Almudassir Media Centre
Juni 2018

Shalat Jama’ah 5 Waktu, Wajib Ataukah Sunnah?
Penulis
 -
 October 6, 2009 
195

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ’ala Rosulillah wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Saudaraku, yang semoga diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Saat ini kita lihat di mana masjid-masjid kaum muslimin tampak megah dan indah dengan berbagai hiasan dan aksesoris di dalamnya. Namun sangat-sangat disayangkan masjid-masjid tersebut sering kosong dari jama’ah. Ini sungguh sangat mengherankan, kita kadang melihat masjid yang megah dan besar hanya dipenuhi satu shaf padahal jumlah kaum muslimin di sekitar masjid itu amat banyak. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk dijelaskan kepada saudara-saudara kita ini mengenai hukum shalat jama’ah.
Diakui bahwa dalam hal ini terdapat perselisihan dikalangan para pakar fiqih apakah shalat jama’ah itu fardhu ’ain (wajib bagi setiap muslim), sunnah, atau fardhu kifayah (jika sebagian sudah menunaikannya maka gugur kewajiban yang lain). Namun kami tegaskan bahwa dalam setiap masalah perselisihan agama yang ada hendaklah kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah telah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’ [4] : 59). Itulah yang seharusnya dilakukan seorang muslim.
Dalil dari Al Qur’an
Allah Ta’ala menceritakan dalam firman-Nya mengenai shalat khouf (shalat dalam keadaan perang),
وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at) , maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, shalatlah mereka denganmu.” (QS. An Nisa’ [4] : 102)
Dari ayat ini, Ibnul Qoyyim menjelaskan mengenai wajibnya shalat jama’ah:
”Allah memerintahkan untuk shalat dalam jama’ah [dan hukum asal perintah adalah wajib[1] yaitu Allah berfirman: (فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ), ”perintahkan segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu”]. Kemudian Allah mengulangi perintah-Nya lagi [dalam ayat (وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ), ”dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat,perintahkan mereka shalat bersamamu”]
Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain karena dalam ayat ini Allah tidak menggugurkan perintah-Nya pada pasukan kedua setelah dilakukan oleh kelompok pertama. Dan seandainya shalat jama’ah itu sunnah, maka shalat ini tentu gugur karena ada udzur yaitu dalam keadaan takut. Seandainya pula shalat jama’ah itu fardhu kifayah maka sudah cukup dilakukan oleh kelompok pertama tadi. Maka dalam ayat ini, tegaslah bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain dilihat dari tiga sisi: [1] Allah memerintahkan kepada kelompok pertama, [2] Selanjutnya diperintahkan pula pada kelompok kedua, [3] Tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya meskipun dalam keadaan takut.”[2]
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)
Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera .” (QS. Al Qalam [68]: 42-43)
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi orang-orang tersebut pada hari kiamat. Mereka tatkala itu tidak bisa sujud karena ketika di dunia mereka diajak untuk bersujud (yaitu shalat jama’ah), mereka pun enggan. Jika memang seperti ini, maka ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan mendatangi masjid yaitu dengan melaksanakan shalat jama’ah, bukan hanya melaksanakan shalat di rumah atau cuma shalat sendirian. Yang dimaksud dengan memenuhi panggilan adzan (dengan menghadiri shalat jama’ah di masjid), inilah yang ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mengenai orang buta yang akan kami sebutkan nanti. [3]
Dalil dari As Sunnah
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memperingatkan keras pria yang meninggalkan shalat jama’ah yaitu ingin membakar rumah mereka. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah adalah wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال فأحرق عليهم بيوتهم
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”. [4]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».
Wahai Rasulullah, saya  tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun  ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.” [5]
Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».
“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” [6]
Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena  dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!
Kesimpulan
Shalat jama’ah adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana hal ini adalah pendapat ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya) dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashor Al Muzanniy. Imam Asy Syafi’i mengatakan:
وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر
Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” [7] Pendapat Imam Asy Syafi’i ini sangat berbeda dengan ulama-ulama Syafi’iyah.
Menurut Hanafiyyah –yang benar dari pendapat mereka- dan ini juga adalah pendapat mayoritas Malikiyah, juga pendapat Syafi’iyah bahwa shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah mu’akkad. Namun sunnah mu’akkad menurut Hanafiyyah adalah hampir mirip dengan wajib yaitu nantinya akan mendapat dosa. Dan ada sebagian mereka (Hanafiyyah) yang menegaskan bahwa hukum shalat jama’ah adalah wajib.
Lalu pendapat yang paling kuat dari Syaf’iyah, shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu kifayah. Pendapat ini juga adalah pendapat sebagian ulama Hanafiyah semacam Al Karkhiy dan Ath Thohawiy.
Namun sebagian Malikiyah, mereka memberi rincian. Shalat jama’ah menurut mereka adalah fardhu kifayah bagi suatu negeri. Jika di negeri tersebut tidak ada yang melaksanakan shalat jama’ah, maka mereka harus diperangi. Namun menurut mereka, hukum shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah di setiap masjid yang ada dan merupakan keutamaan bagi para pria.
Namun menurut Hanabilah, juga salah satu pendapat Hanafiyyah dan Syafi’iyyah bahwa shalat jama’ah adalah wajib, namun bukan syarat sah shalat.[8]
Itulah perselisihan ulama yang ada. Ada yang mengatakan shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu ‘ain, ada pula yang mengatakan fardhu kifayah, dan ada pula yang mengatakan sunnah mu’akkad. Namun, agar lebih-lebih hati-hati dan tidak sampai terjerumus dalam dosa, maka pendapat yang lebih tepat kita pilih sebagaimana dalil-dalil yang telah diutarakan di atas: shalat jama’ah 5 waktu adalah wajib, fardhu ‘ain.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid dari Al Qur’an dan As Sunnah. Kami tegaskan bahwa untuk wanita, tidak diwajibkan bagi mereka untuk shalat jama’ah di masjid berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama. [9]
Ya Allah dengan izin-Mu, berilah kami petunjuk kepada kebenaran atas semua perkara yang dipersilisihkan. Amin Ya Mujibbas Sa’ilinAlhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
****
Pangukan, Sleman, 6 Robi’ul Akhir 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[1] Hal ini berdasarkan kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqih yaitu hukum asal perintah adalah wajib.
[2] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, hal. 110,  Dar Al Imam Ahmad
[3] Ash Sholah wa Hukmu Tarikihahal. 110
[4] HR. Bukhari dan Muslim. [Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 1-Bab Wajibnya Shalat Jama’ah. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 43-Bab Keutamaan Shalat Jama’ah dan Penjelasan Mengenai Hukuman Keras bagi Orang yang Meninggalkannya]
[5] HR. Muslim [Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 44-Bab Wajib Mendatangi Masjid bagi Siapa Saja yang Mendengar Adzan]
[6] HR. Abu Daud [Abu Daud: 2-Kitab Ash Sholah, 47-Bab Peringatan Keras Karena Meninggalkan Shalat Jama’ah].

Dalil Pendapat yang Mengatakan Wajibnya Shalat di Masjid

Apa saja dalil yang digunakan orang yang berpendapat bahwa shalat di masjid tidak wajib? Sebaliknya, apa saja dalil yang digunakan orang yang berpendapat bahwa shalat di masjid adalah wajib?

Published Date: 2017-01-04

Alhamdulillah

Pertama,

Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat mengenai hukum shalat jamaah di masjid. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat jamaah di masjid adalah wajib. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa shalat jamaah di masji6d tidak wajib. Shalat jamaah yang dilakukan di rumah hukumnya tetap sah dan bukan merupakan dosa.

Berdasarkan riwayat yang paling shahih, al-Mardawi berkata, “Boleh saja shalat jamaah di rumah.” Namun dalam riwayat lain, al-Mardawi berkata, “Shalat jamaah di rumah tidak boleh.” Demikian. Dinukil dari “al-Inshaf” (2/214).

Pendapat pertama itulah yang menjadi pilihan di dalam situs kita ini. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam dan muridnya, Ibnul Qayyim, Syaikh as-Sa’dawi, Ibn Baz, dan Ibn Utsaimin rahimahumullah.

Untuk penjelasan lebih detail, lihat soal-jawab nomor 120 dan nomor 38881.

Kedua,

Ulama yang berpendapat wajibnya shalat jamaah di masjid mendasarkan pendapatnya pada dalil-dalil berikut:

Dalil pertama,

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada, -

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

“Demi Zat yang menggenggam jiwaku! Aku sempat ingin menyuruh [orang-orang] mengumpulkan kayu bakar untuk dinyalakan, kemudian menyuruh shalat dengan [menyuruh seseorang mengumandangkan] adzan, kemudian menyuruh seseorang untuk menjadi imam shalat, kemudian mendatangi orang-orang [yang tidak menghadiri shalat berjamaah] dan membakar rumah mereka. Demi Zat yang menggenggam jiwaku! Jika salah seorang di antara mereka mengetahui bahwa ia akan mendapati tulang berlemak atau kaki kambing yang lezat, tentu ia akan menghadiri shalat Isya. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (644).

Kesimpulan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin membakar rumah orang yang tidak mau pergi ke masjid untuk shalat jamaah. Beliau tidak memberi uraian apakah mereka [yang tidak shalat berjamaah di masjid ini] shalat di rumah secara berjamaah atau tidak.

Dalil kedua,

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ : إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ : ( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ، قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَأَجِبْ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi seorang laki-laki buta. Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulllah, aku tidak memiliki penuntun jalan yang menuntunku ke masjid.” Laki-laki itu meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan untuk shalat di rumah. Rasulullah pun memberinya keringanan. Namun ketika laki-laki itu hendak berlalu, beliau memanggilnya dan berkata, “Apakah kamu mendengar azan?” Ia menjawab, “Ya.” Raulullah berkata, “Jawablah!” Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (653).

Kesimpulan: seandainya shalat jamaah boleh dilakukan di mana saja, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin kepada lelaki buta itu untuk shalat di rumahnya secara berjamaah bersama keluarganya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika dihadapkan pada dua hal, pasti memilih yang paling ringan selama itu bukan dosa.

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: orang yang buta saja tidak diberi keringanan, apalagi yang tidak buta. Demikian. Dikutip dari “al-Ausath” (4/134)

Dalil ketiga,

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Siapa yang senang bertemu Allah besok dalam keadaan muslim maka jagalah shalat di tempat asal panggilannya. Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunah-sunah hidayah. Dan itu (shalat jamaah di masjid) termasuk dari sunah-sunah hidayah. Jika kalian shalat di rumah kalian, seperti pembangkang yang shalat di rumahnya ini, maka itu artinya kalian telah meninggalkan sunah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunah Nabi kalian, niscaya kalian sesat. Aku sudah melihat kita semua. Tidak ada seorang pun yang meninggalkan shalat kecuali munafik yang jelas kemunafikannya. Sampai-sampai orang yang lemah harus dipapah dua orang laki-laki untuk berbaris di dalam shaf.” Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (654). Maksud dari “tempat asal panggilannya” adalah masjid.

Dalam redaksi lain yang juga diriwayatkan oleh Muslim (654) disebutkan: Ia (Abdullah bin Mas’ud) berkata, “Rasulullah mengajarkan kami sunah-sunah hidayah. Di antara sunah hidayah tersebut adalah shalat [berjamaah] di masjid tempat panggilan shalat itu berasal.”

Kesimpulan: Abdullah bin Mas’ud menjadikan orang yang tidak berjamaah di masjid sebagai salah satu ciri orang munafik.

Dalil keempat,

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Siapa yang mendengar panggilan [azan] lalu tidak mendatanginya (datang ke masjid untuk shalat berjamaah) maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada halangan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (793), dan dinyatakan shahih oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih Ibni Majah”. Lihat soal-jawab nomor 120, 8918 dan 40113.

Sedangkan ulama yang memilih pendapat kedua, yakni pendapat yang mengatakan shalat jamaah tidak wajib di masjid, mendasarkan pendapatnya pada dalil-dalil berikut:

Dalil pertama,

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Dan bumi dijadikan sebagai tempat sujud (masjid) yang suci untukku.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (335).

Mereka berkata: ini menunjukkan bahwa di tempat manapun seorang hamba shalat, baik itu di masjid maupun di tempat lain, maka shalatnya diterima.

Dalil kedua,

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia menuturkan:

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ ، وَهُوَ شَاكٍ فَصَلَّى جَالِسًا ، وَصَلَّى وَرَاءَهُ قَوْمٌ قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ اجْلِسُوا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di rumahnya. [Saat itu] beliau dalam keaadaan sakit sehingga beliaupun shalat dengan duduk. Sedangkan orang-orang yang shalat di belakang beliau tetap shalat dalam keadaan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (688).

Kesimpulan: jika shalat jamaah wajib di masjid, tentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengizinkan mereka shalat di belakang beliau [yang saat itu shalat] di rumah beliau. Atau, tentu, beliau akan memerintahkan mereka untuk mengulang shalat mereka di masjid.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: termasuk dalam hal ini (bolehnya shalat jamaah di tempat selain masjid), orang yang sakit shalat bersama orang yang menjenguknya secara berjamaah, agar mereka mendapat keutamaan shalat berjamaah. Ini juga merupakan dalil bahwa menghadiri shalat jamaah di masjid adalah tidak wajib bagi orang yang sakit. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ahmad. Ia tidak memerintahkan mereka untuk mengulang shalat mereka di masjid, tapi membiarkan mereka dengan shalat mereka yang dilakukan secara berjamaah bersamanya di rumahnya. Demikian. Dinukil dari “Fath al-Bari li Ibn Rajab” (2/241)

Dalil ketiga,

Diriwayatkan dari ‘Ataban bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan: Aku adalah imam shalat kaumku, Bani Salim. Lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, dan berkata, “Penglihatanku sudah kabur. Aliran air [yang meluap akibat hujan] juga menghalangiku dari masjid kaumku. Aku ingin sekali engkau mendatangi kaumku lalu shalat di rumahku sebagai tempat yang nantinya akan aku jadikan masjid.” Beliau menjawab, “Akan aku lakukan, insya Allah.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (840).

Dalil keempat,

Diriwayatkan dari Yazin bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan: Aku ikut haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku shalat subuh bersamanya di Masjid Khaif. Ketika beliau menyelesaikan shalatnya dan menoleh [ke arah jamaah], beliau mendapati dua laki-laki dalam rombongan yang tidak shalat berjamaah bersama beliau. Maka beliau berkata, “Panggil kedua orang itu!” Maka keduanya dihadapkan. Beliau lantas berkata, “Apa yang membuat kalian tidak shalat bersama kita?” Keduanya berkata, “Wahai Rasulullah, kami sudah shalat [berjamaah] di kendaraan kami.” Beliau berkata, “Jangan lakukan! Jika kalian sudah shalat di kendaraan kalian, kemudian kalian datang ke masjid yang sedang melaksanakan shalat jamaah maka shalatlah kalian bersama mereka. Karena itu adalah sunah bagi kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh at-Turmudzi (219), dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah di dalam “Sunan at-Turmudzi”.

Kesimpulan: kedua laki-laki itu meninggalkan shalat jamaah di masjid karena telah melakukan shalat jamaah di kendaraan. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak keberatan

Pengumuman Pendaftaran CPNS 2018 segera dimulai ~ Info resmi pengumuman Pendaftaran CPNS 2018 Jumlah Formasi Daerah di web resmi sscn.bkn.go.id

Loker2018.Com ~ Apa yang dinantikan mengenai kapan bukaan CPNS 2018 sudah hampir pasti, dan bocoran Menpan mengenai jadwal baik itu waktu pengumuman formasi maupun waktu pendaftaran CPNS 2018, yakni Info Resmi Menpan : Formasi Pendaftaran CPNS 2018 Akhir Juni - Juli, Cek Situs SSCN BKN.

Informasi selengkapnya adalah sebagai berikut.

Update tahapan CPNS sebelumnya bisa cek di gambar berikut. Namun ternyata ada perubahan sedikit mengenai jadwal pengumuman formasi yang akan digelar akhir Juni atau bulan Juli 2018 (beberapa hari ke depan), cek info selengkapnya.


Update terbaru Info Pendaftaran CPNS 2018

PENDAFTARAN CPNS 2018 DIGELAR AKHIR JUNI - JULI 2018

Berikut pernyataannya :

“Pemerintah memang berencana membuka penerimaan CPNS tahun 2018 setelah proses Pilkada selesai, sekitar akhir Juni atau awal Juli,” ujar Ridwan, dikutip dari laman bkn.go.id.

Sudah sampai mana proses persiapan seleksi CPNS 2018 yang akan digelar?

"Secara persiapan kami sudah semua, karena semua terfokus pada sistem online. Kalau persyaratan sama semua, tinggal teman-teman download, dan bisa dilihat di situs BKD atau Menpan RB," jelas Karo Humas BKN.

Mengapa pernyataan-pernyataan akhir-akhir ini terkait dengan pendaftaran CPNS berasal dari BKN?

Kepala Biro Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN) Mohammad Ridwan mengatakan, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, BKN ditugaskan untuk mengumumkan penerimaan CPNS.

"Di PP 11 2017, kami berkewajiban untuk mengumumkan itu, paling tidak (selama) 3 minggu. Mereka (masyarakat) bisa mendaftar online di sscn.bkn.go.id. Itu kira-kira di kasih waktu 1 bulan, setelah itu akan ada seleksi kompetensi dasar oleh BKN, kemudian mungkin ada seleksi kompetensi bidang oleh kementerian, lembaga dan daerah masing-masing. Setelah itu selesai," ungkap dia.

Lebih lanjut mengenai pengumuman pendaftaran CPNS 2018 bisa cek beberapa link berikut,

Jadwal Pendaftaran CPNS Online 2018

Cara Pendaftaran CPNS Online 2018

Syarat Pendaftaran CPNS 2018

Download Formasi Pendaftaran CPNS 2018

Rincian Formasi CPNS 2018 yang akan dibuka

Mayoritas formasi yang akan dibuka pada seleksi CPNS kali ini adalah formasi daerah, ada banyak lowongan untuk di daerah, ayo ditunggu bersama-sama pengumuman formasi tersebut.

Dan sebagian daerah pun telah merilis jumlah formasi, sebagai contoh kepala BKD Kalimantan Selatan pada 17 Mei 2018.

Kepala BKD Kalsel, Perkasa Alam mengatakan informasi tersebut baru dikabarkan Menpan RB dalam minggu ini.

"Baru saja dirilis oleh Menpan RB," ujarnya, Kamis (17/05/2018) kepada Banjarmasinpost.co.id.

Sebelumnya Pemprov Kalsel mengusulkan 874 formasi untuk lingkungan Pemprov Kalsel. Dari total formasi yang diusulkan paling banyak formasi guru, tenaga kesehatan dan infrastruktur pembangunan, sisanya adalah lulusan ekonomi dan lain-lain.

Jika diumumkan setelah pilkada serentak maka minimal pengumuman akan dilakukan pada akhir Juni.

Berikut Pengumuman Tanggal Pendaftaran CPNS 2018 :

Akhir – akhir ini banyak orang yang sedang menunggu pengumuman jadwal pendaftaran CPNS dan lowongan formasi terbaru 2018. Kapan tanggal pelaksanaan pendaftaran CPNS 2018 tersebut?

Pelaksanaan Pendaftaran CPNS 2018 akan diselenggarakan selesai Pilkada 2018 atau menurut perkiraan pengumuman Pendaftaran CPNS 2018 antara tanggal 7 - 17 juli 2018.

Info lainnya seputar pendaftaran CPNS 2018 : buka Daftar isi

Hingga kini tepatnya di bulan Juni 2018, belum ada kabar resmi mengenai kapan tanggal bukaan CPNS 2018, hanya saja diketahui bahwa pelaksanaan rekrutmen CPNS 2018 tersebut akan segera berlangsung dalam waktu dekat.

‎"Sekarang sedang masuk semua permintaannya, tetapi kita kan sedang menghitung kebutuhan riil, apakah benar yang diajukan sesuai dengan beban kerja, sesuai dengan target yang mau dihasilkan apa. Jadi SDM seperti apa yang dibutuhkan. Ini sedang kita sisir masing-masing K/L, Setelah Pilkada. Tapi yang jelas formasinya sedang kita proses." ujar Menpan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Tes penerimaan CPNS 2018, kata dia, akan dilaksanakan seusai pemilihan kepala daerah. Menurut perhitungan Badan Kepegawaian Negara (BKN), tes akan dilangsungkan 10-20 hari setelah pencoblosan yang jatuh pada 27 Juni 2018.

Meskipun tanggalnya belum diketahui, maka menurut informasi yang beredar bahwa pelaksanaan pendaftaran CPNS akan berlangsung di bulan Maret hingga April tahun ini. Berdasarkan keterangan terbarunya dari Kementrian PAN-RB, Asman Abnur, bahwa penerimaan CPNS 2018 masih dalam proses validasi data usulan formasi dari setiap daerah.

“Pemprov Jatim akan membuka pendaftaran CPNS pada Mei 2018,” jelas Kepala BKD Jatim, Siswo Heroetoto kepada SURYAMALANG.COM, Pada Hari Selasa Tanggal 13 Februari 2018.

Pendaftaran diperuntukkan untuk Sejumlah Pemprov dan pemkot kemudian cukup banyak di lowongan CPNS pemkab.  Selanjutnya untuk pelaksanaan tes CPNS 2018 akan digelar serentak pada Juli 2018.

“Semua hasil tes dan peserta yang berhak mekanjutkan ke tahapan tes berikutnya akan disampaikan secara terbuka. Daftarnya akan dipajang setelah mengerjakan di ruang tes,” terang Siswo.

Kemenpan & RB Masih tunggu usulan Formasi 6 K/L dan 1 Pemda Hingga Akhir Februari 2018

Berdasarkan laman situs Sekretariat Kabinet RI, Direktorat Pengadaan dan Kepangkatan BKN tertanggal 12 Januari lalu setidaknya ada 6 kementerian atau lembaga dan satu pemerintah daerah yang hingga kini belum mengajukan usul penetapan formasi CPNS 2018.

Adapun instansi yang dimaksud adalah (1). Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), (2). Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), (3). Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), (4). Badan Keamanan Laut (Bakamla), (5). Kementerian Pertahanan (Kemenhan), dan (6). Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi. Lalu Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Usulan ini masih akan diterima terakhir pada penghujung bulan Februari 2018.

Jumlah Formasi CPNS 2018 yang akan diterima

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) pada tahun 2017 telah mengumumkan mengenai seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) daerah akan dibuka secara nasional pada tahun 2018. Setidaknya akan ada 220.000 posisi yang pensiun di tahun 2017. Sebanyak 38.000 berasal dari pemerintah pusat, dan sisanya dari pemerintah daerah.

Hal – hal yang perlu Anda ketahui mengenai Pendaftaran CPNS 2018

·      Tujuan seleksi penerimaan CPNS 2018

Pemerintah kembali membuka seleksi penerimaan CPNS 2018 – 2019 dilakukan untuk memprioritaskan pembangunan daerah, seperti:
-          Dari 220 PNS yang pensiun, periode seleksi penerimaan CPNS 2018 kali ini akan dilakukan sekitar 50 – 60 % dari jumlah tersebut dan sesuai dengan usulan gubernur atau bupati setempat.
-          Pelaksanaan seleksi penerimaan CPNS kali ini akan dilakukan di pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota.
-          Masing – masing pemerintahan memiliki kewenangan dan kebajikan, serta tidak melenceng dari peraturan yang sudah ditetapkan.
-          Untuk daerah tertentu, posisi cpns yang kosong akan diisi dengan orang yang mendaftar CPNS 2018 yang memiliki keterampilan khusus pada suatu bidang tertentu.

·      Sekitar 110 posisi CPNS akan dibuka

Perkiraan 220.000 PNS yang akan pensiun di tahun 2017, pemerintah membuka lagi seleksi pendaftaran CPNS. Seleksi penerimaan CPNS ini tidak 100 % dari jumlah PNS yang pensiun, tetapi hanya sekitar 50 – 60% dari total PNS yang pensiun yaitu sekitar 110.000 orang saja. Jadi Anda perlu berusaha keras untuk menjadi bagian dari 110.000 orang dan terpilih menjadi PNS di seluruh Indonesia.

·      Dibuka untuk posisi PNS yang belum terisi

Selain dikarenakan banyaknya PNS yang pensiun di tahun 2017, pembukaan seleksi penerimaan CPNS 2018 ini juga dikarenakan banyaknya posisi kosong yang masih belum terisi. Contohnya saja pada sector BNN. Pada bagian tersebut masih kekurangan pegawai yang bisa menjadi pelatih anjing pelacak narkoba.

·      Pembukaan penerimaan CPNS direncanakan pada awal tahun 2018

Banyaknya PNS yang pensiun di tahun 2017, pembukaan seleksi penerimaan CPNS perlu dilakukan secepat mungkin, yaitu pada awal tahun 2018. Hal ini dilakukan agar terhindar dari beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan tidak terbengkalai dan tidak tertunda karena kurangnya tenaga kerja yang seharusnya mengerjakan pekerjaan tersebut telah pensiun dari pekerjaannya.

Persiapan proses pendaftaran CPNS 2018

Persiapan proses pendaftaran CPNS merupakan persiapan yang wajib dilakukan dan dilalui setiap seleksi penerimaan CPNS. Berikut persiapan yang dipersiapan baik dari sisi panitia maupun sisi peserta.

·      Sisi panitia

Panitia telah menganilisis jabatan kebutuhan daerah dari formasi yang telah diusulkan dari masing – masing pemerintah daerah. Setelah dianalisis hasilnya akan dijadikan pengumuman formasi.

·      Sisi peserta

Membludaknya pendaftar CPNS periode sebelumnya dengan 1.2 juta pelamar memperebutkan 35.000 peluang, itu menjadi informasi untuk Anda agar mempersiapkan diri dengan semaksimal mungkin untuk mendaftar di seleksi penerimaan CPNS 2018 dan terpilih menjadi PNS.

Pengumuman formasi pendaftaran CPNS 2018

Hingga saat ini belum ada kabar mengenai kapan jadwal seleksi CPNS 2018 dimulai. Keputusan akhir yang dipegang oleh Menpan mengatakan bahwa pengumuman itu akan diumumkan sekitar 2 bulan kedepan, yang artinya jika tidak di bulan Februari, berarti di bulan Maret 2018.

Pelaksanaan pendaftaran CPNS 2018

Proses pendaftaran CPNS biasanya hanya dibuka dengan rentang waktu yang tidak begitu lama, yaitu sekitar 10 hari hingga 2 mingguan. Hal tersebut menjadi alasan Anda sebagai calon pendaftar untuk selalu update dan jangan sampai ketinggalan informasi mengenai jadwal pelaksanaan pendaftaran CPNS 2018.

Banyaknya persyaratan yang harus disiapkan seperti SKCK dari kepolisian, Kartu Kuning atau Kartu Tanda Lamaran Pekerjaan dari Kemnaker, akan membutuhkan waktu lama jika diproses pada saat pelaksanaan jadwal pendaftaran CPNS.

Cara pendaftaran CPNS 2018 secara online

Jika jadwal seleksi penerimaan CPNS 2018 dimulai, inilah saatnya untuk Anda melakukan pendaftaran CPNS 2018 secara online. Berikut cara pendaftarannya.
-          Membuka web dengan alamat www.sscn.bkn.go.id
-          Mengakses bagian Formulir Pendaftaran CPNS 2018
-          Mengisi formulir registrasi sesuai prosedur yang telah ditetapkan
-          Print out hasil pendaftaran.
-          Menggabungkan hasil print out hasil pendaftaran online dengan berkas – berkas persyaratan CPNS 2018 lainnya kemudian mengirim berkas tersebut ke BKD atau BKPP daerah tempat dilaksanakannya seleksi tes CPNS 2018 via kantor pos.

Pengumuman kelulusan seleksi CPNS 2018

Proses pengumuman kelulusan seleksi CPNS 2018 cukup panjang dan bisa diakses secara offline dan online. Untuk online pengumuman kelulusan akan diumumkan di situs resmi CPNS, sedangkan untuk offline, diumumkan di instansi resmi pegawai daerah.

Alasan perlu menjadi PNS

Berikut beberapa alasan mengapa perlu menjadi pegawai negeri sipil.

·         Tidak perlu khawatir di PHK

Jika Anda menjadi pegawai negeri sipil, Anda tidak perlu khawatir akan diberhentikan dari pekerjaan dikarenakan suatu hal, seperti dikarenakan kondisi perekonomian maupun instansi tempat Anda bekerja. Anda hanya perlu fokus pada bidang pekerjaan yang Anda geluti agar hasil pekerjaan yang Anda kerjakan menjadi lebih baik dan bagus.

·         Banyak tunjangan, selain gaji pokok

Jika Anda menjadi pegawai negeri sipil, Anda akan mendapatkan banyak tunjungan selain gaji pokok anda. Contohnya seperti tunjangan keluarga, tunjangan makan, dan tunjangan kinerja.

·         Memiliki waktu berwirausaha

Jika Anda sudah diterima menjadi pegawai negeri sipil, Anda juga bisa menjadi wirausahawan. Dikarenakan menjadi seoran PNS memiliki jam kerja, Anda dapat memanfaatkan waktu luang Anda untuk merintis suatu usaha baru untuk dijadikan pekerjaan sampingan.

·         Ikut turun tangan membantu pemerintahan

Jika Anda menjadi pegawai negeri sipil, Anda dapat langsung turun tangan membantu pemerintahan dengan menjadi salah satu bagian dari suatu lembaga atau kementerian terkait.

·         Bertemu orang penting di Indonesia

Jika Anda menjadi pegawai negeri sipil, Anda memiliki kesempatan untuk bertemu orang – orang penting di Indonesia.terutama jika Anda menjadi pns di bagian lembaga atau kementerian yang terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh wakil rakyat.

Ketentuan dan persyaratan pendaftaran CPNS 2018

Berikut merupakan ketentuan umum, persyaratan umum, dan persyaratan khusus untuk mendaftar CPNS 2018.

·      Ketentuan umum

-          Terbuka untuk semua Warga Negara Indonesia
-          Pelamar bersedia mengikuti seluruh tahapan seleksi dilokasi yang ditentukan dan menggunakan biaya sendiri.

·      Persyaratan umum CPNS Daerah 2018

-          Warga Negara Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
-          Setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.
-          Sehat jasmani dan rohani.
-          Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara.
-          Tidak pernah diberhentikan secara tidak hormat / tidak atas permintaan sendiri
-          Tidak pernah diberhentikan secara tidak hormat sebagai PNS/Anggota TNI/Polri
-          Tidak pernah diberhentikan secara tidak hormat sebagai pegawai swasta
-          Tidak berkedudukan sebagai CPNS/ONS/Calon Anggota TNI/Polri
-          Tidak berkedudukan sebagai Anggota TNI/Polri
-          Tidak sedang terikat dengan perjanjian/kontrak kerja dengan pihak manapun.
-          Tidak menjadi pengurus dan atau anggota parpol

·      Persyaratan khusus Pendaftaran CPNS 2018

-          Memiliki ijazah Diploma, Sarjana, dan Magister
-          Lulusan perguruan tinggi negeri ataupun swasta yang terakreditasi oleh BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) atau perguruan tinggi luar negeri yang mendapat pengesahan dari Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.
-          Memiliki IPK minimal 3.00 untuk S2 dan 2.65 untuk S1.
-          Berusia minimal 18 tahun (lahir sebelum 30 November 1998)
-          Berusia maksimal 30 tahun (lahir setelah 30 November 1986) untuk pelamar S1, sedangkan untuk pelamar S2 maksimal berusia 32 tahun (lahir setelah 30 November 1984).
-          Memiliki nilai TOEFL 400 untuk S1, sedangkan S2 memiliki nilai TOEFL 500 (pelaksanaan tes dalam tahun 2017)

·      Persyaratan Pendaftaran CPNS 2018 SMA

-          Untuk info terbarunya cek Pendaftaran CPNS 2018 Jalur Umum Lulusan SMA.

Tata cara dan syarat pendaftaran CPNS Daerah 2018

1.    Proses pendaftaran yang diakses secara online masing – masing kementerian/CPNS daerah yang dumumkan.

2.    Mengisi form pendaftaran dan mencetaknya kemudian ditandatangani menggunakan tinta hitam.

3.    Mendapatkan nomor pendaftaran.

4.    Mengunggah berkas pendaftaran, seperti:
-       Pas foto terbaru background merah yang berformat JPG dengan besar maksimal 400 kb.
-       Scan ijazah asli yang berformat JPG dengan besar maksimal 400 kb.
-       Scan transkrip asli nilai akademis yang berformat JPG dengan besar maksimal 400 kb.

5.    Berkas pendaftaran yang disusun rapi sesuai urutan dan dimasukkan kedalam map dan map dimasukkan ke dalam amplop coklat, serta menulis nomor pendaftaran di pojok kiri atas amplop. Langkah terakhir dikirimkan melalui pos tercatat di situs online. Berkas pendaftarannya  seperti:
-       Form pendaftaran yang sudah dicetak dan ditempelkan di sampul map
-       Unduhan Daftar Riwayat Hidup (RDH) dari akun pelamar
-       1 lembar fotocopy ijazah berlegalisir
-       1 transkrip nilai berlegalisir
-       Fotocopy surat keterangan sehat dari dokter
-       Unduhan Surat pernyataan dari akun pelamar beserta tandatangan di atas materai Rp. 6.000.
-       Pas foto terbaru background merah 3 lembar: 1 lembar ditempel di form pendaftaran dan 2 lembar diberi nama di belakang foto.
-       Fotocopy sertifikat TOEFL.
-       Fotocopy KTP yang masih berlaku.

Pelaksanaan ujian CPNS 2018

-          Pelamar yang memenuhi syarat administrasi akan diumumkan secara online dan dapat mencetak kartu tanda peserta ujian di situs online masing – masing kementerian/CPNS daerah.
-          Untuk pelamar yang lulus seleksi administrasi, kemudian akan mengikuti Tes Kemampuan Dasar (TKD).
-          Pelamar yang memenuhi syarat administrasi

Syarat yang harus dibawa saat mengikuti ujian ialah KTP asli, ijazah asli, transkrip nilai akademis asli, dan kartu tanda peserta ujian. Jika tidak membawa persyaratan tersebut ataupun tidak hadir saat jadwal ujian, pelamar tidak dapat mengikuti ujian dan dinyatakan gugur. Pengumuman dan jadwal ujian dapat di lihat di situs online masing – masing kementerian/CPNS daerah.

Itulah beberapa informasi mengenai Pendaftaran CPNS 2018. Semoga informasi ini bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi Anda yang ingin menjadi bagian dari PNS 2018.

Agama penenang hati
Apa yang ada di dalam hati itulah sebenarnya yang harus dipelihara sebaik-baiknya. Manakala ia baik, maka semua perbuatan manusia akan baik. Begitu pula sebaliknya, manakala apa yang ada di dalam hati itu tidak terawat hingga menjadi jelek, maka perbuatan manusia menjadi jelek pula.
Cara untuk memelihara hati tidak ada konsep dari manusia. Urusan hati berada pada wewenang Tuhan. Manusia juga tidak mengerti, siapa sebenarnya apa yang ada pada hati itu, kecuali amat terbatas. Hal itu juga dinyatakan di dalam al Qur’an bahwa ruh itu adalah urusan Tuhan. Manusia tidak diberikan ilmu, kecuali hanya sedikit saja.
Sedangkan untuk memeliharfa hati, Tuhan menurunkan utusan atau disebut rasul dengan membawa ajarannya. Islam sebagai agama terakhir dibawa oleh Nabi Muhammad. Agama inilah sebenarnya membawa ajaran untuk memperbaiki hati manusia. Disebutkan di dalam haditsnya, : innama buitstu liutammima makarimal akhlaq. Bahwa sesungguhnya aku (Muhammad saw) diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.
Nabi Muhammad sebagai pembawa ajaran yang mulia itu telah menyandang keagungan akhlaq. Nabi memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonal. Berbekalkan sifat-sifat mulia itulah, beliau menjalankan tugasnya dan berhasil. Ajaran itulah yang terangkum di dalam kitab suci al Qur’an. Oleh karena itu, siapa saja yang ingin memperbaiki akhlaq, maka tidak akan mungkin akan berfhasil jika tidak berpegang pada kitab suci dan apa yang dilakukan oleh Nabi yang kemudian disebut sebagai hadits nabi itu.
Ajaran Islam berupa al Qur’an dan hadits nabi ternyata lebih mengedepankan pada aspek hati, yakni sebuah sumber perilaku manusia. Perbuatan fisik, berupa ucapan lisan dan tindakan manusia sebenarnya adalah berasal dari apa yang ada di dalam hati itu. Semua anggota tubuh, yaitu mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, badan dan tidak terkecuali akal, adalah merupakan alat yang digunakan oleh hati. Oleh karena itulah sebenarnya, ——-sebagaimana petunjuk agama, hati itu yang harus dijadikan sasaran untuk diperbaiki.
Memperbaiki manusia hanya dari aspek luar, tanpa memperhatikan hati, maka tidak akan banyak gunanya. Umpama usaha dimaksud kelihatan berhasil, sebenarnya hanya bersifat seolah-olah, seakan-akan, atau kamuflase. Suatu usaha kelihatan sudah baik dan berhasil, tetapi sebenarnya masih jauh dari harapan yang dikehendaki. Seolah-olah keadaan sudah sejahtera, jujur, dan adil, padahal yang terjadi sebenarnya adalah masih jauh dari apa yang digambarkan itu.
Oleh karena dalam berbagai kegiatan yang utama dinilai hanyalah aspek lahir, maka betapa banyak orang mereka-reka sesuatu agar kelihatan baik dan bahkan sempurna. Namun tidak lama kemudian, apa yang dikatakan baik itu ternyata ketahuan bahwa semuanya adalah palsu. Lebih memprihatinkan lagi, betapa banyak pejabat pemerintah yang semula dianggap baik, berpreatsi, dan kemudian diberi penghargaan yang tinggi, namun kemudian ternyata juga ketahuan telah melakukan penyimpangan yang luar biasa besarnya.
Dari berbagai kasus atau kejadian itu telah menunjukkan bahwa untuk melihat perilaku manusia yang sebenarnya harus utuh dan bahkan hingga sampai pada sumber kekuatan penggeraknya, yaitu apa yang ada di dalam hati. Tanpa memperhatikan aspek itu, maka selamanya siapapun hanya akan berada pada wilayah seolah-olah, seakan-akan, dan atau bersifat kamuflase itu.
Itulah agama memberikan petunjuk, bahwa niat adalah menjadi sangat urgen dan mendasar. Agama mengajarkan bahwa semua perbuatan tergantung pada niatnya. Sedangkan niat itu sendiri adalah merupakan perbuatan hati. Manakala hatinya baik maka semua akan menjadi baik. Sebaliknya, jika hati jelek, sakit, dan apalagi mati, maka semua perbuatan yang sekalipun tampaknya baik, ternyata cacat dan atau jelek. Oleh karena itu, manakala bangsa ini dirasakan banyak problem dan sulit diperbaiki, maka sebenarnya hal itu bersumber dari hati bangsa ini sendiri.
Memperbaikinya tidak ada jalan, kecuali kembali pada agama. Agamalah yang mengurus hati itu. Mengabaikan agama, maka hingga kapan pun, kehidupan yang digambarkan ideal, tidak akan pernah tercapai. Sekedar memenuhi kebutuhan perumahan, fasilitas jalan raya, menambah alat transportasi, kebutuhan bahan pokok, dan sejenisnya mungkin saja bisa tercapai, tetapi untuk meraih keadilan, kejujuran, kesejahteraan, dan kedamaian yang sejati, tanpa ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya tidak akan tercapai. Ajaran agama memberikan tuntunan terhadap sumber penggerak manusia, yaitu hati. Melalui agama, hati menjadi sehat dan baik, sehingga akhirnya semuanya akan menjadi baik pula. Wallahu a’lam

Sumber Ilmu Tauhid dan Kedudukannya di Antara Ilmu-ilmu Lain

Imam Al-Ghazali dalam Ar-Risalah Al-Laduniyyah menyatakan bahwa ilmu itu terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu  ilmu syar’iy (ilmu keagamaan) dan ilmu ‘aqliy (ilmu rasionalitas). 

Ilmu syar’iy (keagamaan) kemudian terbagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu al-ushul (ilmu pokok-pokok keagamaan), dan ilmu al-furu’ (ilmu cabang-cabang keagamaan).

Yang masuk kategori dalam ilmu al-ushul sebagai bagian dari ilmu syar’iy adalah ilmu tauhid, ilmu tafsir (ilmu yang mengkaji tentang Al-Quran dan penafsirannya), dan ilmu al-akhbar (ilmu yang mengkaji tentang hadits Rasulullah dan pemahamannya). Ilmu al-ushul terkategori sebagai ilmu teoritis (ilmiyyan).

Ilmu al-furu’ (ilmu cabang-cabang keagamaan) sebagai bagian dari ilmu syar’iy itu terkategori ilmu aplikatif (‘amaliyy). Ilmu ini mencakup tiga hak. Pertama, hak Allah yang meliputi  rukun-rukun ibadah semisal thaharah, shalat, zakat, haji, jihad, dzikir, dan lain-lain perkara yang wajib dan sunnah. Kedua, hak sebagai hamba Allah, yang mencakup interaksi bisnis, relasi sosial, dan transaksi antarmanusia. Jenis pertama dan kedua ini disebut sebagai ilmu fiqih. Ilmu ini mulia karena manusia tidak akan bisa terlepas darinya. Ketiga, hak diri, yang disebut juga sebagai ilmu akhlak. Akhlak itu ada yang tercela, dan manusia harus menghilangkannya; dan ada yang terpuji, yang mesti menjadi hiasan jiwa manusia.

Ilmu ‘aqliyy (ilmu rasionalitas) termasuk ilmu yang rumit. Ilmu ini terbagi menjadi tiga tahapan.  Pertama adalah ilmu ar-riyadhy (matematika, atau ilmu hitungan) dan ilmu mantiqiy (logika). Kedua adalah ilmu at-tabiiyy (ilmu alam atau biologi). Ketiga adalah ilmu nadhar fil mawjud (ilmu penelitian tentang segala hal yang ada).

Objek Ilmu Tauhid dan Sumbernya 

Sebagai ilmu syar’iy, ilmu tauhid mengaji tentang zat dan sifat Allah, perihal kenabian, kematian, dan kehidupan, kiamat dan segala hal yang terjadi di hari kiamat. Kajian utama ilmu tauhid adalah tentang Allah Yang Qadim (terdahulu, tanpa ada pemulaan). Syekh Al-Khatib al-Baghdady meriwayatkan bahwa Imam Junaid al-Baghdady berkata:

التَّوْحِيد إفْرَادُ القَدِيْمِ مِن المحدث 

“Tauhid adalah pengesaan Allah Yang Qadim dari menyerupai makhluk-Nya.”

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, karena yang dikaji adalah Allah, Sang Pencipta, Yang Maha Esa. Ilmu ini wajib dipelajari oleh setiap yang berakal. Ulama ilmu ini adalah ulama yang paling utama.

(Baca: Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid)


Pembahasan ilmu tauhid menurut Ahlussunnah wal Jama'ah harus dilandasi dalil dan argumentasi yang definitif (qath'i) dari al-Qur'an, hadits, ijma' ulama, dan argumentasi akal yang sehat. Imam al-Ghazali dalam Ar-Risalah al-Laduniyyah mengatakan:

وَأَهْلُ النَّظَرِ فِيْ هَذَا الْعِلْمِ يَتَمَسَّكُوْنَ أَوَّلاً بِآيَاتِ اللهِ تَعَالَى مِنَ اْلقُرْآنِ، ثُمَّ بِأَخْبَارِ الرَّسُوْلِ، ثُمَّ بِالدَّلاَئِلِ الْعَقْلِيَّةِ وَالْبَرَاهِيْنِ الْقِيَاسِيَّةِ.

Ahli nadhar (nalar) dalam ilmu akidah ini pertama kali berpegangan pada ayat-ayat Al-Qur'an, kemudian dengan hadits-hadits Rasul, dan terakhir pada dalil-dalil rasional dan argumentasi-argumentasi analogis.

Berikut adalah rincian dalil-dalil tersebut secara hirarkis:

1. Al-Qur'an

Al-Qur'an al-Karim adalah pokok dari semua argumentasi dan dalil. Al-Qur'an adalah dalil yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad dan dalil yang membuktikan benar dan tidaknya suatu ajaran. Al-Qur'an juga merupakan kitab Allah terakhir yang menegaskan pesan-pesan kitab-kitab samawi sebelumnya. Allah memerintahkan dalam al-Qur'an agar kaum Muslimin senantiasa mengembalikan persoalan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ

Artinya: “Kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).” (QS. al-Nisa' : 59).

Mengembalikan persoalan kepada Allah, berarti mengembalikannya kepada Al-Qur'an. Sedangkan mengembalikan persoalan kepada Rasul, berarti mengembalikannya kepada sunnah Rasul  yang shahih.

2. Hadits

Hadits adalah dasar kedua dalam penetapan akidah-akidah dalam Islam. Tetapi tidak semua hadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah. Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits yang perawinya disepakati, dan dapat dipercaya oleh para ulama. Sedangkan hadits yang perawinya masih diperselisihkan oleh para ulama, tidak dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah sebagaimana kesepakatan para ulama ahli hadits dan fuqaha yang mensucikan Allah dari menyerupai makhluk. Menurut mereka, dalam menetapkan akidah tidak cukup didasarkan pada hadits yang diriwayatkan melalui jalur yang dha'if, meskipun diperkuat dengan perawi yang lain.

Al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi  sebagaimana dikutip Syekh Abdullah Al-Harary dalam kitabnya Sharihul Bayan menyatakan:

لاَ تَثْبُتُ الصِّفَةُ ِللهِ بِقَوْلِ صَحَابِيٍّ اَوْ تَابِعِيٍّ إِلاَّ بِمَا صَحَّ مِنَ اْلاَحَادِيْثِ النَّبَوِيَّةِ الْمَرْفُوْعَةِ الْمُتَّفَقِ عَلَى تَوْثِيْقِ رُوَاتِهَا، فَلاَ يُحْتَجُّ بِالضَّعِيْفِ وَلاَ بِالْمُخْتَلَفِ فِيْ تَوْثِيْقِ رُوَاتِهِ حَتَّى لَوْ وَرَدَ إِسْنَادٌ فِيْهِ مُخْتَلَفٌ فِيْهِ وَجَاءَ حَدِيْثٌ آخَرُ يَعْضِدُهُ فَلاَ يُحْتَجُّ بِهِ

Artinya: Sifat Allah tidak dapat ditetapkan berdasarkan pendapat seorang sahabat atau tabi'in. Sifat Allah hanya dapat ditetapkan berdasarkan hadits-hadits Nabi  yang marfu', yang perawinya disepakati dapat dipercaya. Jadi hadits dha'if dan hadits yang perawinya diperselisihkan tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah ini, sehingga apabila ada sanad yang diperselisihkan, lalu ada hadits lain yang menguatkannya, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Al-Hafizh al-Baihaqi juga mengutip dalam kitabnya al-Asma' wa al-Shifat dari al-Hafizh Abu Sulaiman al-Khaththabi, bahwa sifat Allah itu tidak dapat ditetapkan kecuali berdasarkan nash al-Qur'an atau hadits yang dipastikan keshahihannya.

Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits mutawatir, yaitu hadits yang mencapai peringkat tertinggi dalam keshahihan. Hadits mutawatir ialah hadits yang disampaikan oleh sekelompok orang yang banyak dan berdasarkan penyaksian mereka serta sampai kepada penerima hadits tersebut, baik penerima kedua maupun ketiga, melalui jalur kelompok yang banyak pula. Hadits yang semacam ini tidak memberikan peluang terjadinya kebohongan.

Di bawah hadits mutawatir, adalah hadits masyhur. Hadits masyhur dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah karena dapat menghasilkan keyakinan sebagaimana halnya hadits mutawatir. Hadits masyhur ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari generasi pertama hingga generasi selanjutnya. Al-Imam Abu Hanifah dan pengikutnya menetapkan syarat bagi hadits yang dapat dijadikan argumentasi dalam hal-hal akidah harus berupa hadits masyhur. Dalam risalah-risalah yang ditulisnya dalam hal-hal akidah, Abu Hanifah membuat hujjah dengan sekitar empat puluh hadits yang tergolong hadits masyhur. Risalah-risalah tersebut dihimpun oleh al-Imam Kamaluddin al-Bayadhi al-Hanafi dalam kitabnya, Isyarat al-Maram min 'Ibarat al-Imam. Sedangkan hadits-hadits yang peringkatnya di bawah hadits masyhur, maka tidak dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan sifat Allah.

3. Ijma' Ulama

Ijma' ulama yang mengikuti ajaran Ahlul Haqq dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah. Dalam hal ini seperti dasar yang melandasi penetapan bahwa sifat-sifat Allah itu qadim (tidak ada permulaannya) adalah ijma' ulama yang qath'i. Dalam konteks ini, al-Imam al-Subki berkata dalam kitabnya Syarh 'Aqidah Ibn al-Hajib:

اِعْلَمْ أَنَّ حُكْمَ الْجَوَاهِرِ وَاْلأَعْرَاضِ كُلِّهَا الْحُدُوْثُ فَإِذًا الْعَالَمُ كُلُّهُ حَادِثٌ، وَعَلَى هَذَا إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِيْنَ بَلْ كُلِّ الْمِلَلِ وَمَنْ خَالَفَ فِيْ هَذَا فَهُوَ كَافِرٌ لِمُخَالَفَتِهِ اْلإِجْمَاعَ الْقَطْعِيَّ اهـ

Artinya: "Ketahuilah sesungguhnya hukum jauhar dan 'aradh (Jauhar adalah benda terkecil yang tidak dapat terbagi lagi. Sedangkan 'aradh adalah sifat benda yang keberadaannya harus menempati benda lain) adalah baru. Oleh karena itu, semua unsur-unsur alam adalah baru. Hal ini telah menjadi ijma' kaum Muslimin, bahkan ijma' seluruh penganut agama-agama (di luar Islam). Barangsiapa yang menyalahi kesepakatan ini, maka dia dinyatakan kafir, karena telah menyalahi ijma' yang qath'i." 

4. Akal

Dalam ayat-ayat al-Qur'an Allah Ta’ala telah mendorong hamba-hamba-Nya agar merenungkan semua yang ada di alam jagad raya ini, agar dapat mengantar pada keyakinan tentang kemahakuasaan Allah. Dalam konteks ini Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi. (QS. al-A'raf : 185).

Allah juga berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ 

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur'an itu adalah benar. (QS. Fushshilat: 53).

Dalam membicarakan sifat-sifat Allah, sifat-sifat Nabi, paraMalaikat dan lain-lain, para ulama tauhid tidak hanya bersandar pada penalaran akal semata. Mereka membicarakan hal tersebut dalamkonteks membuktikan kebenaran semua yang disampaikan olehNabi dengan akal. Jadi, menurut ulama tauhid, akal difungsikan sebagai sarana yang dapat membuktikan kebenaran syara', bukan sebagai dasar dalam menetapkan akidah-akidah dalam agama. Meski demikian, hasil penalaran akal yang sehat tidak akan keluar dan tidak mungkin bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh syara'.

Demikianlah faktanya bahwa masalah tauhid yang bersumber dari Quran dan Hadits itu juga diperkuat dengan dalil-dalil aqli (rasional). Hal demikian setidak-tidaknya karena dengan dua tujuan. Pertama, agar sesiapa yang menentang masalah tauhid itu agar dapat menerima dan segera meyakininya, atau setidaknya menghentikan penentangannya tersebut. Mereka yang menentang ini adalah kelompok anti Tuhan atau kelompok di luar Ahlussunnah wal Jama’ah yang cenderung mempertanyakan dengan nada memojokkan. Kedua, agar mereka yang masih ragu-ragu dapat segera hilang keraguannya, kemudian tumbuh dalam dirinya suatu keyakinan yang mantap.     

Terkait dengan metode Ahlussunnah wal Jama'ah yang menggabungkan antara naql dengan akal tersebut, para ulama memberikan perumpamaan berikut ini. Akal diumpamakan dengan mata yang dapat melihat. Sedangkan dalil-dalil syara' atau naql diumpamakan dengan Matahari yang dapat menerangi. Orang yang hanya menggunakan akal tanpa menggunakan dalil-dalil syara' seperti halnya orang yang keluar pada waktu malam hari yang gelap gulita. Ia membuka matanya untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya, antara benda yang berwarna putih, hitam, hijau dan lain-lain. Ia berusaha untuk melihat semuanya. Tetapi selamanya ia tidak akan dapat melihatnya, tanpa ada Matahari yang dapat meneranginya, meskipun ia memiliki mata yang mampu melihat. Sedangkan orang yang menggunakan dalil-dalil syara' tanpa menggunakan akal, seperti halnya orang yang keluar di siang hari dengan suasana terang benderang, tetapi dia tuna netra, atau memejamkan matanya. Tentu saja ia tidak akan dapat melihat mana benda yang berwarna putih, hijau, merah dan lain-lainnya. Ahlussunnah Wal-Jama'ah laksana orang yang dapat melihat dan keluar di siang hari yang terang benderang, sehingga semuanya tampak kelihatan dengan nyata, dan akan selamat dalam berjalan mencapai tujuan.

MENGENAL SIFAT 20 ALLAH SWT DAN MEMAHAMI PENJELASAN TENTANGNYA

Mengucapkan kalimah syahadah yang pertama menunjukkan pengakuan tauhid kita. Ertinya, seseorang muslim hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Tuhan. Manakala kalimah syahadah yang kedua pula menunjukkan pengakuan kita ke atas Muhammad sebagai Rasulullah.


Allah adalah Tuhan dalam erti sesuatu yang menjadi motivasi ulung lantas menjadi tujuan hidup bagi seseorang.

Tak ada Tuhan [yang berhak disembah] melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.2 Al-Baqara :18)

===========

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat],dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.59. Al-Hasr :18)


|

Sebagai umat Islam, meyakini adanya Allah SWT dan mengetahui sifat-sifatnya adalah amat mustahak agar dapat menjadi mukmin sejati. Dengan modal iman inilah kita akan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

A.   Pengertian Iman kepada Allah SWT

Iman menurut bahasa ertinya percaya atau yakin terhadap sesuatu. 

Iman menurut istilah adalah pengakuan di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan dengan anggota badan.

Hal ini sesuai Hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

 “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.” 

(HR Thabrani)


Dari penjelasan Hadis di atas dapat disimpulkan bahawa iman kepada Allah SWT memerlukan tiga unsur anggota badan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lainnya, iaitu hati, lisan dan anggota badan.

Iman kepada Allah merupakan suatu keyakinan yang sangat mendasar. Tanpa adanya iman kepada Allah SWT, seorang tidak akan beriman kepada yang lain, seperti beriman kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul Allah dan hari kiamat.

Firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya, Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

(QS.An Nisa : 136)


B.   Sifat-Sifat Allah SWT

Allah SWT adalah zat Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas seluruh alam beserta isinya. Allah SWT memiliki sifat wajib, mustahil dan jaiz sebagai sifat kesempurnaan bagi-Nya.

Sebagai muslim yang beriman, wajib mengetahui sifat-sifat tersebut.

Sifat wajib, ertinya sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah SWT – Sifat wajib Allah berjumlah 13 manakala 7 lagi sifat wajib yang digambarkan dengan keadaan Allah SWT menjadikan jumlah kesemuanya 20.Sifat mustahil, ertinya sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada pada Allah SWT – Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib. Jumlahnya pun sama dengan jumlah sifat wajib bagi Allah SWT.Sifat jaiz, ertinya sifat yang mungkin bagi Allah SWT untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. – Ertinya Allah berbuat sesuatu tidak ada yang menyuruh dan tidak ada yang melarang.

Sifat jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu.”

.

C.  Dalil Naqli tentang Sifat-Sifat Allah SWT

Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani ada 20:

|

1. Wujud (Ada)

Adanya Allah itu bukan kerana ada yang mengadakan atau menciptakan, tetapi Allah itu ada dengan zat-Nya sendiri.

Sifat mustahil-Nya adalah :  Adam  yang bererti tidak ada.

Untuk itulah kita tidak boleh meragukan atau mempertanyakan keberadaanNya.

Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berfikir dengan akal sihat bahawa alam semesta beserta isinya ada kerana Allah yang menciptakannya.

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada semua perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam“ … (QS. Al-A’raf :54)


Kepercayaan ada dan tidak adanya Allah SWT bergantung pada manusia itu sendiri yang boleh menggunakan akal sihatnya, sebagai bukti dengan adanya alam beserta isinya.

Jika kita perhatikan, maka dari mana alam semesta itu berasal ?Siapakah Dia Yang Maha Kuasa dan Maha Agung itu ?Dialah Allah SWT yang Maha Suci dan Maha Tinggi.Dialah yang mengadakan segala sesuatu di alam ini, termasuk diri kita.

Selain melihat alam semesta, kita juga dapat melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya, seperti manusia dengan segala perlengkapan hidupnya di dunia ini. Tentu kita boleh berfikir bahawa semua yang ada pasti ada yang menciptakan, iaitu Tuhan Yang Maha Kuasa ( Allah SWT).

Terkait dengan hal ini Allah SWT berfirman :

“Dan dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Dan Dialah yang menciptakan serta mengembangbiakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nyalah kamu akan dihimpun. Dan Dialah yang menghidupkn dan mematikan dan Dialah yang mengatur pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak berfikir?”   … (QS.Al Muminun :78-80)


|

2. Qidam ( Dahulu atau Awal )

Sifat Allah ini menandakan bahawa Allah SWT sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang Dia ciptakan.

Sifat mustahil-Nya adalah :  Hudus yang ertinya baru.

Allah SWT tidak berpermulaan sebab sesuatu yang berpermulaan itu adalah baru dan sesuatu yang baru itu namanya mahluk (yang diciptakan). Allah SWT bukan makhluk malah Dia adalah Khalik (Maha Pencipta). Oleh kerana itu Allah SWT wajib bersifat Qidam.

Firman Allah SWT :

“Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu“ … (QS. Al-Hadid :3)


Adanya Allah itu pasti lebih awal daripada mahluk ciptaan-Nya. Seandainya keberadaan Allah didahului oleh makhluk-Nya, maka semua ciptaan Allah ini akan hancur berantakan. Hal ini tentu mustahil bagi Allah kerana Allah Maha pencipta, tidak mungkin ciptaannya lebih dahulu  ada daripada yang menciptakan..

|

3. Baqa’ (Kekal)

Kekalnya Allah SWT… Dia tiada berkesudahan atau penghabisan. Dia sentiasa ada.

Sifat mustahilnya adalah  :  Fana’ ertinya rosak atau binasa.

Semua makhluk yang ada di alam semesta seperti manusia, binatang, tumbuhan, planet, bintang dan black hole pasti akan rosak atau binasa sehingga disebut bersifat baru sebab ada awal dan ada akhirnya.

Manusia betapapun gagah perkasa dirinya, wajah elok nan rupawan, suatu saat akan menjadi tua dan mati. Demikian halnya dengan tumbuhan yang semula tumbuh subur maka lama kelamaan akan layu dan mati. Sungguh betapa hina dan lemahnya kita nak berbangga diri di hadapan Allah SWT.

Betapa tidak patutnya kita berbangga diri dengan kehebatan yang kita miliki kerana segala kehebatan itu hanyalah bersifat sementara. Hanya Allah SWT Sang Pencipta yang bersifat kekal.

Firman Allah SWT :

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan“ … (QS. Ar-Rahman :26-27)


|

4. Mukhalafatu lil hawadits (berbeza dengan ciptaanNya)

Berbeza dengan semua yang baru (makhluk). Sifat mustahil-Nya adalah :  Mumasalatu lil hawadisi yang ertinya serupa dengan semua yang baru (mahluk).

Sifat ini menunjukkan bahawa Allah SWT berbeda dengan hasil ciptaan-Nya. Cuba kita perhatikan tukang jahit hasil baju yang dijahit sendiri tidak mungkin sama dengan tukang jahitnya.

Begitu juga dengan tukang pembuat sepatu tidak mungkin sama dengan sepatu yang dibuatnya, bahkan robot yang paling canggih dan mirip manusia sekalipun tidak akan sama dengan manusia yang membuatnya.

Firman Allah SWT :

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat“ … (QS. Asy-Syura :11)


Senada dengan ayat tersebut Allah SWT juga berfirman dalam ayat yang lain yang berbunyi :

“……….Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia(Allah).”  (QS Al Ikhlas :4)


Dari dua ayat di atas dapat diambil pelajaran bahawa yang dimaksudkan dengan tidak setara itu adalah tentang keagungan, kebesaran, kekuasaan dan ketinggian sifat-Nya. Tidak satu pun dari mahluk-Nya yang menyerupai-Nya..

|

5. Qiyamuhu binafsihi ( Allah berdiri sendiri )

Qiyamuhu Binafsihi bererti Allah SWT itu berdiri dengan zat sendiri tanpa memerlukan bantuan yang lain. Maksudnya, keberadaan Allah SWT itu ada dengan sendirinya tidak ada yang mengadakan atau menciptakan.

Contohnya, Allah SWT menciptakan alam semesta ini kerana kehendak sendiri tanpa minta pertolongan siapapun.

Sifat mustahil-Nya adalah Ihtiyaju lighairihi, yang ertinya memerlukan bantuan yang lain. Berbeza sekali dengan manusia, manusia hidup di dunia ini tidak mampu hidup sendiri-sendiri. Mereka pasti saling memerlukan di antara satu dan yang lainnya kerana mereka makhluk (yang diciptakan), sedangkan Allah SWT adalah Maha Pencipta.

Firman Allah SWT :

“Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.” 

(QS Ali Imran:2)


Sedarlah ternyata kita ini mahluk yang sangat lemah karena tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain dan makhluk lain. Akan tetapi, sebagai manusia kita juga harus memiliki sifat mandiri supaya tidak keterlaluan  sangat bergantung pada orang lain.

|

6. Wahdaniyah (Esa atau Tunggal)

Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa., baik itu Esa zat-Nya, sifat-Nya, mahupun perbuatannya.

Esa zat-Nya maksudnya zat Allah SWT itu bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan atau penyatuan satu unsur dengan unsur yang lain menjadi satu. 

Berbeza dengan mahluk, makhluk diciptakan dari berbagai unsur, seperti wujudnya manusia, ada tulang, daging, kulit dan seterusnya.

Esa sifat-Nya bererti semua sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah SWT tidak sama dengan sifat-sifat pada mahluk-Nya, seperti marah, malas dan sombong.

Esa perbuatan-Nya bererti Allah SWT berbuat sesuatu tidak dicampuri oleh perbuatan mahluk apapun dan tanpa memerlukan proses atau waktu. 

Allah SWT berbuat kerana kehendak-Nya sendiri tanpa ada yang menyuruh dan melarang.

Sifat mustahil-Nya adalah :  Ta’adud  yang ertinya berbilang atau lebih dari satu. Allah SWT mustahil (tidak mungkin) lebih dari satu. Seandainya lebih dari satu pasti terjadi saling bersaing dalam menentukan segala sesuatunya, kalau terjadi demikian pasti alam semesta tidak akan terwujud.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini :

”Katakanlah (Muhammad). Dialah Tuhan Yang Maha Esa . Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada_Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” … (QS Al Ikhlas :1-4)


Meyakini ke-Esa-an Allah SWT merupakan hal yang paling prinsip. Seseorang dianggap muslim atau tidak, bergantung pada pengakuan tentang ke-Esa-an Allah SWT. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara bersaksi terhadap Allah SWT, iaitu dengan membaca syahadat tauhid yang berbunyi : “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah.”

|

7. Qudrat ( Berkuasa )

Kekuasaan Allah SWT, atas segala sesuatu itu mutlak, tidak ada batasnya dan tidak ada yang membatasi, baik terhadap zat-Nya sendiri maupun terhadap makhluk-Nya. Berbeza dengan kekuasaan manusia ada batasnya dan ada yang membatasi.

Sifat mustahil-Nya adalah :  ‘Ajzu, yang ertinya lemah. Allah SWT tidak mungkin bersifat lemah. Bagi Allah SWT, jika sudah berkehendak melakukan atau melakukan sesuatu, maka tidak ada satu pun yang mampu atau dapat menghalang-Nya. Dengan demikian, Allah SWT tetap bersifat kudrat (kuasa) dan mustahil bersifat ‘ajzu (lemah).

Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu“ … (QS. Al-Baqarah :20)


Sungguh tidak patut manusia bersifat sombong dengan kekuasaan yang kita miliki kerana sebesar apapun kita rasa kuasa kita, Allah SWT pasti lebih kuasa. Oleh kerana itu, kita sebagai hamba Allah yang hidup di muka bumi harus berkerja, berfikir, dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu.

|

8. Iradat (Berkehendak)

Allah SWT menciptakan alam beserta isinya atas kehendak-Nya sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain atau campur tangan dari siapa pun. 

Apapun yang Allah SWT kehendaki pasti terjadi, begitu juga setiap yang Allah SWT tidak kehendaki pasti tidak terjadi.

Berbeza pula dengan kehendak atau kemahuan manusia, tetapi ia boleh sahaja terkandas di tengah jalan. 

Apabila manusia berkeinginan tanpa disertai dengan kehendak Allah SWT. Pasti keinginan itu tidak dapat terwujud. Hal ini menunjukan bahawa manusia itu memiliki keterbatasan, sedangkan bagi Allah SWT pula Dia memiliki kehendak yang tidak terbatas.

Sifat mustahil-Nya adalah Karahah yang ertinya terpaksa. Jika Allah SWT bersifat karahah (terpaksa) pasti alam jagat raya yang kita duduki ini tidak terwujud sebab karahah itu adalah sifat kekurangan, sedangkan Allah SWT, wajib bersifat kesempurnaan. Dengan demikian, Allah SWT wajib bersifat iradah (berkehendak) mustahil bersifat karahah (terpaksa).

Untuk menguatkan keyakinan kita, Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ”Jadilah” maka terjadilah” …. (QS. Yasin : 82)


Sebagai manusia kita tentulah mempunyai berbagai-bagai kemahuan, keinginan, dan cita-cita yang bertujuan membangun hari esok yang lebih baik kerana kita hidup di muka bumi ini hanya bersifat sementara. Oleh kerana itu, apapun yang kita cita-citakan hendaklah dengan tujuan mengharap redha Allah SWT.

|

9. Ilmu (Mengetahui)

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat dan tidak terjangkau fikiran bagi kita.

Sifat mustahil-Nya  pula adalah  Jahlun yang ertinya bodoh.

Allah SWT memiliki pengetahuan atau kepandaian yang sangat sempurna, ertinya ilmu Allah SWT itu tidak terbatas dan tidak pula dibatasi. 

Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang tampak mahu pun yang gaib.

Bahkan, apa yang dirahsiakan di dalam hati manusia sekali pun. Bukti kesempurnaan ilmu Allah SWT, ibarat air laut  jika menjadi tinta (dakwat) untuk menulis kalimat-kalimat Allah SWT, tidak akan habis kalimat-kalimat tersebut meskipun didatangkan lagi tambahan air yang banyak seperti semula tadi. Seberapa banyak pun dakwat yang kita gunakan, pasti tak akan mampu kita menulis kalimat-kalimat Allah SWT.

Kita sering kagum atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki orang-orang pintar di dunia ini. Kita juga takjub akan indahnya karya dan canggihnya teknologi yang diciptakan manusia. Namun sedarkah kita bahawa ilmu tersebut hanyalah sebagian kecil saja yang diberikan (dipinjamkan) Allah SWT kepada kita?

Firman Allah SWT :

”…..Allah SWT mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” … (QS Al Hujurat:16)


Oleh kerana itu, kita sebagai hamba Allah SWT, seharusnya terdorong untuk terus menimba ilmu. Kita sadar bahawa sebanyak mana pun ilmu yang telah kita ketahui, masih jauh lebih banyak lagi ilmu yang belum kita ketahui.

|

10. Hayat (Hidup)

Hidupnya Allah tidak ada yang menghidupkannya melainkan hidup dengan zat-Nya sendiri kerana Allah Maha Sempurna, berbeza dengan makhluk yang diciptakan-Nya.

Sifat mustahil-Nya adalah Mautun yang ertinya mati.

Contohnya, manusia seperti kita ada yang menghidupkan. Selain itu, kita semua juga memerlukan untuk makanan, minuman, istirehat, tidur, dan sebagainya. Akan tetapi, hidupnya Allah SWT tidak memerlukan semua itu. Allah SWT hidup selama-lamanya, tidak mengalami kematian bahkan mengantuk pun tidak.

Firman Allah SWT :

”…Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur” … (QS Al Baqarah: 255)


Allah SWT selalu mengurus dan mengawasi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh kerana itu, hendaknya kita selalu berhati-hati dalam segala tindakan kerana gerak geri kita sentiasa diawasi  dan dicatat Allah SWT. Kelak di akhirat seluruh amalan tersebut akan ditanya dan dipertanggung jawabkan.

|

11. Sama’ (Mendengar)

Pendengaran Allah SWT berbeza dengan pendengaran makhluk–Nya kerana tidak terhalang oleh suatu apapun, sedangkan pendengaran makhluk-Nya dibatasi ruang dan waktu.

Sifat mustahil-Nnya adalah Summun ertinya tuli (tidak mendengar).

Allah SWT mustahil bersifat tuli (tidak mendengar) sebab sekiranya Allah SWT tidak mendengar pasti segala permohonan dan pernyataan syukur hamba-Nya tidak akan diterima-Nya.

Selain itu penghinaan orang kafir, orang musyrik, orang munafiq, dan lain sebagainya tidak dihiraukan-Nya dan tidak memberi sebarang kesan. Oleh kerana itu Allah SWT tetap bersifat sama’ mustahil bersifat summun .

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Al Maidah berikut.

”Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” …(QS Al Maidah :76)


Sebagai seorang muslim seharusnya kita senantiasa bertingkah laku, bersikap, dan berbicara dengan bahasa yang sopan santun dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik lagi bermanfaat. Kerana Allah SWT pasti mendengar segala perkataan manusia, baik terucap di mulut mahu pun di dalam hati.

|

12. Basar (Melihat)

Allah SWT melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta ini . penglihatan Allah bersifat mutlak, artinya tidak dibatasi oleh jarak( jauh atau dekat) dan tidak dapat dihalangi oleh dinding (tipis atau tebal). Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, kecil maupun besar, tampak atau tidak tampak, pasti semuanya terlihat oleh Allah SWT.

Sifat mustahil-Nya adalah Umyun,  ertinya buta. 

Allah SWT wajib bersifat kesempurnaan. Seandainya Allah SWT itu buta pasti alam semesta ini tidak akan ada kerana Allah SWT tidak dapat melihat apa yang diciptakanNya.

Firman Allah SWT sebagai berikut.

”… Dan Allah maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” … (al-Baqarah: 265)


Dengan memahami sifat besar Allah SWT hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berbuat sesuatu. Mungkin kita boleh berbohong kepada manusia, seperti orang tua, guru, atau teman. Akan tetapi kita tidak akan mampu berbohong kepada Allah SWT.

Oleh kerana itu, berbuat baiklah supaya kita tidak perlu cemas jika kita harus dipertanggung jawabkan amalan kita kelak di akhirat.

|

13. Kalam (Berbicara / Berfirman)

Allah SWT bersifat kalam ertinya Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. 

Pembicaraan Allah SWT tentu tidak sama dengan pembicaraan manusia kerana Allah SWT tidak menggunakan panca indera seperti lidah dan mulut yang dimiliki oleh manusia.

Allah SWT berbicara tanpa menggunkan alat bantu yang berbentuk apa pun sebab sifat kalam Allah SWT sangat sempurna. Sebagai bukti bahawa adanya wahyu Allah SWT berupa Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.

Sifat mustahi-Nya adalah :  Bukmun, artinya Bisu.

Allah SWT mustahil bersifat bisu. Seandainya Allah SWT bersifat bisu mana mungkin para utusan-Nya boleh mengerti maksud wahyu yang diturunkan, baik dalam bentuk perintah maupun larangan.

Padahal kenyataannya semua itu tidak mungkin terjadi. Firman Allah SWT:

”…Dan Allah berkata kepada Musa dengan satu perkataan yang jelas”

(QS AnNisa’ :164)

Oleh kerana itu kita sebagai hamba Allah SWT hendaknya membiasakan diri  kita untuk mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah, ertinya kata-kata yang mulia, seperti ketika kita berbuat salah, maka segeralah membaca istighfar.

Apabila kita menerima nikmat, maka segeralah mengucapkan hamdalah. Selain itu, kita juga harus membiasakan diri bertutur kata yang lemah lembut dan sopan santun dengan sesama manusia.


|

14. Kaunuhu Qadirun (Keadaan Allah SWT yang berkuasa Mengadakan dan Mentiadakan)

Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala,
tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada
sifat Qudrat. Sifat Allah ini berrrti Allah adalah zat yang Maha Berkuasa.

Allah tidak lemah, Dia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaanNya.

Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu

(QS. Al Baqarah :20).


|

15. Kaunuhu Muridun (Keadaan Allah SWT yang Mengkehendaki dan Menentukan setiap sesuatu)

Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala,
tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, iaitu lain daripada
sifat Iradat.

Allah memiliki sifat Muridun, iaitu sebagai zat Yang Maha Berkehendak.

.Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki“ … (QS. Hud :107)

|

16.  Kaunuhu ‘Alimun (Keadaan Allah SWT yang Mengetahui setiap sesuatu)

Edit

Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala , tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Al-Ilmu.

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu zat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi mahupun yang belum terjadi.

Allah pun dapat mengetahui isi hati dan fikiran manusia.

Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu“ … (QS. An Nisa’ :176)

.


|

17. Kaunuhu Hayyun (Keadaan Allah SWT yang Hidup)

Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Hayat.

Allah adalah zat Yang Hidup.

Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

“Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati“ 

(QS. Al Furqon :58)


|

18. Kaunuhu Sami’un (Keadaan Allah yang Mendengar setiap sesuatu)

Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, iaitu lain daripada sifat Sama’.

Allah adalah zat Yang Maha Mendengar.

Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.

Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui“ … (QS. Al Baqoroh :256).


|

19. Kaunuhu Basirun (Keadaan Allah SWT yang Maha Mendengar setiap sesuatu)

Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Bashar.

Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia.

Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh kerana itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.

Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan“ … (QS. Al Hujurat :18)


|

20. Kaunuhu Mutakallimun (Keadaan Allah SWT yang Berkata-kata)

Edit

Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata.

Hakikatnya iaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , iaitu lain daripada sifat Qudrat.

Sifat Allah ini bererti Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran.

Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah SWT.

|.

D.   Hikmah Beriman kepada Allah SWT

Meyakini kepada Allah SWT dengan sifat-sifat-Nya akan memberikan

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget