indak baguno lai.

Seseorang dalam masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan, karena tindakannya yang kurang teliti dalam suatu hal. Sehingga kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.

35. Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran.

Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya.

36. Basasok bajarami, bapandam pakuburan.

Adalah syarat mutlak bagi satu nagari di Minang Kabau

37. Bapuntuang suluah sia, baka upeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malambuang.

Kalau ajaran Adat Minang Kabau benar-benar dapat diamalkan oleh anggota masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang tinggi peradabannya dan kuat persatuannya.

38. Bajalan batolan, bakato baiyo, baiak runding jo mufakat. Turuik panggaja urang tuo, supayo badan nak salamaik.

Hormati dan turuti nasehat Ibu Bapak dan orang yang lebih tua umurnya dari kamu, Insya ALLAH hidupmu akan selamat.

39. Barakyat dulu mangko barajo, jikok panghulu bakamanakan. Kalau duduak jo nan tuo pandai nan usah dipanggakkan.

Sewaktu duduk bersama orang tua, baiak orang tua umurnya dari kita, janganlah membanggakan kepandaian kita sendiri.

40. Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.

Seseorang yang pandai dalam hidup bergaul, dia selalu umpama padi berisi, makin berisi makin tunduk, bukan membanggakan kepandaian.

41. Banyak diliek jauah bajalan, lamo hiduik banyak diraso. Kalau kito dalam parsidangan marah jo duko usah dipakai.

Didalam duduk rapat dalam suatu persidangan, tidak boleh berhati murung, dan tidak boleh bersifat marah.

42. Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan dilupokan.

Nasehat yang baik jangan dilupakan, pegang erat-erat untuk diamalkan.

43. Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso.

Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia.

44. Baitu barieh balabiahnyo, dari luhak maso dahulu, kok tidak disigi dipanyato, lipuah lah jajak nan dahulu.

Tentang Adat Minangkabau sebagai kebudayaan daerah kalau tidak dibina dan dikembangkan, maka hilanglah kebudayaan yang asli di Minang Kabau, karena di pengaruhi kebudayaan asing.

45. Buruak muko camin dibalah.

Seseorang yang membuat kesalahan karena kebodohannya, tetapi yang disalahkannya orang lain atau peraturan.

46. Banggieh dimancik, rangkiang disaliangkan.

Marah kepada satu orang tetapi semua orang yang dimusuhi.

47. Barajo Buo Sumpu Kuduih tigo jo rajo Pagaruyuang, Ibu jo bapak pangkanyo manjadi anak rang bautang.

Kesalahan seorang anak, akan banyak tergantung kepada didikan kedua ibu bapaknya.

48. Bak cando caciang kapanehan, umpamo lipeh tapanggang.

Seseorang yang tidak mempunyai sifat ketenangan, tetapi selalu keluh kesah dan terburu buru.

49. Bak lonjak labu dibanam, umpamo kacang diabuih ciek.

Seseorang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, sedang dia sendiri tidak tahu ukurannya dirinya.

50. Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh.

Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar kacir.

51. Bak caro tontoang diladang, umpamo pahek ditokok juo barunyo makan, urang-urang ditanggah sawah digoyang dulu baru manggariek.

Seseorang yang tidak tahu kepada tugas dan kewajibannya sehingga selalu menunggu perintah dari atasan, tidak mempunyai inisiatif dalam kehidupan.

52. Bak sibisu barasian, takana lai takatokan indak.

Seseorang yang tidak sanggup menyebut dan mengemukakan kebenaran, karena mempunyai keragu-raguan dalam pengetahuan yang dimiliki.

53. Bak baruak dipataruahkan, bak cando kakuang dipapikekkan.

Seseorang hidup berputus asa, selalu menunggu uluran tangan orang lain, tidak mau berusaha dan banyak duduk bermenung.

54. Bak manjamua ateh jarami, jariah abieh jaso tak ado.

Pekerjaan yang dikerjakan tanpa perhitungan, sehingga menjadi rugi dan sia sia.

55. Bak balaki tukang ameh, mananti laki pai maling.

Menunggu suatu yang sulit untuk dicapai, karena kurang tepatnya perhitungan dan harapan yang tak kunjung tercapai.

56. Baulemu kapalang aja, bakapandaian sabatang rokok.

Seseorang yang tidak lengkap pengetahuan dalam mengerjakan sesuatu, atau kurang pengetahuannya.

57. Bunyi kecek marandang kacang, bunyi muluik mambaka buluah.

Seseorang yang besar bicara tetapi tidak ada memberi hasil.

58. Baguno lidah tak batulang, kato gadang timbangan kurang.

Pembicaraan yang dikeluarkan secra angkuh dan sombong, tidak memikirkan orang lain akan tersinggung.

59. Bak bunyi aguang tatunkuik, samangaik layua kalinduangan.

Seseorang yang tidak bisa bicara karena banyak takut dan ragu dalam pendirian.

60. Bak itiak tanggah galanggang, cando kabau takajuik diaguang.

Seseorang yang sangat tercegang dan takjub dengan sesuatu, sehingga tidak sadarkan diri sebagai seorang manusia.

61. Bungkuak saruweh tak takadang, sangik hiduang tagang kaluan.

Seseorang yang tidak mau menerima nasehat dan pendapat orang lain, walaupun dia dipihak yang tidak benar sekalipun.

62. Bumi sampik alam tak sunyi, dio manjadi upeh racun.

Biasanya orang yang disebut dalam no.61 diatas menyusah dan menjadi batu penarung.

63. Bak umpamo gatah caia, bak cando pimpiang dilereng, iko elok etan katuju.

Sifat seorang laki-laki atau perempuan yang tidak mempunyai pendirian dan ketetapan hati dalam segala hal.

64. Basikelah anggan kanai, basisuruak jikok kanai, tasindoroang nyato kanai.

Sifat yang harus dihindarkan, seorang yang tidak mau bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

65. Budi nan tidak katinjauan, paham nan tidak kamaliangan.

Seseorang yang tidak mau kelihatan budi, dan selalu hati-hati dalam berbuat bertindak dalam pergaulan.

66. Bak basanggai diabu dingin, bak batanak ditungku duo.

Suatu pekerjaan yang sia-sia dan kurang mempunyai perhitungan.

67. Bak taratik rang sembahyang, masuak sarato tahu, kalua sarato takuik.

Seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh ketelitian dan menguasai segala persoalannya.

68. Bak galagak gulai kincuang, bak honjak galanggang tingga.

Seseorang yang berlagak pandai dalam sesuatu, tetapi yang sebenarnya kosong belaka.

69. Bak ayam lapeh malam, bak kambiang diparancahkan.

Seorang yang kehilangan pedoman hidup serta pegangan, berputus asa dalam sesuatu.

70. Bak balam talampau jinak, gilo maangguak tabuang aia, gilo mancotok kili kili.

Seseorang yang mudah dipuji sehingga kalau telah dipuji bisa terbuka segala rahasia.

71. Bagai kabau jalang kareh hiduang, parunnyuik pambulang tali, tak tantu dima kandangnyo.

Seseorang yang keras kepala tak mau menerima nasehat orang lain, sedangkan dia sendiri tak memahami tentang sesuatu.

72. Bak umpamo badak jantan, kuliek surieh jangek lah luko, namun lenggok baitu juo.

Seorang yang tidak tahu diri, sudah tua disangka muda, ingin kembali cara yang muda.

73. Bak ma eto kain saruang, bak etong kasiak dipantai.

Suatu persoalan yang tidak berujung berpangkal dan tidak ada keputusannya dalam masyarakat.

74. Barundiang siang caliak-caliak, mangecek malam agak-agak.

Berbicaralah dengan penuh hati-hati dan jangan menyinggung orang lain.

75. Bak manungkuih tulang didaun taleh, bak manyuruakan durian masak.

Suatu perbuatan jahat walaupun bagaimana dia pandai menyembunyikannya, lambat laun akan diketahui orang lain juga.

76. Bilalang indak manjadi alang, picak-picak indak jadi kuro-kuro. Walau disapuah ameh lancuan, Kilek loyang kan tampak juo.

Setiap penipuan yang dilakukan dan ditutup dengan kebaikan, dia akan kelihatan juga kemudian.

77. Bak mandapek durian runtuah, bak mandapek kijang patah.

Seseorang yang mendapat keuntungan dengan tiba-tiba, yang tidak dikira pada mulanya.

78. Bagai sipontong dapek cicin, bak mancik jatuah kabareh.

Nikmat yang diperdapat sedang orang yang bersangkutan lupa dari mana asal mulanya,dan menjadikan dia lupa diri.

79. Bak kabau dicucuak hiduang umpamo langgau di ikua gajah.

Seseorang yang selalu menurut kemauaan orang lain, tanpa mengeluarkan pendapat hatinya.

80. Bak mamaga karambia condong, bak ayam baranak itiak.

Pengetahuan seseorang yang tidak dapat dimamfaatkan dan berfaedah bagi dirinya, tetapi menguntungkan kepada orang lain.

81. Bak mangantang anak ayam, umpamo basukek baluik hiduik.

Suatu masyarakat karena kurang keahlian sulit untuk disusun dan dikoordinir.

82. Bak mahambek aia hilia, bak manahan gunuang runtuah.

Mengerjakan suatu pekerjaan berat yang harus dikerjakan bersama, dikerjakan sendirian, dan tidak mempunyai keahlian pula tentang itu.

83. Bak mancari jajak dalam aia, bak mancari pinjaik dalam lunau.

Mencari sesuatu yang mustahil didapat, walaupun sesuatu itu ada.

84. Bak manatiang minyak panuah, bak mahelo rambuik dalam tapuang.

Suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan hati-hati dan teliti, karena memikirkan akibatnya.

85. Bak aia didaun kaladi, bak talua diujuang tanduak.

Sesuatu yang sulit menjaganya dalam pergaulan, kalau hilang atau jatuh hilang semua harapan, seperti kehilang budi dari seseorang.

86. Bak manggadangkan anak ula, umpamo mamaliharo anak harimau.

Seseorang yang didik dari kecil dengan ilmu pengetahuan, tetapi kelak setelah dia besar dibalas dengan perbuatan yang jahat.

87. Bak aia jatuah ka kasiak, bak batu jatuah ka lubuak.

Sesuatu persoalan yang diajukan, tetapi dilupakan buat selamnya, yang seharusnya perlu lu ditekel dengan segera.

88. Bak bagantuang di aka lapuak, bak bapijak didahan mati.

Seseorang yang mengantungkan nasib pada orang yang sangat lemah ekonomi dan pemikirannya.

89. Bak ayam indak ba induak, umpamo siriah indak ba junjuang.

Suatu masyarakat atau anak-anak yang tidak ada yang akan memimpin atau memeliharanya.

90. Bak malapehkan anjiang tasapik, bak mangadangkan anak harimau.

Seseorang yang ditolong dengan perbuatan baik diwaktu dia dalam kesempitan tetapi setelah dia terlepas dari kesulitan, dia balas dengan kejahatan.

91. Bak api didalam sakam, aia tanang mahannyuikkan.

Seseorang yang mempunyai dendam diluar tidak kelihatan, tetapi setelah terjadi kejahatan saja baru diketahui.

92. Bak tapijak dibaro angek, bak cando lipeh tapanggang.

Seseorang yang sifatnya tergesa-gesa, berbuat tanpa memikirkan akibat.

93. Bak maungkik batu dibancah, bak manjujuang kabau sikua.

Suatu pekerjaan yang sukar dikerjakan, dan kalau dikerjakan menjadi sia-sia, bahkan menimbulkan kesulitan.

94. Baban barek singguluang batu, kayu tapikua dipangkanyo.

Suatu pekerjaan yang dikerjakan tetapi tidak ada keuntungan materil yang diharapkan (sosial)

95. Bak kudo palajang bukik, umpamo gajah paangkuik lado.

Suatu pekerjaan bersama-samalah seorang dari orang yang berjasa dalam pekerjaan itu tidak diberi penghargaan sewajarnya.

96. Bak banang dilando ayam, bak bumi diguncang gampo.

Suatu kerusuhan dan kekacauan yang timbul dalam suatu masyarakat yang sulit untuk diatasi.

97. Bak baluik di gutiak ikua, bak kambiang tamakan ulek.

Seseorang yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang kurang sopan dan tidak memperdulikan orang lain yang tersinggung karena perbuatannya.

98. Babana ka ampu kaki, ba utak ka pangka langan.

Seseorang yang mudah tersinggung dan mudah berkelahi karena hal kecil.

99. Baumpamo batuang tak bamiyang, bak bungo tak baduri.

Seseorang yang tidak mempunyai sifat malu dalam hidup, baik laki -laki dan perempuan.

100. Basilek dipangka padang, bagaluik diujuang karieh, kato salalu baumpamo, rundiang salalu bamisalan.

Pepatah, petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat Minang Kabau, selalu mempunyai arti yang tersurat dan tersirat

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget